
Purwokerto, SudutNalar — Tidak semua perjalanan menuju cita-cita dimulai dengan keyakinan penuh. Ada yang berawal dari pilihan yang tidak direncanakan, kesempatan yang datang tiba-tiba, hingga keberanian untuk menempuh jalan berbeda dari yang semula dibayangkan. Begitulah perjalanan Keyzia Faninda Putri, mahasiswi Program Studi Produksi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang menemukan jalannya di dunia perfilman setelah menempuh pendidikan di bidang rekayasa perangkat lunak.
Perempuan yang akrab disapa Keyzia itu tumbuh di Susukan, Banjarnegara. Sejak kecil, ia terbiasa dengan tuntutan untuk berprestasi di bidang akademik. Waktu bermain bukanlah prioritas utama. Kesehariannya diisi dengan belajar dan mengaji, sementara bermain hanya menjadi kegiatan sesekali. Ayahnya bekerja di bidang teknik sipil dan merantau, sedangkan ibunya yang dahulu menjadi ibu rumah tangga kini bekerja sebagai karyawan swasta.
Pola didikan keluarganya membentuk Keyzia menjadi pribadi yang terbiasa menjalani tanggung jawab. Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana awal. Ia yang dahulu menyukai sains dan matematika justru menemukan minat baru yang membawanya ke dunia kreatif.
Ketertarikannya terhadap film tidak bermula dari sebuah tontonan yang membuatnya jatuh cinta. Semuanya berawal ketika ia mengikuti ekstrakurikuler sinematografi di SMK Al Fatah Banjarnegara. Kesempatan mengikuti lokakarya penulisan skenario pelajar melalui Festival Film Purbalingga kemudian menjadi titik penting dalam hidupnya.
Saat itu, Keyzia belum memahami banyak hal tentang industri perfilman. Ia mengikuti kegiatan tersebut sebagai perwakilan sekolah bersama seorang temannya. Dari sepuluh ide cerita yang disusunnya, lima berupa cerita fiksi dan lima lainnya dokumenter. Salah satu ide akhirnya terpilih untuk diproduksi menjadi film.

Film tersebut berjudul Bendera Sholawat, sebuah film dokumenter yang mengangkat fenomena pengibaran bendera sholawat di Banjarnegara. Karya pertamanya itu kemudian memperoleh delapan penghargaan di berbagai festival film nasional maupun internasional, berdasarkan keterangan Keyzia.
Pencapaian tersebut menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap masa depan. Dari seorang pelajar yang menempuh pendidikan di bidang rekayasa perangkat lunak, Keyzia mulai mengenali potensi dirinya di dunia perfilman.
“Aku lebih enjoy di film dan orang-orang lebih mengenal aku di dunia film,” tuturnya.
Namun, proses pembuatan film Bendera Sholawat tidak berlangsung tanpa hambatan. Sebagai pelajar yang tinggal di lingkungan pesantren, Keyzia harus menyesuaikan proses riset dan produksi dengan aturan asrama. Kegiatan sholawat yang hendak didokumentasikannya berlangsung setelah salat Isya hingga sekitar pukul 01.00, sedangkan gerbang asrama ditutup pukul 21.00.
Keterbatasan waktu menjadi tantangan tersendiri. Ia juga harus belajar menjalankan peran sebagai sutradara, meskipun belum memiliki banyak pengalaman dalam mengarahkan sebuah film. Untuk menemukan arah cerita yang tepat, ia berkonsultasi dengan Akfilim Banjarnegara, sebuah rumah produksi yang membantunya mematangkan gagasan.
Tantangan lain muncul ketika jadwal wawancara dengan narasumber akhirnya berhasil disepakati. Di tengah persiapan yang terbatas, timnya justru lupa membawa mikrofon clip-on, sehingga kualitas suara rekaman terganggu. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang tidak mudah dilupakan.
“Jadi, banyak banget trial and errornya saat syuting itu karena masih pertama kali,” ujarnya.
