Penulis: Naila Putri Ramadani | Narasumber: Sukendar | Rabu, 7 Oktober 2026

(Dok. Pribadi)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Tangan kiri Sukendar bertumpu pada sisi sepeda dagangannya. Kulit tangannya keriput, urat-uratnya menonjol, dan jam tangan hitam melingkar di pergelangan. Tangan kanannya terus bergerak, memasukkan siomai dan tahu ke dalam plastik bening, lalu menuangkan saus kacang dari wadah berpenutup hijau. Plastik itu diangkat sejenak sebelum disodorkan kepada pembeli.
Gerakan yang sama terus ia ulangi di bawah payung warna-warni, di tepi jalan perempatan Queen Kampus. Sebuah tas hitam melintang di tubuhnya. Sudah lima belas tahun Sukendar menjalani rutinitas itu untuk mencari nafkah.

Jemari Sukendar dengan sigap menuangkan saus kacang ke dalam plastik bening untuk pembelinya. (Dok. Pribadi)
Hari Sukendar sebenarnya dimulai jauh sebelum payung itu dibuka. Ketika ditanya pukul berapa ia mulai menyiapkan dagangannya, jawabannya singkat.
“Bakda subuh,” ujarnya.
Adonan siomai dibuatnya dari terigu dan aci. Istrinya ikut membantu dengan berbelanja bahan-bahan yang diperlukan. Sekitar pukul 10.00, barulah Sukendar mulai berjualan.
Persiapan yang dilakukan sejak pagi menjadi bagian penting sebelum ia berangkat berjualan. Bahan-bahan perlu disiapkan agar dagangan bisa dijual sesuai jadwal yang biasa ia jalani. Dalam proses tersebut, bantuan istri turut menjadi bagian dari kesehariannya. Keduanya memiliki peran masing-masing dalam menyiapkan kebutuhan berjualan, mulai dari menyediakan bahan hingga membawa dagangan ke tempat berjualan.
Dulu, sepeda itu dikayuh berkeliling untuk mencari pembeli hingga ke Karangwangkal dan Karangbawang. Kini, Sukendar memilih menetap. Sepedanya tak lagi berpindah-pindah, tetapi isinya masih sama: panci, botol saus, dan kain bermotif kotak-kotak hijau yang selalu tersampir di dekat tangannya.
Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Ketika ditanya mengapa memilih berjualan siomai, bukan jajanan yang lain, ia tidak memberikan alasan panjang.
“Sudah menjadi rezeki saya berjualan siomai,” katanya.
Tidak ada cerita tentang cita-cita atau perhitungan yang matang. Bagi Sukendar, jalan itu sudah ada sejak dahulu dan ia tinggal menjalaninya.
Jalan itu mempertemukannya dengan banyak orang yang terus kembali. Sebagian pelanggan lamanya bahkan masih datang saat Lebaran.
“Pelanggan lama biasanya berkumpul dan datang ke sini saat Lebaran,” tuturnya.
Ketika mahasiswa sedang libur, dagangannya tidak ikut sepi. Menurutnya, pembeli tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa.
“Alhamdulillah, dagangan saya tetap ramai. Pembelinya bukan hanya mahasiswa, melainkan juga masyarakat umum,” ujarnya
Bagi Sukendar, sepeda itu bukan sekadar tempat untuk berjualan. Di sanalah ia menemukan rezeki, bertemu pelanggan, dan menjalani hari demi hari selama lima belas tahun.
Tentu, tidak semua hari berjalan mulus. Ban sepeda yang kempis sudah sering ia hadapi. “Hal seperti itu sudah biasa saya alami,” kata Sukendar. Tantangan lain datang dari kenaikan harga bahan makanan. Sukendar menyebut kondisi tersebut terasa setelah adanya program MBG. Kenaikan harga bahan makanan membuat biaya yang harus dikeluarkan ikut meningkat.
Meski begitu, rutinitasnya tidak berubah. Setelah subuh, ia menyiapkan dagangan. Pukul 10.00, mulai berjualan dan pulang setelah dagangannya habis. Rutinitas itu berulang setiap hari, ditemani istri yang turut membantu dalam persiapan dagangan serta pelanggan yang terus kembali.
Siang itu, di antara deru kendaraan yang melintas, Sukendar kembali meletakkan tangannya di sisi sepeda. Ketika ditanya alasan ia tetap bertahan, jawabannya tetap sederhana.
“Sudah menjadi rezeki saya.”
Selama rezeki itu masih datang lewat sepeda siomai nya, Sukendar akan tetap berada di sana, di bawah payung warna-warni, menunggu pembeli datang.
Penulis: Naila Putri Ramadani
Editor: Farah Nasywa Nurrahma
