Penulis: Resti Larasati A.R

BANYUMAS, SudutNalar – “Ada pengalaman yang bikin saya terharu, mungkin merasa kasihan kepada saya. Dia memborong dagangan saya supaya saya cepat pulang,” ujar Bu Nurisiti, 66 tahun.”
Malam itu menjadi salah satu pengalaman yang paling diingat Bu Nurisiti selama berjualan donat kentang di Alun-Alun Purwokerto. Seorang pembeli membeli seluruh donat yang masih dibawanya. Tidak hanya membayar dagangan, pembeli tersebut juga memberikan uang lebih dan mengantarnya pulang menggunakan mobil.
Biasanya, Bu Nurisiti harus berjalan mengelilingi alun-alun untuk menawarkan donat kepada pengunjung. Ia mulai berjualan sekitar pukul 18.00 WIB dan biasanya selesai sekitar pukul 23.00 WIB atau setelah seluruh dagangannya habis.
Bu Nurisiti tinggal di Mersi, Purwokerto, bersama anak pertamanya. Suaminya telah meninggal dunia. Kini, ia menjalani kesehariannya bersama anak yang membuat donat untuk dijual. Keduanya berbagi tugas dalam menjalankan usaha tersebut. Anak Bu Nurisiti membuat donat di rumah, sedangkan ia membawa dan menjualnya.
Pekerjaan tersebut baru dijalaninya sekitar tiga bulan. Dalam sekali berjualan, Bu Nurisiti membawa sekitar 100 donat kentang. Satu donat dijual seharga Rp4.000, sedangkan tiga donat ditawarkan dengan harga Rp10.000.
Untuk menuju Alun-Alun Purwokerto, terkadang Bu Nurisiti diantar oleh anaknya. Jika tidak diantar, ia menggunakan ojek tradisional. Setelah sampai di alun-alun, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Tidak ada lapak tetap yang digunakannya. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil menawarkan donat kepada pengunjung.
Bagi Bu Nurisiti, kegiatan tersebut menjadi cara untuk mengisi waktu. Ia memilih berjualan daripada hanya berdiam diri di rumah. Selain mendapatkan penghasilan sendiri, hasil penjualan juga dapat digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga anaknya.
Namun, ia tidak selalu berjualan ketika suasana alun-alun sedang ramai. Saat ada acara seperti nonton bareng atau nobar, jumlah pengunjung meningkat dan pedagang keliling yang datang juga lebih banyak. Kondisi tersebut membuat suasana di sekitar alun-alun menjadi semakin padat.
Keramaian itu membuat penglihatan Bu Nurisiti menjadi buram dan kepalanya terasa pusing. Karena itu, ia memilih tidak berjualan ketika ada acara besar seperti nobar. Ia lebih nyaman datang pada malam biasa ketika jumlah pengunjung dan pedagang tidak terlalu banyak.
Selama berjualan, Bu Nurisiti bertemu dengan berbagai pembeli. Ada yang membeli satu atau dua donat, tetapi ada pula yang membeli lebih banyak. Dari berbagai pengalaman tersebut, peristiwa ketika seorang pembeli memborong seluruh dagangannya menjadi salah satu yang paling membekas.
Pembeli tersebut memberikan uang lebih setelah membeli seluruh donat yang tersisa. Ia kemudian mengantarkan Bu Nurisiti pulang menggunakan mobil. Perhatian itu membuat Bu Nurisiti terharu. Ia menduga pembeli tersebut merasa kasihan melihat dirinya yang masih berjualan hingga malam.
Malam itu, Bu Nurisiti tidak perlu lagi berjalan mencari pembeli. Dagangannya telah habis dan ia bisa pulang lebih cepat. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti berjualan. Pada malam berikutnya, ia kembali menjalani rutinitas seperti biasa ketika kondisi memungkinkan.
Bagi Bu Nurisiti, berjualan bukan hanya soal menjual donat. Ada pembagian peran dengan anak yang membuat usaha tersebut tetap berjalan. Anak menyiapkan donat di rumah, sementara Bu Nurisiti membawa hasilnya untuk ditawarkan kepada pembeli.
Setiap sore, ia kembali membawa sekitar 100 donat dari rumahnya di Mersi menuju Alun-Alun Purwokerto. Sesampainya di sana, ia berjalan kaki dan menawarkan dagangan kepada pengunjung. Ketika ada pembeli, ia berhenti untuk melayani sebelum kembali berkeliling.
Menjelang pukul 23.00 WIB, aktivitas Bu Nurisiti biasanya berakhir. Jika donat telah habis, ia bersiap pulang membawa hasil penjualan. Jika kondisi alun-alun terlalu ramai atau tubuhnya tidak memungkinkan, ia memilih untuk tidak berjualan.
Di usia 66 tahun, Bu Nurisiti tetap berusaha memiliki penghasilan sendiri dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia mengisi waktu dengan berjalan menawarkan donat buatan anaknya, sekaligus membantu kebutuhan keluarga.
Dari Mersi menuju Alun-Alun Purwokerto, rutinitas itu terus ia jalani. Sekitar 100 donat menjadi dagangan yang dibawanya setiap kali berjualan. Satu per satu ditawarkan kepada pengunjung hingga akhirnya habis dan ia dapat pulang.
Bagi Bu Nurisiti, selama masih mampu berjalan dan berjualan, ia memilih untuk tetap melakukannya. Bukan karena ingin dikasihani, tetapi karena berjualan menjadi caranya untuk tetap memiliki penghasilan dan menjalani hari-harinya dengan kegiatan yang ia pilih sendiri.
