Reporter: Hanifah Adwa Nur Sifa | Editor: Isfarotul Khasanah
sudutnalar.com, 7 September 2026

PURBALINGGA, SudutNalar — Kokok ayam memecah sisa gelap di langit Desa Bumisari. Udara dingin masih menggantung di halaman. Ariyanti membilas pongkor satu per satu dengan air. Wadah plastik penampung nira itu berderet basah di dekat kakinya. Tak jauh darinya, gesekan pisau pada batu asah terdengar berulang. Suaminya, Siarto, sedang menajamkan pisau penderes.
Pukul 06.00, pongkor yang telah bersih diberi laru, larutan yang menjaga nira agar tidak cepat basi. Siarto memikul wadah-wadah itu dengan sebatang kayu menuju kebun.
Di kebun, ia memeluk batang kelapa yang menjulang di antara pepohonan lain. Tangannya mencengkeram kulit batang. Kakinya mencari pijakan sampai tubuhnya tiba di pucuk. Getaran batang terasa sampai ke telapak tangannya. Di sana, ia mengikat manggar, yaitu tangkai bunga kelapa tempat nira menetes. Pongkor yang terpasang sejak sore sebelumnya ia tukar dengan yang baru.
Satu pohon selesai. Ia berpindah ke pohon berikutnya dan kembali naik. Sekitar dua puluh lima pohon selesai menjelang pukul 11.00. Ia pulang untuk beristirahat. Pukul 13.00, ia kembali ke kebun dan mengerjakan dua puluh lima pohon lainnya hingga pukul 17.00.
Rutinitas itu ia jalani sejak 2010. Ratmono, ayah mertuanya, mengajarinya menjadi penderes, sebutan bagi penyadap nira kelapa. Kala itu, Siarto belum punya pekerjaan, sementara keluarganya harus tetap makan.
Setiap panjatan membawa risiko. Hujan membuat batang kelapa licin. Saat kemarau, matahari menyengat kulitnya. Angin menggoyang pucuk tempat kakinya berpijak.
“Pohonnya kan tinggi. Kalau hujan, licin. Kalau panas, rasanya kayak terbakar. Risikonya gede, apalagi kalau ada angin,” kata Siarto.
Risiko itu pernah menjadi nyata. Pada 2016, Siarto jatuh dari pohon kelapa. Tubuhnya dibawa pulang dalam keadaan lemas, lalu dilarikan ke rumah sakit. Kejadian itu meninggalkan luka dalam di punggungnya. Ariyanti melihat suaminya terkulai dan langsung panik.
“Saya panik banget. Takut Bapak kenapa-kenapa,” tutur Ariyanti.
Beberapa minggu Siarto berhenti memanjat demi memulihkan tubuh. Setelah kembali ke kebun, ia harus menaiki batang yang sama, padahal punggungnya belum pulih.
“Awalnya susah dan sakit sekali. Tapi saya harus berjuang karena ini satu-satunya pekerjaan,” katanya.
Rasa sakit itu masih sesekali datang hingga kini. Meski demikian, ia tetap memanjat pohon kelapa setiap hari.
Menjelang siang, Siarto pulang membawa pongkor berisi nira. Setelah dibawa pulang dari kebun, nira itu kemudian diolah oleh Ariyanti. Ia menyaring nira untuk membuang potongan manggar yang terbawa. Cairan lalu mengalir ke wajan besar di atas tungku. Kayu bakar dinyalakan. Api menjilat dasar wajan, dan asap tipis naik dari sela tungku.
Nira direbus enam hingga tujuh jam. Mula-mula cairannya bening dan bergerak ringan. Gelembung kecil bermunculan di permukaan. Perlahan, warnanya memekat dan gerakannya melambat. Pada tahap awal, Ariyanti tidak menunggui tungku. Ia mengerjakan urusan rumah, lalu kembali sekitar sepuluh menit sekali untuk memeriksa api dan menambah kayu.
Ketika nira mulai mengental, ia menarik kursi kecil dan duduk di sisi wajan. Tangannya menggenggam pengaduk. Cairan yang tadi ringan kini terasa berat didorong. Lengannya bergerak dari satu sisi ke sisi lain.
“Harus diaduk sampai kental dan nggak boleh berhenti,” katanya.
Panas tungku menyapu wajah dan lengannya. Asap mengepul di sekeliling tubuh. Keringat membasahi kulit, tetapi tangannya tak berhenti. Adukan makin berat seiring kentalnya nira. Ia terus mengaduk sampai kekentalannya pas untuk dicetak menjadi gula.
Setiap hari, pasangan itu menghasilkan sekitar delapan kilogram gula Jawa. Dengan harga Rp15.000 per kilogram, hasilnya sekitar Rp120.000. Uang itu menutup kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah anak semata wayang mereka.
Siarto membawa nira dari pucuk kelapa. Ariyanti mengubahnya menjadi gula di atas tungku.
“Saya nggak perlu mikir nira sudah basi atau belum. Saya percaya sepenuhnya pada istri,” kata Siarto.
Pekerjaan keduanya bertemu saat gula selesai dicetak.
“Perjuangan kami akhirnya selesai dan bisa istirahat dengan damai,” kata Ariyanti.
Saat ditanya apakah anaknya kelak akan menjadi penderes, Siarto menjawab singkat.
“Tidak.”
Bertahun-tahun Siarto memanjat dan Ariyanti menjaga tungku. Harapan terbesar mereka bukanlah agar anak mengulang pekerjaan itu, melainkan agar anak punya kesempatan memilih masa depan yang lebih baik.
