
BANYUMAS, SudutNalar – Suara gemuruh mesin pres menjadi irama harian bagi Aminah, perempuan 63 tahun yang telah lebih dari tiga dekade menekuni pembuatan genteng di Desa Pancasan, Kecamatan Ajibarang. Tangannya yang terampil sigap memindahkan adonan tanah liat yang semula tak berbentuk menjadi kepingan genteng yang siap diproses. Di sekelilingnya, deretan rak kayu dipenuhi genteng basah yang menanti giliran dijemur.
Setiap hari, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, Aminah menjalani rutinitas tersebut. Di usia yang tak lagi muda, ia masih akrab dengan tanah liat, mesin pres, dan panasnya tempat produksi. Baginya, membuat genteng bukan sekadar mata pencaharian, melainkan pekerjaan yang telah menjadi bagian dari hidup selama 33 tahun. Dari pekerjaan itu pula, ia berusaha menopang kebutuhan keluarga dan mengantarkan anak-anaknya hingga menyelesaikan pendidikan.
Kisah itu bermula pada 1993. Setelah bertahun-tahun menjadi buruh genteng milik orang lain, Aminah memberanikan diri untuk berdiri sendiri. Dengan modal nekat dan tabungan yang pas-pasan, ia membeli sebuah mesin pres. Keputusan sederhana itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai perajin genteng.
“Perasaan awal-awal susah banget. Modal pas-pasan, jadi apa-apa masih kurang,” kenang Aminah saat ditemui di tempat produksinya.
Pada masa awal merintis, hampir semua pekerjaan harus dijalani dengan keterbatasan. Namun, Aminah memilih bertahan. Sedikit demi sedikit, usaha yang dirintisnya bersama suami mulai berkembang. Hasil dari memproduksi genteng digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai pendidikan anak-anak mereka hingga tuntas.
Bagi Aminah, setiap genteng yang berhasil dicetak bukan hanya hasil dari tanah dan tenaga. Di dalamnya ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan harapan agar anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.
Namun, perjalanan selama puluhan tahun tidak selalu berjalan mulus. Memasuki tiga dekade beroperasi, Aminah harus berhadapan dengan langkanya bahan baku tanah liat dan fluktuasi permintaan pasar.
Ketika pesanan genteng sedang sepi, ia tidak memilih berpangku tangan. Ia beralih mengolah sawah hingga berjualan nasi dan mendoan demi menjaga kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
“Bertahan itu nggak selalu mudah. Kalau genteng lagi sepi, ya cari jalan lain. Yang penting halal,” ujarnya.
Di tengah gempuran persaingan usaha, Aminah tetap bertahan dengan profesinya. Puluhan tahun berada di lingkungan produksi membuatnya merasa pekerjaan tersebut sudah menyatu dengan kehidupannya. Aroma tanah dan suara mesin pres menjadi sesuatu yang akrab baginya.
“Ya emang udah bakatnya mungkin. Jadi rasanya seneng aja ngerjainnya,” kata Aminah sambil tersenyum.
Selagi fisiknya masih mampu, ia bertekad untuk terus membuat genteng. Usia 63 tahun tidak membuatnya ingin berhenti begitu saja. Ia masih ingin bekerja dan mempertahankan usaha yang telah dibangunnya sejak 1993.
Di balik debu tanah dan kerja keras puluhan tahun, Aminah menyimpan satu asa yang terus dirawatnya, yaitu keinginan untuk bisa berziarah ke Makkah dan Madinah suatu hari nanti. Cita-cita itu menjadi salah satu harapan yang ingin diwujudkannya setelah melewati perjalanan panjang sebagai seorang perajin genteng.
Saat jarum jam menunjuk pukul 16.00 WIB, mesin pres akhirnya diistirahatkan. Aktivitas produksi perlahan berhenti, menyisakan deretan genteng yang masih menunggu proses berikutnya. Esok pagi, rutinitas yang sama akan kembali dimulai.
Bagi warga awam, kepingan genteng mungkin hanya penutup atap rumah. Namun bagi Aminah, setiap lembar genteng adalah saksi bisu perjuangan panjang sejak 1993 tentang kemandirian, pendidikan anak, dan cita-cita yang masih terus diikhtiarkan.
Penulis : Bela Fatma Atikah
Editor : Cyntia Auliyanti
