Penulis : Zulfa Izaz Mudasir | 6 Oktober 2026

CILACAP, SudutNalar – Di depan saf, Imam Bukhari memimpin jamaah menghadap Allah. Dalam tahlilan dan yasinan, ia duduk bersama warga, menuntun bacaan dan doa. Kedua peran itu mempertemukan ibadah dengan kehidupan bertetangga: hubungan dengan Tuhan yang perlu diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama.
Bukhari merupakan imam Masjid Sabilul Janah di Desa Doplang, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Selain memimpin salat, ia juga memimpin tahlilan dan yasinan warga. Melalui kegiatan tersebut, nasihat agama memperoleh tempat dalam persoalan sehari-hari.
“Allah memerintahkan dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2 agar kita saling menolong dalam kebajikan dan takwa. Maka, setelah beribadah, perhatikan sekitar. Jangan sampai kita mengetahui tetangga sedang kesulitan, tetapi tidak tergerak membantu,” tuturnya.
Pesan itu dapat dimulai dari tindakan sederhana: mengetuk pintu tetangga yang sakit, mengantarkan makanan, atau menyediakan waktu untuk mendengarkan. Bagi seseorang yang sedang kesulitan, bantuan kecil dapat berarti ada orang yang masih memperhatikan keadaannya.
“Jangan menunggu kaya untuk berbuat baik. Kalau belum bisa membantu dengan uang, bantulah dengan tenaga. Kalau punya ilmu, bagikan. Allah mengetahui kebaikan yang mungkin dianggap kecil oleh manusia,” ujar Bukhari.
Ia merujuk Surah Az-Zalzalah ayat 7, yang menerangkan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihat balasannya. Nasihat tersebut memberi ruang bagi setiap orang untuk mengambil bagian sesuai kemampuan.
Dalam tahlilan yang berkaitan dengan meninggalnya seseorang, kepedulian hadir melalui kesediaan menemani keluarga yang berduka. Warga duduk bersama, mengikuti bacaan, dan mengaminkan doa. Kehadiran mereka menjadi dukungan ketika kata-kata belum mampu meredakan kehilangan.
Namun, perhatian masih dibutuhkan setelah pertemuan selesai.
“Ketika tamu pulang, keluarga itu masih menghadapi kesedihannya. Sesekali datanglah kembali, tanyakan kabarnya. Jangan sampai kebersamaan kita selesai bersamaan dengan selesainya acara,” katanya.
Ada makna persaudaraan dalam pesan tersebut. Menanyakan kabar beberapa hari kemudian, menawarkan bantuan, atau mendengarkan cerita keluarga menjadi cara menjaga hubungan. Doa diteruskan melalui perhatian yang dapat mereka rasakan.
Tanggung jawab yang sama ia tujukan kepada dirinya sebagai imam. Berdiri di depan jamaah berarti menjaga bacaan, memperdalam pengetahuan, dan bersedia menerima koreksi.
“Menjadi imam bukan berarti saya paling baik. Nasihat yang saya sampaikan harus terlebih dahulu menjadi pengingat bagi diri sendiri. Jangan sampai saya mengajak orang berbuat baik, tetapi saya sendiri enggan melakukannya,” tuturnya.

Bukhari mengaitkan hal itu dengan Surah As-Saff ayat 2–3, yang mengingatkan manusia agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya. Kepercayaan jamaah perlu dijaga melalui kesungguhan menyelaraskan perkataan dan perbuatan.
Keteladanan juga diperlukan ketika mendampingi generasi muda. Bukhari berharap mereka memperoleh kesempatan untuk belajar dan terlibat dalam kegiatan keagamaan tanpa dibebani tuntutan langsung mampu.
“Anak muda jangan menunggu sempurna untuk datang ke masjid. Datanglah untuk belajar. Kami yang lebih tua harus membimbing dengan sabar, supaya mereka berani bertanya dan mau kembali,” ujarnya.
Keterlibatan dapat dimulai dengan membantu menyiapkan tempat, mengikuti bacaan, lalu perlahan belajar memimpin. Kesempatan yang diberikan hari ini dapat menumbuhkan orang-orang yang kelak meneruskan tanggung jawab bersama.
Dari Masjid Sabilul Janah hingga tahlilan dan yasinan warga, pengabdian Bukhari membawa pesan tentang ibadah yang membekas dalam keseharian. Pengetahuan menjadi manfaat ketika dibagikan; persaudaraan menjadi nyata ketika seseorang bersedia hadir.
Selepas salam, masih ada tetangga yang menunggu disapa, kesulitan yang membutuhkan bantuan, dan kesedihan yang perlu ditemani. Di sanalah nasihat menemukan bentuknya, melalui tindakan yang mungkin sederhana tetapi berarti bagi penerimanya.
Dari sajadah, kepedulian itu semestinya ikut pulang.
