
Foto: Sahna Naely Yazida
BANYUMAS, SudutNalar—Pukul tiga dini hari, kala Desa Laren Bumiayu masih sunyi, Afiyah sudah membuka mata. Ia tidak langsung bergegas ke dapur. Keningnya lebih dulu menyentuh sajadah, bermunajat dalam tahajud, baru kemudian kakinya melangkah menemui tumpukan tepung beras yang menanti.
Rumah itu terasa hangat. Wangi santan pandan melayang dari dapur dan menyelimuti seisi ruangan. Di sanalah, sejak sepuluh tahun silam, seorang ibu menggantungkan hidup pada jajanan tradisional bernama kembang gempol, dan dari sana buah hatinya perlahan melangkah menuju seragam tentara.
Tepung beras, tepung biasa, serta pewarna makanan ia aduk menjadi adonan. Sebagian adonan dicetak dan digulung bulat sebelum matang oleh uap, sisanya dicelup warna hingga menjelma kembang yang semarak. Santan perasan pun ia olah lewat uap untuk dijadikan kuah siraman.
“Biasanya kurang lebih seratus porsi dalam sehari dan menerima Pesanan.” ujarnya
Dagangan itu dilepas lewat penjualan online dan lapak Car Free Day setiap minggu. Satu bungkusnya dihargai Rp5.000 untuk cup kecil, Rp10.000 untuk cup besar, sedangkan kemasan berwadah daun seharga Rp15.000 lazim dijadikan buah tangan ke luar kota. Sehari berlalu, laba bersih yang tersisa sekitar Rp100.000.
Kembang gempol sendiri merupakan jajanan tradisional berbahan tepung yang disiram kuah santan. Seratus ribu rupiah mungkin hanya sekali belanja bagi sebagian orang, tetapi dari angka sederhana itulah dapur Afiyah terus mengepul.
Resep itu ia dapatkan dari Sri, perintis kembang gempol di lingkungan rumahnya, setelah ia meminta diajari.
Tahun-Tahun yang Getir
Raut wajah Afiyah berubah saat pertanyaan menyeret ingatannya ke masa silam. Sorot matanya meredup, air mata menggantung di pelupuk, nyaris jatuh.
Dahulu, keluarga kecil itu hidup sederhana. Sang suami bekerja sebagai tukang ojek pangkalan yang tidak tentu dalam pendapatannya, terkadang ia ingin sekali merantau akan tetapi melihat kondisi umur ia urungkan.
Karena kesederhanaan Afiyah dalam mendidik anak, ia sering melatih buah hatinya untuk tidak boros dalam memberi uang saku. Dalam memenuhi kebutuhan keseharian dan kebutuhan lainya ia kadang merasa kurang, akhirnya ia putar otak untuk mendapatkan tambahan penghasilan yaitu berjualan makanan kering, dikarenakan ada 2 anak yang harus dibiaya yaitu satu Mahasiswa dan satu ikut Pendidikan Tamtama.
Apa yang membuatnya sanggup bertahan? Jawabannya pendek saja: “Yang pasti untuk anak.”
Empat Kali Gagal, Satu Kali Lolos
Sang anak tumbuh patuh pada kedua orang tua. Dari bangku sekolah hingga Pendidikan Militer, ia turut membantu menjajakan dagangan ibunya. Mimpi berseragam loreng bermula dari kegiatan Paskibra di SMA Negeri 1 Bumiayu.
Pendaftaran Dikmata (Pendidikan Tamtama TNI AL) ia ikuti secara online dilanjutkan beberapa ujian secara offline. Percobaan pertama berujung gagal, begitu pula yang kedua, ketiga, keempat dan kelima Alhamdulillah dengan ridho Allah dan support penuh dari kedua orangtua ia berhasil dinyatakan lolos tahun 2022. Perjuangan itu bagi Afiyah tidak semata mata berjuang sendiri akan tetapi dibantu juga oleh anak pertamanya yang sudah bekerja di Bank Pemerintah.
Menjelang keberangkatan Pendidikan, sebagai orang tua Afiyah dan suami menitipkan tiga pesan: menjaga diri, tidak meninggalkan salat lima waktu, dan senantiasa berbuat baik kepada sesama.
Api yang Tak Dipadamkan
Kini sang buah hati telah menjadi Abdi Negara sebagai TNI AL, akan tetapi perempuan itu belum mau menepikan kukusannya. Ia masih harus mencukupi kebutuhan harian, melayani pelanggan sekaligus mengisi hari-harinya agar tak lengang.
Kepada sesama orang tua yang tengah memperjuangkan pendidikan putra-putrinya, ia berpesan agar tidak putus asa, tetap bersemangat dan optimistis, serta berserah diri kepada Allah SWT.
Hingga wawancara berakhir, wangi santan pandan masih tertinggal di ruangan, seolah menjadi saksi bisu perjuangan panjang itu.
Hidup tak pernah menjanjikan jalan lapang bagi perempuan itu. Namun dari adonan yang dibulatkan dengan sabar, dan doa yang terpanjat sebelum fajar, lahirlah seorang prajurit.
Di dapur kecil itu, uap masih mengepul setiap subuh, membawa doa seorang ibu yang telah terkabul.
OLEH-SAHNA NAELY YAZIDA (J1D025152)
