Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Tenggelam dalam Dunia Virtual: Rizqi Memburu Imajinasi di Ruang Digital

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by zulfa izaz
(Sumber: Dok. Kamila & Dok. Sediksi.com)

BANYUMAS, SudutNalar — Sepulang sekolah, Rizqi, anak kelas 5 SD bergegas mengganti bajunya untuk bermain bersama temannya. Namun, bukan lapangan kampung atau teman-teman di luar rumah yang ia cari. Anak sepuluh tahun itu langsung meraih gawai di genggaman.

Aktivitas bermain zaman sekarang telah bergeser ke dalam ruang virtual. Untuk memulai main bareng (mabar), Rizqi dan teman-temannya di desa Dawuhan Wetan berkomunikasi secara digital. 

“Biasanya kirim pesan WA (WhatsApp) dulu sama teman buat menentukan jamnya, baru nanti memulai game, terkadang teman datang ke rumah.” kata Rizqi.

Permainan tradisional bukan hilang dari kehidupan Rizqi. Ia mengaku masih kerap bermain petak umpet, namun intensitasnya sudah jauh berkurang dan hanya dilakukan di sela-sela waktu luang tertentu. 

“Masih sering main petak umpet, tapi biasanya di sekolah saat istirahat atau di tempat ngaji sebelum mulai,” tambahnya.

Saat ditanya, mengapa gawai terasa jauh lebih memikat dibanding luasnya lapangan, Rizqi memberikan jawaban jujur.

 “Lebih seru main HP daripada permainan langsung. Karena di HP bisa mengatur game sesuai imajinasi sendiri. Kalau di dunia nyata kan tidak bisa terbang, sedangkan kalau di game, seolah-olah saya bisa terbang dengan.” tutur Rizqi.

Dunia digital yang menawarkan imajinasi tanpa batas ini membuat Rizqi lebih memilih mengurung diri.  “Main HP lebih betah di dalam rumah karena lebih asyik. Kalau di luar rumah, banyak suara yang mengganggu saat main game, padahal main game itu perlu fokus,” jelasnya.

Keterikatan Rizqi pada gawai ini diakui ibunya, Amana, mulai mengganggu aktivitas penting sehari-hari, terutama saat makan dan belajar. Fokus sang anak dengan mudah tersedot kembali ke dalam layar.

“Kalau disuruh makan jadinya lama sekali, karena makannya harus sambil memegang HP dan nonton YouTube. Begitu juga kalau disuruh belajar, dia maunya sebentar saja dan ingin cepat-cepat selesai karena pikirannya cuma mau main HP lagi,” keluh Amana. 

Rizqi pun tidak menampik hal tersebut, “Kalau makan saya biasanya memang sambil nonton YouTube.” 

Kebiasaan menatap layar berjam-jam ini ternyata membawa emosi di dalam rumah. Amana menceritakan bahwa pembatasan waktu bermain gawai kerap memicu konflik batin pada anaknya. 

Rizqi sendiri mengakui adanya gejolak emosi tersebut. “Perasaannya sebal kalau HP diminta Ibu. Tapi karena tahu itu demi kebaikan, akhirnya saya nurut,” ungkap Rizqi.

Namun, Amana tahu betul bahwa Rizqi pada dasarnya adalah anak yang sangat aktif dan tidak bisa diam. Saat gawainya disita, energi besarnya sering kali disalurkan ke aktivitas lain yang tak terduga, karena kebingungan.

Demi mengalihkan energi berlebih tersebut dari jeratan layar, Amana tidak tinggal diam. Pada hari-hari tanpa gawai, ia secara sadar menciptakan aktivitas alternatif. 

“Saya sering mengajak dia membuat cemilan bersama di dapur. Kalau bosan di rumah, saya ajak dia keluar untuk sekadar jajan atau jalan-jalan ke taman bermain,” tutur Amana tersenyum hangat.

Melihat realitas ini, kita mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, apakah teknologi yang hadir untuk mendekatkan yang jauh, justru sedang perlahan merampas kehangatan dan masa kecil anak-anak kita? Kisah Rizqi adalah alarm sunyi bagi setiap orang tua. 

Anak-anak tidak hanya membutuhkan layar yang menyala untuk tetap tenang, mereka membutuhkan ruang sosial yang nyata, pelukan hangat, dan bimbingan orang tua.

Kondisi yang dialami keluarga Amana mencerminkan realitas generasi Alpha secara masif di era digital. 

Layar gawai dapat memberikan ketenangan sesaat bagi anak yang aktif dan ruang bagi imajinasi mereka. Namun, harus dibayar mahal dengan pudarnya fokus belajar, luapan emosi, dan hilangnya kebiasaan bermain di alam terbuka.

Rizqi mungkin bisa terbang tinggi menembus langit di dalam dunia digitalnya, namun di dunia nyata, ia sedang kehilangan hari-hari berharga dari masa kecilnya.

Penulis: Zulfa Kamila Oktafiani 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme