Penulis Berita : Amalinda
Editor Berita : Assifa Sahra Isna Niansyah
Jumat, 11 September 2026, 19:40

BREBES – Cici Ellawati, atau yang lebih dikenal sebagai Ella Batik, telah menekuni usaha batik tulis selama lebih dari 20 tahun. Delapan tahun terakhir, ia menjalankan usaha mandiri di Salem, Brebes, Jawa Tengah dengan mengandalkan motif khas bawang merah dan mangrove sebagai identitas batik Salem. Minat pemesanan batik tulisnya tinggi, bahkan banyak datang dari pejabat dan instansi pemerintahan.
Ella mengaku tertarik membatik karena warisan keluarga. “Orang tua dan saudara juga suka membatik. Awalnya belajar sedikit-sedikit, iseng-iseng, ternyata jadi hobi yang menghasilkan,” ujarnya. Kegiatan membatik ia tekuni sebagai tambahan penghasilan sebagai ibu rumah tangga.
Menurut Ella, salah satu hal yang menyenangkan sebagai pengrajin batik adalah memiliki banyak relasi dan pelanggan. “Sukanya banyak relasi, banyak yang order. Kalau ada bazar, saya suka ikut,” katanya. Namun, ia juga mengakui ada saat jenuh dan pegal karena pekerjaan membatik menuntut ketelitian dan ketahanan fisik.
Ciri khas batik Salem buatan Ella adalah motif bawang merah dan mangrove yang menjadi ikon Brebes. Dalam proses, ia menggunakan bahan kimia karena pewarna alami sulit diperoleh. “Bahan alami susah didapat, jadi kami pakai pewarna kimia,” jelasnya.
Minat masyarakat terhadap batik Salem, kata Ella, masih cukup tinggi. Pelanggannya tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga pejabat dan instansi pemerintah. “Banyak yang order dari bupati dan dewan. Kalau tetangga jarang, paling kalau ada acara nikahan,” tuturnya.
Dalam proses produksi, Ella menggunakan alat dan bahan untuk membatik seperti kain mori, canting, malam (lilin), gawangan, serta pewarna soda nila. Untuk proses penglorodan atau pelorodan lilin, ia menggunakan kompor, panci besar, bak besar, dan gawangan serta gantungan.
Dari segi ekonomi, usaha Ella Batik cukup menjanjikan. “Sehari pemasukan bisa lebih dari Rp100.000 di luar modal. Laba yang didapat bisa dua kali lipat dari modal awal,” ungkapnya. Untuk mengantisipasi banyaknya pesanan, kini Ella telah memiliki karyawan. Namun, ketika pesanan sedikit, ia akan tetap mengerjakan proses membatik sendiri.
Kenaikan harga bahan baku dan persaingan dengan pengrajin lain menjadi tantangan utama yang dihadapi Ella. Meski demikian, ia tidak terlalu khawatir karena telah memiliki pelanggan tetap. “Karena sudah punya pelanggan tetap, tidak terlalu khawatir dengan persaingan,” ujarnya.
Pemerintah daerah turut berperan dalam melestarikan UMKM batik Salem melalui berbagai kegiatan seperti bazar dan pelatihan membatik. “Pemerintah membantu dengan mengadakan bazar dan stand pelatihan,” kata Ella.
Di tengah gempuran gaya berpakaian kebarat-baratan, Ella berharap batik tulis tetap lestari hingga generasi mendatang. “Semoga batik ini terjaga sampai anak cucu kita, dan batik Salem bisa terkenal hingga mancanegara,” harapnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih memilih batik tulis daripada batik printing. “Jangan sampai membeli batik printing, lebih baik batik tulis dari pengrajin,” pesannya.
Kisah Ella Batik menggambarkan bagaimana warisan budaya lokal dapat diubah menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan. Dengan dukungan pelanggan setia dan peran pemerintah, batik Salem berpotensi terus berkembang dan dikenal lebih luas.
