Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Tiga Dekade Menempa Tanah Jadi Harapan: Kisah Ibu Aminah Perajin Genteng Pancasan

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq
(Dok. Bela Fatma Atikah)

BANYUMAS, SudutNalar – Suara gemuruh mesin pres menjadi irama harian bagi Aminah, perempuan 63 tahun yang telah lebih dari tiga dekade menekuni pembuatan genteng di Desa Pancasan, Kecamatan Ajibarang. Tangannya yang terampil sigap memindahkan adonan tanah liat yang semula tak berbentuk menjadi kepingan genteng yang siap diproses. Di sekelilingnya, deretan rak kayu dipenuhi genteng basah yang menanti giliran dijemur.

Setiap hari, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, Aminah menjalani rutinitas tersebut. Di usia yang tak lagi muda, ia masih akrab dengan tanah liat, mesin pres, dan panasnya tempat produksi. Baginya, membuat genteng bukan sekadar mata pencaharian, melainkan pekerjaan yang telah menjadi bagian dari hidup selama 33 tahun. Dari pekerjaan itu pula, ia berusaha menopang kebutuhan keluarga dan mengantarkan anak-anaknya hingga menyelesaikan pendidikan.

Kisah itu bermula pada 1993. Setelah bertahun-tahun menjadi buruh genteng milik orang lain, Aminah memberanikan diri untuk berdiri sendiri. Dengan modal nekat dan tabungan yang pas-pasan, ia membeli sebuah mesin pres. Keputusan sederhana itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai perajin genteng.

“Perasaan awal-awal susah banget. Modal pas-pasan, jadi apa-apa masih kurang,” kenang Aminah saat ditemui di tempat produksinya.

Pada masa awal merintis, hampir semua pekerjaan harus dijalani dengan keterbatasan. Namun, Aminah memilih bertahan. Sedikit demi sedikit, usaha yang dirintisnya bersama suami mulai berkembang. Hasil dari memproduksi genteng digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai pendidikan anak-anak mereka hingga tuntas.

Bagi Aminah, setiap genteng yang berhasil dicetak bukan hanya hasil dari tanah dan tenaga. Di dalamnya ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan harapan agar anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.

Namun, perjalanan selama puluhan tahun tidak selalu berjalan mulus. Memasuki tiga dekade beroperasi, Aminah harus berhadapan dengan langkanya bahan baku tanah liat dan fluktuasi permintaan pasar.

Ketika pesanan genteng sedang sepi, ia tidak memilih berpangku tangan. Ia beralih mengolah sawah hingga berjualan nasi dan mendoan demi menjaga kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

“Bertahan itu nggak selalu mudah. Kalau genteng lagi sepi, ya cari jalan lain. Yang penting halal,” ujarnya.

Di tengah gempuran persaingan usaha, Aminah tetap bertahan dengan profesinya. Puluhan tahun berada di lingkungan produksi membuatnya merasa pekerjaan tersebut sudah menyatu dengan kehidupannya. Aroma tanah dan suara mesin pres menjadi sesuatu yang akrab baginya.

“Ya emang udah bakatnya mungkin. Jadi rasanya seneng aja ngerjainnya,” kata Aminah sambil tersenyum.

Selagi fisiknya masih mampu, ia bertekad untuk terus membuat genteng. Usia 63 tahun tidak membuatnya ingin berhenti begitu saja. Ia masih ingin bekerja dan mempertahankan usaha yang telah dibangunnya sejak 1993.

Di balik debu tanah dan kerja keras puluhan tahun, Aminah menyimpan satu asa yang terus dirawatnya, yaitu keinginan untuk bisa berziarah ke Makkah dan Madinah suatu hari nanti. Cita-cita itu menjadi salah satu harapan yang ingin diwujudkannya setelah melewati perjalanan panjang sebagai seorang perajin genteng.

Saat jarum jam menunjuk pukul 16.00 WIB, mesin pres akhirnya diistirahatkan. Aktivitas produksi perlahan berhenti, menyisakan deretan genteng yang masih menunggu proses berikutnya. Esok pagi, rutinitas yang sama akan kembali dimulai.

Bagi warga awam, kepingan genteng mungkin hanya penutup atap rumah. Namun bagi Aminah, setiap lembar genteng adalah saksi bisu perjuangan panjang sejak 1993 tentang kemandirian, pendidikan anak, dan cita-cita yang masih terus diikhtiarkan.

Penulis : Bela Fatma Atikah

Editor : Cyntia Auliyanti

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme