
Proses memasak Serabi Mbok Sur di atas tungku tradisional di Jalan RA Wiryaatmadja, Purwokerto, Sabtu (12/9/2026). (Foto: Aziz Syaifulloh)
Purwokerto, Sudutnalar.com β Sebelum matahari terbit, warung Serabi Mbok Sur di Jalan RA Wiryaatmadja, Kedungwuluh, Purwokerto Barat, sudah ramai melayani pembeli. Warga setempat akrab menyebutnya Serabi Jalan Bank, karena lokasinya tepat di seberang Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dan tidak jauh dari Museum Bank Rakyat Indonesia. Usaha kuliner berbahan tepung beras ini sudah berjalan sejak 1960 dan kini diteruskan oleh generasi ketiga.
Mbok Sur merintis usaha ini pada tahun 1960, sebelum akhirnya diwariskan kepada anaknya, Suryono, yang menjadi generasi kedua. Di tangan Suryono, nama Serabi Mbok Sur semakin dikenal, bahkan pelanggan dari luar daerah seperti Jakarta pernah datang khusus untuk mencicipinya.
Menurut penuturan generasi ketiga yang kini meneruskan usaha, Mbok Sur sudah mulai berjualan bahkan sebelum peristiwa G30S/PKI pada 1965. βMasalah tanggal berapa mulai itu nggak pernah disengaja dipikirkan. Orang dulu orangnya simpel-simpel, nggak mencatat,β ujarnya, menjelaskan mengapa tanggal pasti berdirinya usaha ini tidak pernah tercatat. Suryono merupakan anak bungsu yang kemudian meneruskan usaha sang ibu sebagai generasi ke-2. Kini usaha diteruskan oleh putranya sebagai generasi ketiga, dengan cara memasak dan resep yang tetap dipertahankan seperti dulu.
Serabi ini masih dimasak di atas tungku tanah liat, seperti yang dilakukan Mbok Sur sejak awal usaha berdiri. Jika dulu tungku dinyalakan dengan kayu bakar, sekarang sudah diganti kompor agar proses memasak lebih cepat. Saat memarut kelapa pun kini dibantu mesin, sehingga tidak lagi menguras banyak tenaga seperti sebelumnya. Kebersihan tetap dijaga selama proses produksi. Takaran ampas kelapa pada adonan juga tidak dibuat berlebihan, supaya cita rasanya tetap terjaga. Berkat proses tersebut, serabi ini diklaim bisa bertahan hingga 24 jam tanpa bahan pengawet, meski akan lebih cepat basi jika terkena air.
Ada dua varian andalan yang ditawarkan, yaitu original manis berwarna merah putih dan putihan yang gurih. Untuk mengikuti selera pembeli yang lebih beragam, kini tersedia pula tambahan topping seperti meses dan keju yang menarik minat pembeli muda.
Salah satu pembeli, Rahmawati Rahayu, mengaku sudah lama menjadi langganan lapak ini. Menurutnya, gurihnya kelapa pada serabi ini punya ciri khas tersendiri yang tidak berubah dari dulu. βGurih kelapanya itu khas banget, dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah,β ujarnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (12/9/2026).
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 04.00 hingga sekitar pukul 10.00 WIB, meski sering kali dagangan sudah habis sebelum jam tersebut. Berdasarkan keterangan sebelumnya, omset penjualan bahkan bisa mencapai jutaan rupiah pada akhir pekan, yaitu Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Soal harga, Serabi Mbok Sur mengalami kenaikan dibanding beberapa tahun lalu. Pada 2023, harga satu potong serabi original masih Rp2.500, sementara sekarang naik menjadi Rp3.000 per potong untuk varian original atau putihan, dan Rp4.500 per potong untuk varian dengan topping meses atau keju. Meski harganya bertambah, Serabi Mbok Sur tetap mempertahankan cara pembuatan dan cita rasa yang sama seperti sedia kala, walau pengelolanya sudah berganti tiga kali sepanjang enam dekade terakhir.
Meski harganya sudah naik, Rahmawati Rahayu mengaku tetap menjadi pelanggan setia. βNaik harga nggak masalah, yang penting rasanya tetap sama,β katanya.
Penulis: Aziz Syaifulloh; Editor: Bagus Windu Aji
