Zidan Diyaaul Haq
sudutnalar.com, 8 Oktober 2026


Salah satu pengrajin dan hasil kerajinan bambu dari Kemutug Kidul, Baturraden. (Foto : Dok Pribadi Solih)
BANYUMAS, SudutNalar – Di tengah perubahan zaman, kerajinan bambu di Desa Kemutug Kidul masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Namun, keberadaannya kini menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Bahan baku yang semakin sulit didapat, pemasaran yang menjadi kendala, hingga minimnya minat generasi muda membuat keberlangsungan kerajinan bambu berada di persimpangan. Di antara para pengrajin yang masih bertahan, ada Solih Arifin (27), generasi muda yang sejak 2012 memilih menekuni kerajinan bambu sebagai jalan hidupnya.
Solih mengenal kerajinan bambu bukan dari pendidikan formal, melainkan dari lingkungan keluarganya sendiri. Seorang saudara menjadi orang pertama yang mengenalkannya pada keterampilan tersebut. Dari sana, rasa ingin tahunya tumbuh. Ia terus belajar untuk menambah pengetahuan dan kemampuannya dalam mengolah bambu menjadi berbagai produk.
“Saya menekuni pekerjaan ini dari tahun 2012 dan awal saya belajar kerajinan ini dari saudara saya sendiri,” ujar Solih.
Bagi Solih, belajar menjadi pengrajin bukan sekadar menguasai cara membuat sebuah produk. Proses tersebut juga membentuk ketelitian dan konsistensinya. Salah satu pengalaman yang paling membekas justru datang dari pelanggan. Keluhan dari pelanggan menjadi bahan evaluasi bagi Solih. Alih-alih menjadikannya alasan untuk berhenti, pengalaman tersebut membuatnya berusaha lebih teliti dalam mengerjakan setiap kerajinan. Ia menyadari bahwa kepuasan pelanggan menjadi bagian penting dari keberlangsungan usahanya.
“Komplenan pelanggan dari komplenan itu yang membuat saya lebih konsisten dalam mengerjakan atau membuat kerajinan bambu dengan teliti atau harus sebisa mungkin maksimal dalam mengerjakan kerajinan itu,” katanya.
Perjalanan sebagai pengrajin tidak selalu berjalan mulus. Seperti usaha lainnya, Solih dan para pengrajin di Kemutug Kidul juga menghadapi masa-masa sulit. Salah satu persoalan yang kini dirasakan adalah pemasaran. Selain itu, bahan baku bambu yang semakin lama semakin habis juga menjadi tantangan tersendiri.

Persoalan semakin terasa ketika harga bahan meningkat, sementara pembeli masih menginginkan produk dengan harga rendah. Kondisi tersebut membuat sebagian pengrajin mempertimbangkan usaha lain yang dianggap lebih menjanjikan.
“Itu pernah dialami semua pengrajin di sini karena dari harga bahan sekarang mahal tapi pembeli minta dengan harga rendah jadi banyak yang berpikir buat memilih usaha lain,” tutur Solih.
Meski demikian, Solih memilih melihat keadaan tersebut sebagai bagian dari perjalanan sebuah usaha. Baginya, tidak selamanya usaha berada dalam kondisi yang sama. Di tengah persoalan tersebut, ada kekhawatiran lain yang lebih besar: regenerasi. Menurut Solih, saat ini tidak ada anak-anak muda di sekitar Kemutug Kidul yang terlihat berminat meneruskan kerajinan bambu. Ia melihat kemungkinan bahwa generasi muda memang tidak lagi tertarik dengan pekerjaan tersebut. Kondisi itu bukan sekadar persoalan berkurangnya jumlah pengrajin. Jika tidak ada penerus, identitas Kemutug Kidul yang selama ini dikenal dengan kerajinan bambunya juga dikhawatirkan ikut menghilang.
“Mungkin lama-kelamaan akan hilang ikon Kemutug Kidul yang terkenal dengan pengrajin bambu,” kata Solih.
Namun, di balik berbagai tantangan tersebut, Solih memiliki alasan kuat untuk tetap bertahan. Kerajinan bambu telah menjadi pekerjaan yang membantunya memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan latar belakang pendidikan yang tidak tinggi, kemampuan yang ia miliki sebagai pengrajin menjadi sesuatu yang ia banggakan.
“Yang membuat bangga selama menjadi pengrajin bambu itu bisa menghidupi keluarga dari pekerjaan tersebut karena saya sekolah saya nggak tinggi, jadi mungkin itu kebanggaan tersendiri buat saya,” ujarnya.
Kalimat itu menunjukkan bahwa bagi Solih, bambu bukan sekadar bahan yang diolah menjadi furnitur atau produk dekoratif. Kerajinan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupannya sekaligus sumber penghidupan bagi keluarga. Kini, harapan Solih tidak muluk. Ia ingin para pengrajin terus belajar dan berkembang agar kerajinan bambu di Kemutug Kidul tetap memiliki masa depan.
“Harapan saya itu semua pengrajin mau terus belajar dan makin maju aja,” ucapnya.
Bagi Solih, bertahan sebagai pengrajin bambu berarti mempertahankan pekerjaan yang telah menghidupi keluarganya. Namun, di balik ketekunan itu tersimpan persoalan yang lebih besar: siapa yang akan meneruskan kerajinan tersebut ketika para pengrajin hari ini tidak lagi mampu bekerja? Bambu mungkin dapat tumbuh kembali, tetapi sebuah keterampilan tidak akan bertahan tanpa tangan yang mau mempelajarinya. Bagi Solih, mempertahankan kerajinan bambu bukan hanya tentang terus membuat sebuah produk, melainkan tentang menjaga agar Kemutug Kidul tidak kehilangan salah satu identitas yang telah melekat padanya.
Penulis : Zidan Diyaaul Haq
Editor : Aditya Khairi Fahriza