Pengalaman itu mengajarkannya bahwa membuat film bukan sekadar merekam gambar dan menyusun cerita. Ada riset, koordinasi, pengambilan keputusan, serta berbagai persoalan teknis yang harus diselesaikan. Di balik sebuah karya, terdapat proses panjang yang menuntut kesabaran dan kemauan untuk terus belajar.
Meski mulai menemukan tempatnya di dunia film, keputusan melanjutkan pendidikan di ISI Yogyakarta bukanlah pilihan yang sejak awal direncanakan. Saat mendaftar perguruan tinggi melalui jalur SNBP dan SNBT, Keyzia justru memilih Teknik Sipil dan Teknik Industri. Ia bahkan baru mengenal lebih jauh ISI Yogyakarta menjelang penutupan pendaftaran SNBT.
Pilihan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan dari orang tuanya. Selama ini, Keyzia dikenal menyukai sains dan menempuh pendidikan di bidang rekayasa perangkat lunak. Karena itu, keputusan memilih kampus seni menjadi sesuatu yang tidak terduga bagi keluarganya.
Meski demikian, orang tuanya tetap memberikan dukungan. Mereka tidak menuntut Keyzia untuk selalu berada di jalur pendidikan atau profesi tertentu. Dukungan itu menjadi ruang bagi Keyzia untuk menentukan arah hidupnya sendiri, termasuk ketika ia mulai menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan di industri kreatif.
Kekhawatiran tentang pekerjaan dan keberhasilan karier sempat muncul selama kuliah. Ia menyadari bahwa dunia seni memiliki tantangan tersendiri. Akan tetapi, kekhawatiran tersebut perlahan diimbangi oleh pengalaman nyata. Saat masih menjadi mahasiswa, Keyzia telah bekerja sebagai staf administrasi keuangan di bidang makanan dan minuman serta sebagai spesialis media sosial.
Kesempatan lain datang ketika ia mengikuti program Google Student Ambassador. Awalnya, ia mendaftar setelah memperoleh informasi dari seorang teman dan merasa persyaratannya sesuai dengan kemampuannya. Dari sekitar 81.000 peserta di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, ia termasuk dalam 2.000 orang yang diterima.
Bagi Keyzia, pencapaian tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupnya. Ia memperoleh kesempatan untuk mengenal mahasiswa dari berbagai kampus, mengikuti lokakarya, dan memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan serta fitur-fitur Google kepada mahasiswa lain melalui kegiatan dan pembuatan konten.
Kini, ia ingin terus berkarya melalui film-film yang tidak hanya ditonton banyak orang, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat. Banjarnegara tetap menjadi sumber cerita yang ingin digalinya. Ia bahkan telah membawa timnya dari Yogyakarta ke daerah asalnya untuk menggarap film dokumenter baru tentang masyarakat Banjarnegara.
Baginya, daerah bukanlah batas yang menghalangi seseorang untuk berkembang. Justru dari tempat ia dibesarkan, terdapat banyak cerita yang belum banyak diangkat dan layak diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.
Pesan itu pula yang ingin disampaikan Keyzia kepada anak-anak daerah yang memiliki mimpi besar, tetapi merasa terbatas oleh keadaan. Ia mengingatkan bahwa keberanian memilih jalan hidup harus disertai tanggung jawab untuk menjalaninya.
“Jangan pernah berkecil hati, jangan pernah minder bahwa kalian itu dari kabupaten kecil atau daerah yang semuanya serba terbatas,” pesannya.
Perjalanan Keyzia belum selesai. Masih ada karya yang ingin diwujudkan, pengalaman yang ingin dikumpulkan, dan masa depan yang terus ia usahakan. Namun, satu hal telah ia buktikan: kesempatan tidak selalu datang dari rencana yang sempurna. Terkadang, kesempatan hadir ketika seseorang berani mencoba jalan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Dari Banjarnegara, Keyzia melangkah membawa cerita daerahnya ke dunia perfilman. Ia tidak sekadar mengejar cita-cita, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa tempat seseorang berasal tidak harus menentukan sejauh mana ia dapat melangkah.
Penulis: Saskia Nova
