Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Meniti Langit Petahunan: Takdir Pahit Penderes Nira di Ujung Ember

Posted on Oktober 9, 2026 by athaya qila

sudutnalar.com, 9 Oktober 2026
Indah Kusuma Ningrum

Herdi (43) memanjat pohon kelapa setinggi 10 meter sambil membawa dua ember penampung nira di Desa Petahunan, Banyumas. (Foto: Sudutnalar.com/Indah Kusuma Ningrum)

BANYUMAS, SUDUTNALAR β€” Kabut tipis masih menggantung di atas dahan-dahan hijau Desa Petahunan, Kabupaten Banyumas, ketika jam dinding baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Di tengah hening desa yang berselimut hawa dingin menyengat, Herdi (43) melangkahkan kaki telanjangnya menembus semak-semak basah. Tanpa sabuk pengaman, helm, ataupun tali kelat (tali pengaman panjat), jemari tangannya yang kaku dan penuh kapalan mencengkeram erat tiap takik di batang pohon kelapa setinggi sepuluh meter. Di pinggangnya, dua buah ember penampung nira beradu pelan dengan pisau penderes yang terikat rapat, mengiringi keberanian seorang kepala keluarga yang saban hari bertaruh nyawa di langit Banyumas. 

Memanjat puluhan pohon kelapa bukan sekadar pekerjaan rutin bagi Herdi, melainkan laga pertaruhan hidup yang dipenuhi ancaman keselamatan. Selama 7 hingga 8 tahun terakhir, ia merawat 24 batang pohon kelapa yang tersebar di pekarangan sewa dan milik pribadi. Tugas itu menuntutnya naik-turun pohon dua kali sehari: pagi sebelum fajar menyingsing dan sore menjelang magrib. 

Risiko terbesar selalu mengintai ketika musim hujan tiba. Batang pohon licin dan hembusan angin kencang di ketinggian sering kali memaksa tubuhnya bertahan kaku di puncaknya. 

“Kalau musim hujan pasti licin. Yang paling bikin deg-degan itu kalau ada angin kencang. Kita lama di atas, bukan apa-apa, tapi pegangan terus menunggu angin reda,” tutur Herdi saat ditemui di kediamannya di RT 04/RW 02 Desa Petahunan. 

Bertahun-tahun bertarung dengan ketinggian meninggalkan bekas fisik yang tak lagi bisa disembunyikan. Hantaman angin malam dan guyuran air hujan kerap membuat badannya meriang dan masuk angin. Namun, bagian tubuh yang paling menanggung derita adalah persendian bawahnya. 

“Yang paling terasa sakit atau pegal itu kaki, terutama lutut. Apalagi kalau habis hujan-hujanan. Tapi ya tetap harus manjat. Kalau tidak manjat sehari, hasilnya kurang,” ungkapnya dengan nada datar tanpa penyesalan. 

Keringat dan rasa sakit di persendian lutut Herdi berbanding terbalik dengan realitas ekonomi yang ia terima. Hasil sadaan nira cair dari ember-ember di 24 pohon kelapa tersebut nantinya dijual dalam bentuk gula jadi ke pengepul skala lokal. Di tengah fluktuasi harga gula cair dan cetak yang kerap merosot murah di pasaran, pendapatan yang diraup sering kali jauh dari kata cukup untuk menutupi beratnya risiko nyawa yang ia pertaruhkan di atas pohon. 

Meski demikian, tidak ada celah bagi keluhan dalam prinsip hidup Herdi. Dorongan ekonomi dan tanggung jawab utamanya sebagai kepala keluarga untuk menyekolahkan anak-anaknya menjadi bahan bakar utama yang memadamkan rasa takut dan lelahnya. 

“Mungkin kalau hitungan orang ya kurang, tapi tetap saya syukuri. Tidak ada istilah mengeluh, karena bisanya saat ini ya penderes. Yang penting alhamdulillah bisa menyekolahkan anak-anak. Penginnya anak-anak sekolah sampai jenjang tinggi, jangan sampai jadi penderes seperti saya karena ini mempertaruhkan nyawa dan menguras tenaga,” ujar Herdi penuh harap. 

Matahari sore perlahan meredup di ufuk barat saat Herdi bersiap memanjat pohon terakhirnya untuk hari itu. Di balik bongkahan gula merah manis yang melengkapi hangatnya secangkir teh di meja-meja rumah perkotaan, ada jejak peluh, rasa sakit di persendian lutut, dan pertaruhan nyawa yang tak pernah tercatat di kuitansi perdagangan. 

“Manisnya rasa gula itu tidak semanis perjuangan penderes di sini. Hasilnya memang manis, tapi perjuangannya benar-benar menguras tenaga dan mempertaruhkan nyawa,” tutup Herdi mengukir senyum tipisβ€”sebuah pernyataan tenang dari seorang ayah yang merajut masa depan anak-anaknya di puncak pohon kelapa.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme