Oleh – Adelia Rahma Wati
Editor – Nazzila Juny Month
Jumat, 11 September 2026 │ 15:28 WIB
SUDUTNALAR.COM, PURBALINGGA — Bagi para pemburu kuliner segar di Kabupaten Purbalingga, segelas es tradisional yang ikonis hadir menawarkan sensasi rasa yang memanjakan lidah. Purwanto (56), secara konsisten mempertahankan keaslian bahan baku alami tanpa pemanis dan pewarna buatan selama hampir 26 tahun melalui gerobak dorong Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara. Pria kelahiran 1970 ini mangkal setiap hari mulai pukul 10.30 hingga 16.00 WIB di lokasi yang sangat mudah ditemukan, yaitu di seberang Toko BATA, Jalan Jenderal Sudirman, Purbalingga Lor. Dengan harga yang sangat ramah kantong, cukup Rp6.000 per porsi, kesegaran legendaris ini juga siap melayani pesanan katering berskala besar untuk memeriahkan acara pernikahan maupun khitanan.

Potret gerobak dorong Es Dawet Ayu Asli Banjarnegara milik Pak Purwanto yang berlokasi strategis di seberang Toko BATA, Jalan Jenderal Sudirman, Purbalingga Lor, Kabupaten Purbalingga, Jumat (11/9/2026). (Foto: Adelia Rahma Wati)
Resep awal dawet ini didapat Pak Pur dengan belajar dari pamannya yang berasal dari Banjarnegara. Namun, Pak Pur melakukan inovasi dengan memangkas durasi perebusan cendol dari dua jam menjadi kurang lebih setengah jam. Percobaan tersebut berhasil menghasilkan cendol yang matang dengan baik dan bisa bertahan selama dua hari jika disimpan pada suhu dingin. Pak Pur mengakui rebusan pamannya membuat cendol lebih tanak (matang sempurna), namun baginya cara ini lebih efisien untuk membagi waktu persiapan dagang. Mengenai efisiensi waktu kerja tersebut, Pak Pur menjelaskan, “Kalau satu jam saja sudah jadi ya tinggal diplotot (ditekan), tinggal dipres (ditekan sampai adonan keluar). Satu jam bisa untuk marut (memarut), ya kan? Kalau kita mau itu loh bagi-bagi waktu loh ya, bisa untuk marut, untuk nutuki (memecahkan) es.”
Ia juga menambahkan edukasi berharga agar pembeli paham isi dari mangkuk yang akan mereka santap. “Cendol dan dawet itu beda. Cendol yang hijau-hijaunya saja, sedangkan dawet ada cendol, santan, gula, dan es batu,” terangnya.

Aksi Pak Purwanto saat meracik komponen es dawet secara manual di atas gerobak dagangnya demi melayani pesanan pelanggan, Jumat (11/9/2026). (Foto: Adelia Rahma Wati)
Keunikan Dawet Ayu Pak Pur bertumpu pada formula cendol campuran yang memadukan tepung beras, sedikit tapioka, dan tepung sagu atau gelang. Kombinasi ini menghasilkan tekstur cendol yang ideal, layaknya bubur yang lembut di dalam tetapi tetap berbentuk padat di bagian luar. Sebagai resep rahasia tradisional agar bulir cendol tidak mudah hancur saat diguyur air, ia menyelipkan sedikit kapur sirih sewaktu menumbuk daun pandan asli sebagai ekstrak warna hijau alami.
Kelapa yang digunakan untuk membuat santan pun melalui proses seleksi. Pak Pur melihat warna kulit ari dan sabut kelapa untuk memastikan santan yang dihasilkan memiliki aroma yang khas dan rasa yang enak ketika dinikmati. Demi menyiasati santan murni tanpa pengawet yang rentan basi, Pak Pur memerasnya sekental mungkin lalu mencampurnya dengan sebongkah es batu besar. Trik suhu dingin ini menjaga santan awet dari pagi hingga sore, sekaligus memberikan tekstur gurih yang terasa pekat dan “berisi” saat di mulut, tidak encer ringan seperti air biasa. Rasa manisnya kian legit menggunakan lelehan gula jawa asli yang kerap dipadukan dengan campuran potongan buah nangka kecil-kecil apabila buah tersebut sedang tersedia di pasar.

Potret jarak dekat segelas Es Dawet Ayu racikan Pak Purwanto yang memperlihatkan dengan jelas tiga lapisan bahan alami: lelehan gula jawa pekat di dasar, bulir cendol hijau, serta perasan santan kental, Jumat (11/9/2026). (Foto: Adelia Rahma Wati)
Jaminan keaslian rasa tanpa zat kimia buatan inilah yang membuat Es Dawet Ayu Pak Pur selalu dirindukan dan wajib dicoba oleh siapa saja yang berkunjung ke Purbalingga. Arman (39), seorang pembeli yang telah satu tahun setia berlangganan, memberikan jaminan kepuasan bahwa hijau segar cendolnya terlihat jauh lebih orisinal dan sehat.
“Rasa dawet ayu di sini rasanya beda karena bahannya asli alami, enggak ada campurannya. Semuanya bahannya alami. Cendolnya enggak terlalu mencolok atau terlalu berwarna, enggak ada pewarna buatan, pewarnanya alami,” pungkas Arman dengan antusias.
