sudutnalar.com, 09 Oktober 2026
Oleh : Haniyah Widiyanti

CILACAP, SUDUTNALAR — Suasana di klinik Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, akhir-akhir ini terasa lebih ramai. Ruang perawatan yang biasanya hanya diisi beberapa pasien kini dipenuhi antrean anak-anak yang mengalami masalah kesehatan. Sebagian besar dari mereka datang diantar orang tua dengan gejala demam tinggi dan sakit tenggorokan.
Kondisi ini mulai terlihat sejak awal September. Cintia Widianti, A.Md.Kep., perawat di klinik Kecamatan Dayeuhluhur, mengungkapkan bahwa jumlah pasien anak yang terindikasi atau terdiagnosis Influenza A dapat mencapai 15–25 anak setiap harinya.
“Kira-kira 15–25 pasien,” ucap Cintia saat menerangkan jumlah pasien yang datang saban hari.
Influenza A merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Influenza A. Menurut Cintia, virus ini dapat memicu wabah musiman dan menular dengan sangat cepat. Gejala paling umum yang ditemukan pada pasien anak di klinik tersebut adalah demam tinggi dan nyeri tenggorokan.

Cintia menjelaskan bahwa virus Influenza A menular dengan cepat melalui udara. Selain faktor penularan, kondisi fisik yang lemah, pola makan yang tidak sehat, serta lingkungan yang kurang bersih turut memengaruhi rentannya tubuh terserang penyakit.
Seiring bertambahnya jumlah pasien, aktivitas pelayanan di klinik pun kian padat. Cintia menggambarkan situasi tersebut sebagai bed overload, yaitu kondisi ketika kapasitas tempat tidur maupun daya tampung pelayanan medis sudah melebihi batas akibat lonjakan pasien.
Di tengah situasi tersebut, para perawat dituntut untuk tetap memprioritaskan penanganan medis berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien. Setiap anak yang datang mendapatkan pemeriksaan intensif sesuai dengan kebutuhan medisnya.
Bagi anak-anak, berada di ruang pemeriksaan tentu bukan hal yang mudah. Tidak sedikit dari mereka yang merasa cemas, takut, hingga menangis saat hendak diperiksa. Dalam situasi seperti ini, pendekatan yang humanis dan sabar menjadi kunci agar tindakan medis tetap berjalan lancar.
Bagi Cintia, momen paling berkesan dalam menjalankan tugasnya adalah ketika melihat perkembangan kondisi pasien anak yang membaik. Anak yang semula lemas, rewel, atau takut diperiksa perlahan kembali ceria setelah menerima penanganan medis dan istirahat yang cukup.
Melihat anak kembali aktif memberikan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi tenaga medis. Seiring membaiknya kondisi sang buah hati, rasa cemas yang dirasakan orang tua pun berangsur sirna. Pengalaman ini membuktikan bahwa pelayanan medis tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik, tetapi juga pada pemberian rasa aman dan nyaman bagi pasien.
Lonjakan pasien ini menjadi tantangan nyata bagi para tenaga kesehatan. Cintia menegaskan bahwa perawat wajib memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat meskipun berada di bawah tekanan beban kerja yang tinggi.
Selain tindakan pengobatan, aspek kebersihan dan pencegahan penularan juga menjadi perhatian utama. Langkah sterilisasi dan protokol kesehatan diterapkan secara ketat guna mencegah penyebaran virus, baik antar-pasien maupun kepada tenaga medis yang bertugas.
Cintia mengimbau para orang tua agar lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak. Apabila anak menunjukkan gejala seperti demam, batuk, pilek, atau tubuh tampak lemas, orang tua diminta memberikan waktu istirahat yang cukup dan tidak memaksakan anak beraktivitas di luar rumah.
Orang tua juga disarankan untuk membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin yang benar, serta menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit. Jika kondisi anak memburuk atau timbul gejala yang mengkhawatirkan, orang tua diimbau segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Di balik padatnya ruang perawatan Klinik Dayeuhluhur, tersimpan perjuangan gigih para perawat dalam memberikan perawatan terbaik. Di sana ada anak-anak yang menahan sakit, orang tua yang cemas menunggu, serta tenaga medis yang tak lelah mengabdi.
Di balik angka 15–25 pasien setiap harinya, ada harapan sederhana yang selalu diperjuangkan: melihat anak-anak kembali sehat dan pulang ke rumah dengan senyuman.
