Muhammad Husydardam Rajasanagara – sudutnalar.com

Luluk HF saat menyampaikan materi dalam Seminar Kepenulisan 2026 di Aula Gedung Bambang Lelono, Universitas Jenderal Soedirman, Minggu (13/9/2026). (Koleksi)
PURWOKERTO – Penulis novel Mariposa, Luluk HF, membagikan perjalanan kepenulisannya dalam Seminar Kepenulisan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia (HIMADIKSI) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Minggu (13/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Luluk tidak hanya membahas proses menulis, tetapi juga menceritakan bagaimana karya yang bermula dari media digital dapat berkembang hingga diadaptasi ke layar lebar.
Ketertarikan Luluk terhadap dunia kepenulisan telah dimulai sejak 2010. Berdasarkan materi yang disampaikannya, ia mengawali aktivitas menulis melalui Facebook Notes dan blog pada 2010–2012. Pada 2013, ia mulai mengenal Wattpad, sebelum menerbitkan novel Delov pada 2014 dan Skuel Delov pada 2015. Sejak 2016, Luluk kemudian lebih berfokus menulis melalui Wattpad.
Perjalanan tersebut terus berkembang. Novel EL diterbitkan dan diadaptasi ke film pada 2017, disusul Mariposa pada 2018 lalu 12 Cerita Glen Anggara pada 2019. Ketiga karya tersebut menjadi bagian dari perjalanan Luluk dalam membawa tulisan dari ruang digital menuju industri perfilman.
Salah satu karya yang paling dikenal adalah Mariposa. Novel yang terbit pada 2018 tersebut tercatat telah dibaca sekitar 132 juta kali di Wattpad berdasarkan sejumlah pemberitaan. Kesuksesan tersebut kemudian berlanjut ke layar lebar melalui film Mariposa yang diproduksi oleh Starvision dengan kerja sama Falcon Pictures.
Namun di balik pencapaian tersebut, perjalanan Luluk sebagai penulis tidak selalu berjalan mudah. Dalam wawancara setelah seminar, Luluk mengungkapkan bahwa dirinya juga pernah berada dalam kondisi penuh keraguan ketika menghadapi proses berkarya.
Ketika hendak memulai cerita baru, ia mengaku sempat memikirkan apakah karya tersebut akan mendapatkan respons yang baik dari pembaca. Pertanyaan seperti, “Kira-kira karyaku ini akan banyak dibaca tidak, ya?” dan “Kira-kira bakalan laku seperti Mariposa tidak, ya?” pernah muncul dalam pikirannya.
Alih-alih menunggu rasa khawatir tersebut hilang, Luluk memilih untuk tetap berjalan bersamanya. Menurutnya, menghadapi hambatan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses berkarya.
“Cara yang aku ambil adalah dengan membersamai struggle itu dan menghadapi hari bersama struggle tersebut. Kalau kita diam saja pada hambatan tersebut, kita nggak akan ke mana-mana,” ujar Luluk.
Ia kemudian menggunakan pendekatan sederhana untuk menghadapi keraguan tersebut. Luluk menantang dirinya sendiri untuk tetap berjalan selama tujuh hari dan melihat apakah keadaan akan tetap sama atau justru mulai membaik.
Bagi Luluk, bergerak menjadi bagian penting dalam menghadapi rasa cemas, sedih, takut, maupun penyesalan yang muncul selama proses berkarya. Ia menilai bahwa seseorang tidak akan mengetahui hasil dari usahanya apabila memilih berhenti sebelum mencoba.
“Kalau kita justru diam dan nggak mau menghadapi rasa hambatan tersebut, kita selamanya tidak akan ke mana-mana. Rasa cemas, sedih, takut, dan menyesal akan selalu ada apabila kita nggak mau bergerak,” tuturnya.

Luluk HF berfoto bersama peserta dan panitia Seminar Kepenulisan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Jenderal Soedirman. (Koleksi)
Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari pesan yang Luluk sampaikan kepada peserta seminar. Menurutnya, keinginan menjadi penulis perlu disertai niat, usaha, doa, dan konsistensi. Seorang penulis juga perlu berani untuk memulai, membaca lebih banyak, dan terus berlatih.
Luluk menekankan bahwa pencapaian dalam menulis tidak harus langsung berukuran besar. Proses tersebut dapat dimulai dari target sederhana, kemudian berkembang secara bertahap hingga sebuah karya diterbitkan, mendapatkan banyak pembaca, bahkan berpeluang diadaptasi menjadi film layer lebar.
“Belum mencoba, kok sudah bilang nggak bisa? Belum mencoba, kok sudah menyerah?” kata Luluk kepada peserta seminar.
Perjalanan Luluk HF menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah karya tidak hanya lahir dari hasil akhir yang terlihat oleh pembaca. Di balik karya yang berhasil mencapai jutaan pembaca dan layar lebar, terdapat proses panjang, keraguan, serta keputusan untuk tetap bergerak ketika menghadapi hambatan.
Penulis: Muhammad Husydardam Rajasanagara | Editor: Adnan Khalil Hakim

KENAPA HEBAT