
Ciamis, Sudutnalar.com – Dinda Gianina, mahasiswa Hubungan Internasional di
President University. Sebelumnya, Dinda pernah menjadi Mojang Pinilih Kabupaten
Ciamis tahun 2022/2023, kemudian mendapatkan kesempatan untuk mewakili Ciamis di
tingkat Jawa Barat. Dari perjalanan itu, saya banyak belajar tentang budaya, public
engagement, leadership, dan bagaimana membawa identitas daerah ke ruang yang lebih
luas. Bagi Dinda, setiap proses yang saya jalani bukan hanya tentang mendapatkan gelar,
tapi juga tentang bagaimana saya bisa terus berkembang dan memberikan dampak atau
pengaruh yang kuat. Mahkota mungkin menjadi simbol kemenangan dalam sebuah ajang
pemilihan. Namun, bagi Dinda Gianina, mahkota bukanlah tujuan akhir. Setelah
mendapatkan gelar sebagai Mojang Jawa Barat, justru ada tanggung jawab yang
menurutnya harus dijalankan. Perempuan yang menempuh pendidikan di President
University itu ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk membawa nama Ciamis,
memperkenalkan potensi Jawa Barat, dan mengajak generasi muda lebih mengenal budaya
daerahnya.
Perjalanan Dinda dalam dunia Mojang dimulai ketika ia terpilih sebagai Mojang Pinilih
Kabupaten Ciamis tahun 2022/2023. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mendapatkan
kesempatan untuk mewakili Ciamis di tingkat Jawa Barat. Perjalanan itu memberinya
pengalaman dalam memahami budaya, keterlibatan publik, dan kepemimpinan. Baginya,
proses tersebut bukan sekadar perjalanan untuk memperoleh gelar, tetapi juga kesempatan
untuk terus berkembang dan memberikan dampak. Keinginannya membawa nama Ciamis
menjadi salah satu alasan Dinda mengikuti ajang Mojang Jawa Barat. Ia ingin
memperkenalkan potensi Jawa Barat melalui sudut pandang generasi muda. Baginya,
kecintaan terhadap daerah tidak harus membuat seseorang berhenti melihat dunia yang
lebih luas. Generasi muda tetap dapat mengenal budaya sendiri sekaligus memiliki
wawasan dan kemampuan untuk bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
“Saya ingin membawa nama Ciamis dan memperkenalkan potensi Jawa Barat dari
perspektif generasi muda,” ujar Dinda.
Bagi Dinda, ajang Mojang Jawa Barat juga bukan sekadar kompetisi. Di dalamnya terdapat
kesempatan untuk belajar, membangun relasi, dan menemukan ruang untuk berkontribusi.
Karena itu, ketika mendapatkan gelar, ia tidak ingin pencapaian tersebut hanya menjadi
sebuah gelar yang melekat pada dirinya.
“Gelar ini sebenarnya bukan tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah. Setelah kita
terpilih, yang lebih penting justru kontribusi kita seperti apa,” ujar Dinda.
Pandangan tersebut diwujudkan Dinda bersama Kang Fauzan selaku Jajaka melalui sebuah
social proyek bernama Pustaka Kuliner Galuh. Proyek tersebut berangkat dari keinginan
untuk mengenalkan kembali kuliner khas Galuh sekaligus cerita dan nilai budaya yang ada
di baliknya kepada generasi muda. Pustaka Kuliner Galuh di kemas dalam dua bentuk,
yaitu buku dan permainan papan. Buku tersebut tidak hanya berisi informasi mengenai
kuliner khas, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan sejarah dan budaya Galuh.
Sementara itu, permainan papan dibuat agar generasi muda dapat mengenal kuliner dan
budaya lokal dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif. Bagi Dinda dan Kang
Fauzan, pengenalan budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang kaku. Kuliner
dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan cerita, sejarah, dan identitas suatu daerah.
Melalui Pustaka Kuliner Galuh, mereka berharap generasi muda tidak hanya mengetahui
makanan khas daerah, tetapi juga memahami sejarah dan identitas Galuh serta ikut
mendukung keberadaan kuliner dan pelaku UMKM lokal.
