
PURWOKERTO, SudutNalar – Di balik helai demi helai kain bermotif yang anggun, terdapat kearifan lokal yang terus berdenyut di daerah Sokaraja, Banyumas. Bagi usaha Batik Lukman, kain batik bukan sekadar seni, melainkan warisan leluhur yang mengandung filosofi kehidupan dan benteng budaya menjadi identitas bangsa.
Perjalanan Batik Lukman tumbuh dari pengalaman panjang. Sebelum memiliki usaha sendiri, Lukman lebih dulu bekerja sebagai karyawan di sejumlah pengrajin batik setempat, termasuk milik kakak perempuannya.
Di bagian produksi, ia menyerap banyak ilmu seputar batik. Lukman juga ikut serta dalam memasarkan produk, sehingga paham betul pasar kain batik. Bekal itulah yang akhirnya mendorongnya untuk mendirikan usaha sendiri.
“Awalnya bapak bekerja sebagai karyawan di beberapa pengrajin batik yang ada di wilayah
Sokaraja, termasuk di tempat mbakyunya bapak,” cerita Ichsan, putra Lukman yang kini
dipercaya mengelola usaha tersebut. “Disamping bekerja di bidang produksi, bapak juga ikut memasarkan produknya, jadi sudah tahu pasar untuk kain batiknya,” sambungnya.
Motivasi mendirikan usaha ini bukan hanya karena bisnis. Menurut Ichsan, batik adalah warisan budaya leluhur yang harus dilertarikan agar tidak diklaim bangsa lain. Batik juga kebih dari sekadar seni karena menyimpan banyak filosofi kehidupan yang dituangkan dalam setiap goresannya.
Batik Lukman secara konsisten mengangkat identitas lokal melalui motif-motif khas Banyumas, seperti pring sedapur, serayuan, lumbon jahe, gemek setekem, hingga babon angkrem. Karakter warnanya yang mengusung nuansa wedel (biru tua/ hitam) dan soga (cokelat) mempertegas aura
klasik nan memikat.

Menurut Ichsan, Setiap tahap pembuatan batik memiliki kesan tersendiri bagi para pelakunya.
Keindahan kain batik tak hanya lahir dari goresan lilin malam, melainkan dari ketulusan niat
untuk memberi manfaat sosial. Lukman sengaja membuka lapangan pekerjaan bagi ibu rumah
tangga di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Uniknya, untuk proses mencanting, para
pembatik diberi kebebasan menggarapnya dari rumah masing-masing.
“Kata ibu-ibu pembatik, pekerjaan ini bisa diselingi dengan kegiatan mengurus rumah,” ujar
Ichsan. Fleksibilitas itu membuat para ibu tetap bisa berpenghasilan tanpa meninggalkan
tanggung jawab di rumah.
Dunia usaha tidak selalu berjalan mulus. Batik Lukman pun pernah merasakan pahit getirnya
kegagalan. Dari kegagalan produksi, kerugian akibat ditipu konsumen, hingga pukulan berat
akibat dampak pandemi COVID-19.
“Namanya usaha pasti ada hal-hal seperti itu,” tuturnya.
Meski demikian, Lukman bangkit kembali berkat sikap optimis. Ia berpegang pada keyakinan
bahwa setiap kesulitan selalu beriringan dengan kemudahan. Keyakinan itulah yang membuat
usaha ini tetap bertahan hingga sekarang.
Kini tongkat estafet mulai berpindah. Ichsan menjadi salah satu anak Lukman yang dipercaya
melanjutkan usaha keluarga ini. Ia dilatih membatik dan dilibatkan langsung dalam proses
produksi maupun penjualan, sehingga memahami usaha ini dari hulu hingga hilir.
“Saya salah satu anaknya yang diamanahi untuk melanjutkan usahanya. Bapak melatih saya
cara-cara membatik dan melibatkan langsung dalam proses produksi serta penjualan,” ungkap
Ichsan.
Baginya, kelanjutan Batik Lukman bukan sekadar menjaga bisnis keluarga, melainkan merawat
identitas bangsa. Ichsan menyampaikan harapan bagi Batik Lukman dan para pengusaha batik di
Nusantara. Ia berharap mereka senantiasa melestarikan budaya batik dan mencetak generasi
muda yang lebih kompeten, agar warisan leluhur ini terus hidup dari generasi ke generasi.
“Harapan saya untuk Batik Lukman khususnya dan para pengusaha batik di Nusantara pada
umumnya, semoga senantiasa melestarikan budaya batik dan mampu mencetak generasi muda
yang lebih kompeten,” tutup Ichsan optimistis.
Penulis : Nailah Fiza I.
