sudutnalar.com, 08 Oktober 2026
Oleh : Mohammad Faizal Ramadhani

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Dua kali sehari, Amir naik ke pucuk pohon kelapa, dan dua kali sehari ia turun dengan selamat. Lelaki 50 tahun itu menyebutnya rezeki, bukan prestasi.
Di rumahnya di Desa Kemutug Kidul, ia menjawab pertanyaan satu per satu, pelan, tanpa membesar-besarkan apa pun. Amir penderes, orang yang menyadap nira dari bunga kelapa, dan sudah sekitar 25 tahun ia menjalaninya.
Ia tak pernah melamar ke mana pun untuk sampai ke sana. “Awalnya ikut orang tua. Waktu masih muda sering diajak ke kebun, dari situ lama-lama belajar sendiri,” kata Amir. Kebanyakan keluarganya penderes juga, jadi memanjat kelapa lebih mirip bahasa ibu daripada pilihan karier.
Ketika ditanya kenapa memilih jalan itu, jawabannya tak berbelit. “Ya karena dari dulu memang itu pekerjaan yang saya tahu,” ujarnya. Tak ada kisah pergulatan memilih di sana, hanya satu pekerjaan yang ia kuasai dan bisa menanggung dapurnya. “Pekerjaan ini yang bisa saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”
Kebun tempatnya bekerja berhawa sejuk. Tapi udara sejuk tak meringankan hari kerjanya. Pagi, ia berangkat ke kebun, naik untuk mengambil nira yang sudah tertampung di pongkor, turun, lalu pindah ke pohon berikutnya. Sore, ia naik lagi untuk mengambil nira sekaligus memasang kembali wadahnya.
Jumlah pohonnya tak tentu. Saat banyak yang bisa disadap, ia menderes 6 sampai 10 pohon. Kalau dua kali sehari ia memanjat pohon sebanyak itu, hitungannya 12 sampai 20 kali naik dalam sehari. “Karena pagi dan sore, berarti harus naik berkali-kali,” ujarnya, datar, seperti orang menyebut jarak ke warung.
Bagian tersulitnya bukan jumlah pohon. “Yang paling berat ya naik pohonnya. Apalagi kalau hujan atau pohonnya licin,” katanya. Batang yang basah tak memberi pegangan, sedangkan jaraknya ke tanah tidak berkurang hanya karena cuaca buruk. Tinggi pohon kelapa, kata Amir, lumayan. “Kalau sudah di atas, tidak boleh terburu-buru.”
Apakah ia takut? Amir tidak berpura-pura. “Takut pasti ada. Namanya juga manusia. Tapi kalau sudah biasa, kita lebih fokus sama pekerjaan. Yang penting jangan ceroboh.” Kecelakaan, katanya, adalah hal yang paling ia khawatirkan, sebab ia bekerja di atas pohon. “Sekali jatuh akibatnya bisa panjang. Makanya saya selalu berusaha hati-hati.”
Di bawah, hasilnya tampak sederhana. Nira terkumpul sedikit demi sedikit, lalu diolah menjadi gula. Melihat wadah yang terisi, Amir merasa senang, sebab dari situlah ada hasil untuk keluarga. “Kelihatannya cuma air nira sedikit-sedikit, tapi kalau dikumpulkan dan diolah bisa menjadi gula,” katanya.
Uang dari gula itu habis untuk hal-hal yang paling dasar. “Buat makan, kebutuhan rumah, sekolah anak kalau masih sekolah, dan kebutuhan lainnya,” tutur Amir.
Cukup atau tidak, itu urusan lain. Penghasilannya naik-turun mengikuti banyaknya nira dan harga gula; kadang bagus, kadang tidak. “Cukup tidak cukup harus dicukupkan,” ujarnya. “Jadi memang harus pintar mengatur pengeluaran.”
Satu hal tidak ia bungkus dengan romantisme: ia tak memaksa anaknya mewarisi pekerjaan ini. “Kalau anak punya pekerjaan lain yang lebih aman dan kehidupannya lebih baik, saya malah senang. Menjadi penderes itu tidak mudah.”
Ia sendiri melihat jumlah penderes makin menyusut dibanding dulu. Anak muda memilih pekerjaan lain, dan Amir paham alasannya. “Mungkin karena mereka melihat pekerjaan ini berat dan risikonya juga besar.”
Lalu kenapa ia bertahan? Jawabannya pendek, tanpa jeda berpikir. “Ya keluarga. Selama masih bisa bekerja dan badan masih kuat, saya jalani. Ini pekerjaan saya. Dari pekerjaan ini saya bisa menghidupi keluarga.”
Harapannya sederhana: sehat, masih bisa bekerja, harga gula bagus, keluarga hidup cukup. Lalu ia menambahkan satu kalimat yang terdengar lebih seperti doa daripada permintaan. “Kalau anak-anak bisa punya kehidupan yang lebih baik dari saya, itu sudah membuat saya senang.”
Besok pagi pongkor di pucuk kelapa itu menunggu lagi. Amir akan naik, pelan, dan anaknya, kalau harapan sang ayah terkabul, tak perlu ikut memanjat.