Untuk menjalankan perannya sebagai Mojang Jawa Barat, Dinda juga melakukan berbagai
persiapan. Kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu hal yang ia
perhatikan. Menurutnya, kemampuan menyampaikan ide dengan jelas dan percaya diri
penting ketika harus berhadapan dengan banyak orang maupun menjawab pertanyaan
secara spontan.
Selain itu, Dinda mempersiapkan wawasan mengenai budaya, pariwisata, sejarah Jawa
Barat, dan berbagai isu yang dekat dengan masyarakat. Baginya, seorang Mojang bukan
hanya seseorang yang hadir dalam sebuah acara dengan mengenakan atribut, tetapi juga
mampu menjadi representasi Jawa Barat. Menurut Dinda, seorang Mojang memiliki
tanggung jawab untuk ikut mengenalkan budaya, pariwisata, dan potensi daerah. Ia juga
diharapkan dapat terlibat dalam kegiatan sosial serta menjadi contoh yang baik bagi
generasi muda.
“Setelah dapat gelar, justru tanggung jawabnya baru dimulai,” tuturnya.
Menjalankan peran sebagai Mojang Jawa Barat di tengah kesibukan sebagai mahasiswa
juga menjadi tantangan tersendiri. Dinda mengaku hal yang paling terasa adalah mengatur
waktu dan energi. Beberapa kegiatan terkadang berlangsung berdekatan dengan kewajiban
perkuliahan, sehingga ia harus belajar menentukan prioritas. Dinda biasanya melihat
tenggat waktu dan tingkat urgensi setiap kegiatan. Jika mengetahui akan ada kegiatan
Mojang, Dinda berusaha menyelesaikan tugas kuliah lebih awal. Dari pengalaman tersebut,
ia belajar bahwa menjalankan berbagai tanggung jawab membutuhkan keteraturan dan
konsistensi.
“Selama kita tahu prioritas dan konsisten sama jadwal yang dibuat, semuanya masih bisa
dijalankan,” ujar Dinda.
Ke depan, Dinda berharap Mojang Jawa Barat dapat semakin dekat denga n generasi
muda, khususnya mahasiswa. Ia tidak ingin Mojang hanya dikenal ketika ada acara atau
kegiatan seremonial. Menurutnya, Mojang juga dapat menjadi sosok yang mengajak anak
muda untuk aktif, berkarya, mengenal budaya, dan berprestasi. Dinda juga mengajak
mahasiswa untuk tetap peduli terhadap daerah dan lingkungan di sekitarnya. Menurutnya,
mahasiswa memang perlu memiliki wawasan yang luas dan memahami berbagai hal secara
global, tetapi hal tersebut tidak seharusnya membuat mereka melupakan identitas sendiri.
Bagi generasi muda yang ingin mengikuti ajang Mojang, Dinda berpesan agar mahkota
dan gelar tidak dijadikan tujuan utama. Peserta sebaiknya datang dengan niat untuk belajar
dan berkembang serta tidak terlalu sibuk membandingkan diri dengan peserta lain.
“Jangan ikut hanya karena ingin dapat mahkota atau gelar. Kalau memang punya
kesempatan, datang dengan niat untuk belajar dan berkembang,” ujarnya.
Bagi Dinda, mahkota hanyalah tanda bahwa sebuah kompetisi telah dilewati. Setelah
panggung dan kompetisi selesai, yang tersisa adalah tanggung jawab untuk memberikan
sesuatu kepada masyarakat. Dari Ciamis, Dinda membawa budaya Galuh ke ruang yang
lebih luas dan mengajak generasi muda untuk kembali mengenal daerahnya.
Mahkota boleh menjadi tanda kemenangan, tetapi kontribusi adalah alasan mengapa
sebuah gelar layak dikenang. Karena, sebuah gelar mungkin membuat seseorang
dikenal, tetapi kontribusilah yang membuatnya berarti.
