Penulis : Aurelia Az Zahra Salsabillah
Editor : Cahya Anggraeni

BANYUWANGI, Sudut Nalar β Di antara kemeriahan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW atau yang dikenal warga lokal sebagai perayaan Mulutan, ada satu pemandangan khas yang menarik perhatian, yaitu gedebog pisang yang ditancapi ratusan tangkai bambu yang dihiasi bunga kertas warna-warni dan telur rebus. Itulah Kembang Endog, tradisi khas masyarakat Osing dan warga Banyuwangi yang diwariskan secara turun-temurun.
Kesibukan merangkai tradisi ini biasanya sudah terlihat sejak pagi hari di halaman rumah warga Dusun Palurejo. Jemari anak-anak dan kaum ibu tampak telaten melipat kertas krep warna-warni, lalu menyusunnya hingga menjadi kuntum bunga yang membungkus sebutir telur rebus.

βPaling seru pas nempel kembangnya ke bambu ini, Nduk. Tapi harus hati-hati biar telurnya enggak lepas,β ujar Ningrum seraya dengan telaten menancapkan tangkai bunga berisi telur rebus ke gedebog pisang di teras rumahnya.
Tak hanya telur, warga di Palurejo juga kerap menambahkan gantungan jajanan anak-anak hingga lembaran uang kertas di antara ranting-ranting bambu tersebut.
βBiar anak-anak tambah semangat ikut pawai dan ke masjid. Telur sama jajanannya nanti dibagikan, jadi semuanya bisa ikut merasakan syukuran Mulutan,β sahut Lupita yang turut menyiapkan gedebog pisang.
Lupita juga menuturkan, sebutir telur dalam Kembang Endog menyimpan makna spiritual, yakni cangkang (syariat) melambangkan hukum lahiriah, putih telur (thariqat) menggambarkan perjalanan menyucikan jiwa, dan kuning telur (hakikat) melambangkan puncak kebenaran serta ketauhidan.
Sementara itu, gedebog pisang yang menjadi penopangnya melambangkan kebermanfaatan hidup. Pohon pisang tak akan mati sebelum membuahkan hasil. Setiap bagiannya, daun, buah, hingga gedebognya, bermanfaat bagi manusia.
Setelah Kembang Endog tuntas dirangkai, gedebog pisang dibawa ke masjid setempat. Di sana, warga berkumpul untuk mengikuti serangkaian acara peringatan Maulid Nabi, mulai dari pembacaan risalah hingga gema selawat bersama. Usai kegiatan di masjid selesai, Kembang Endog diarak keliling kampung dalam suasana penuh sukacita. Puncaknya, Kembang Endog beserta jajanan yang tergantung di dalamnya dibagikan kepada warga dan anak-anak.
Di tengah gempuran modernisasi, tradisi Kembang Endog terbukti tetap lestari, bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebagai media pendidikan karakter dan sarana mempererat silaturahmi.
