Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

26 Tahun Menjaga Kunci, Menjaga Rezeki

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Penulis : Devan Aryogi

SudutNalar, 9 Oktober 2026

Doc: Devan Aryogi

BANYUMAS,SudutNulur – Suara mesin pemotong kunci terdengar di tengah lalu-lalang orang dan kendaraan di depan Masjid Nurul Ulum Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Di tempat itulah Jani menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membuat dan menduplikat kunci bagi pelanggan yang datang. Selama 26 tahun, pekerjaan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Jani tinggal di Jalan Sudagaran. Namun, setiap hari ia menjalankan pekerjaannya sebagai tukang duplikat kunci di depan Kampus UNSOED, tepatnya di depan Masjid Nurul Ulum UNSOED. Tempat tersebut menjadi saksi bagaimana dirinya mempertahankan pekerjaan yang telah ditekuni selama lebih dari dua dekade.

Bagi sebagian orang, membuat duplikat kunci mungkin terlihat sebagai pekerjaan sederhana. Namun, di balik sebuah kunci yang selesai dibuat, ada keterampilan yang diperoleh melalui proses belajar dan latihan. Begitu pula dengan Jani yang tidak langsung mahir ketika pertama kali menekuni pekerjaan tersebut.

Perjalanan Jani menjadi tukang kunci bermula ketika ia diajak oleh saudaranya. Ia kemudian belajar membuat kunci bersama saudaranya yang berada di Jepara.

“Ya, diajak saudara,” ujar Jani ketika ditanya mengenai awal mula dirinya menekuni pekerjaan sebagai tukang kunci.

Ia tidak langsung menguasai pekerjaan tersebut. Jani harus melalui proses latihan terlebih dahulu hingga akhirnya memiliki kemampuan untuk membuat dan menduplikat kunci secara mandiri.

“Ya, latihan dulu sama saudara Jepara. Ada saudara,” katanya.

Dua puluh enam tahun bukan waktu yang sebentar. Selama menjalani pekerjaannya, Jani tentu menemukan berbagai kesulitan. Ketika ditanya mengenai pengalaman sulit selama menjadi tukang kunci, ia menjawab dengan sederhana.

“Ya, semuanya sulit,” ujarnya.

Namun, kesulitan tersebut tidak membuatnya berhenti. Menurut Jani, pekerjaan apa pun membutuhkan ketekunan agar dapat dijalani dengan baik. Baginya, terus belajar dan menekuni pekerjaan adalah bagian penting untuk bertahan.

“Cuma ditekuni nanti kan bisa, kuncinya cuma tekun aja si Mas,” katanya.

Prinsip sederhana tersebut terus ia pegang hingga sekarang. Pekerjaan yang dahulu dipelajari dari saudaranya di Jepara kini telah menjadi sumber penghasilan yang ia jalani selama puluhan tahun.

Di tempatnya bekerja, pelanggan datang dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan kunci tambahan, ada pula yang datang karena kunci miliknya hilang atau mengalami masalah. Jani melayani mereka satu per satu dengan keterampilan yang telah ia miliki.

Jumlah pelanggan yang datang pun tidak selalu sama setiap harinya. Ada waktu ketika pelanggan bertambah, tetapi ada pula saat jumlahnya berkurang. Jani menyadari bahwa pendapatan dari pekerjaan tersebut memang tidak selalu dapat dipastikan.

“Namanya rezeki kan kadang kurang, kadang tambah. Nggak mesti,” tutur Jani.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa hampir setiap hari tetap ada pelanggan yang datang. Jumlahnya tidak selalu banyak, tetapi selalu ada rezeki yang ia dapatkan dari pekerjaannya.

“Ya, kalau satu hari ini sih pasti dapat,” katanya. “Entah berapa, gitu.”

Di balik rutinitasnya membuat duplikat kunci, ada alasan yang membuat Jani terus datang dan bekerja setiap hari. Ketika ditanya mengenai sosok yang menjadi penguat atau alasan dirinya tetap bekerja, jawabannya tidak mengarah pada orang lain. Ia menyebut dirinya sendiri dan keluarganya.

“Sosok penguat ya diri sendiri dan keluarga. Saya bekerja untuk keluarga,” ujar Jani.

Jawaban tersebut menunjukkan bahwa pekerjaannya bukan sekadar rutinitas untuk mendapatkan penghasilan. Ada keluarga yang menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan dan menjalani pekerjaan tersebut. Selama dirinya masih mampu bekerja, ia terus menjalankan profesi yang telah ditekuni selama 26 tahun.

Setelah 26 tahun menjalani pekerjaan tersebut, Jani juga tidak menganggap ada tantangan besar yang harus dihadapinya. Ketika ditanya mengenai tantangan terbesar sebagai tukang kunci, ia menjawab singkat.

“Nggak ada tantangan si Mas, yang penting dijalani aja,” ujarnya.

Jawaban tersebut terdengar sederhana, tetapi menunjukkan bahwa pekerjaan yang dahulu dipelajari dengan latihan kini sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Mesin pemotong kunci, kepingan logam, dan pelanggan yang datang telah menjadi hal yang biasa bagi Jani.

Doc: Devan Aryogi

Ada kepuasan tersendiri ketika kunci yang dibuatnya berhasil digunakan oleh pelanggan. Meskipun pekerjaannya terlihat kecil, hasilnya dapat membantu seseorang menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Ya semuanya senanglah. Itu, iya,” ujarnya ketika ditanya mengenai perasaannya setelah berhasil menyelesaikan kebutuhan pelanggan.

Kini, setelah 26 tahun menekuni pekerjaan sebagai tukang duplikat kunci, Jani masih memiliki harapan yang sederhana. Ia ingin pekerjaannya terus berkembang dan semakin maju.

“Semakin maju,” katanya.

Di depan Masjid Nurul Ulum UNSOED, suara mesin pemotong kembali terdengar. Sebuah kepingan logam perlahan berubah menjadi kunci baru di tangan Jani. Bagi pelanggan, benda kecil itu mungkin hanya alat untuk membuka sebuah pintu. Namun bagi Jani, setiap kunci yang selesai dibuat adalah hasil dari 26 tahun ketekunan, sekaligus jalan untuk terus membuka pintu rezeki bagi dirinya dan keluarga.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme