Dimas Saladin Firmansyah
Sudutnalar.com, 09 Oktober 2026

Dua jam setelah tengah malam, ketika riuh kota Purwokerto masih terlelap dalam pekatnya malam, denting sendok dan uap hangat dari dapur Tika Agustin, seorang ibu yang sudah mulai menyiapkan dagangan. Setiap pagi, wanita perantau asal Lampung ini sudah bergelut dengan kesibukan pagi. Jemarinya yang tangkas mengulek bumbu, meracik kuah soto, hingga menanak nasi kuning sejak pukul dua dini hari.
“Saya bangun dari jam dua langsung masak. Sampai siang begini ya belum tidur sama sekali,” kata Tika sambil tersenyum ramah.
Sekitar pukul setengah enam pagi, Tika bersama suaminya, Dwi, di lapak sederhananya. Sebelum berangkat ke pekerjaannya sendiri, Dwi selalu setia membantu sang istri menurunkan barang dagangan dan merapikan tempat. Di lapak kecil itu, mereka mulai menyajikan beragam menu mulai dari soto, ketoprak, hingga nasi kuning.
​Keputusan menjual banyak menu sekaligus diambil Tika untuk mencukupi kebutuhan hidup di tanah perantauan. Sebelumnya, Tika sempat berjualan mie ayam selama dua tahun di Jalan Baturraden. Namun, usaha itu terpaksa berhenti karena masa kontrakan lahan habis dan lokasi diambil kembali oleh pemiliknya. Karena tak ingin berlarut dalam kesedihan, Tika kembali bangkit dan mulai mengambil keputusan untuk membuka lapak baru ini sejak pertengahan 2024.

Namun, jalan yang ditempuh oleh seorang Ibu yang gigih ini jauh dari kata mulus. Sengatan terik matahari Purwokerto di lapak yang terbatas sering kali menguji fisiknya. Belum lagi tantangan lonjakan harga bahan baku seperti beras, telur, ayam, hingga kacang tanah yang mencekik modal usahanya.
“Sangat berpengaruh pas bahan-bahan pada naik. Mau beli banyak, uangnya terbatas. Jadi belinya dicicil sedikit-sedikit buat muter modal yang lain. Kita kan harus muter otak, pembeli maunya harga tetap murah padahal belanjanya mahal,” ujar Tika.
​Meski harus memeras keringat di tengah gempuran harga bahan pokok, Tika tak pernah kehilangan semangat. Bahkan saat momen Lebaran tiba, ketika orang lain menikmati libur panjang, Tika hanya mengambil jatah libur dua hari sebelum kembali membuka lapak dagangannya.​ Rasa lelah itu seketika terbayar saat mengingat kembali masa depan dua buah hatinya. Dari hasil berjualan ini, Tika berhasil meluluskan anak pertamanya hingga kini sudah bekerja, serta membiayai anak keduanya yang baru masuk SMK.
​Seluruh peluh dan keletihan yang membasahi tubuhnya menguap setiap kali ia mengingat alasan terbesarnya berjuang: masa depan anak-anaknya. Dari lembaran rupiah yang ia kumpulkan saban hari, Tika berhasil mengantarkan anak pertamanya lulus sekolah hingga mendapat pekerjaan, serta membiayai anakeduanya yang baru masuk ke jenjang SMK.
Di balik kesederhanaan lapak makanannya, Tika masih menyimpan satu mimpi sederhana yang ia rawat dalam doa. Wanita yang hingga kini masih tinggal di rumah kontrakan tersebut berharap usaha kuliner kecilnya kelak bisa makin berkembang.
​”Penginnya usaha ini makin maju, punya tempat jualan yang lebih luas. Dan cita-cita terbesarnya, pengin punya rumah sendiri,” tutur Tika.
​Siang makin terik di tepi jalan, namun senyum ramah Tika tak pudar melayani para pembeli. Di antara harum aroma soto dan kepulan sajian hangat, deru napas Tika adalah cerminan ketangguhan seorang ibu yang tak pernah menyerah menembus keterbatasan demi merajut asa keluarganya.
Penulis: Dimas Saladin Firmansyah
Editor: Devan Aryogi
