sudutnalar.com, 09 Oktober 2026
Oleh : Fatma Amalia Adyan

Di tengah aktivitas jual beli di Pasar Desa Kertanegara, lapak bunga milik Akhiroh masih menjadi bagian dari keseharian pasar. Bunga masih menjadi salah satu barang yang dibeli masyarakat, meskipun tidak lagi untuk keperluan yang sama seperti dahulu. Jika dulu bunga banyak dicari untuk berbagai keperluan tradisi, kini penggunaannya semakin terbatas.
Akhiroh telah berjualan bunga sejak dahulu. Ia masih mengingat masa ketika masyarakat ramai membeli bunga untuk keperluan tradisi, mulai dari tradisi untuk anak yang baru bisa berjalan hingga tradisi yang berkaitan dengan ibu hamil dan setelah melahirkan.

“Dulu memang banyak yang beli bunga untuk keperluan seperti itu. Ada yang untuk anak baru bisa berjalan, ada juga untuk ibu hamil dan setelah melahirkan,” ujar Akhiroh saat ditemui di kediamannya.
Salah satu tradisi yang kini semakin jarang dilakukan adalah membawa anak yang baru mulai berjalan ke sungai. Setelah membeli bunga di pasar, orang tua membawa anak menuju sungai yang berada di belakang pasar. Wajah anak kemudian dibasuh menggunakan air sungai, sedangkan bunga dihanyutkan mengikuti aliran air.
Bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi tersebut, air yang mengalir menjadi simbol harapan agar penyakit, malapetaka, dan marabahaya ikut pergi. Tradisi itu juga menjadi bentuk doa orang tua untuk keselamatan anak.
Menurut Akhiroh, tradisi tersebut dahulu cukup sering dilakukan masyarakat. Namun, keadaan itu perlahan berubah.
“Sekarang masih ada yang beli, tetapi tidak sebanyak dulu. Kalau bunga, kebanyakan orang sekarang beli untuk ke makam,” katanya.
Perubahan tidak hanya terlihat dari penggunaan bunga, tetapi juga dari bahan-bahan lain yang dahulu digunakan dalam tradisi masyarakat. Salah satunya adalah sambetan yang dijual Akhiroh. Selain bunga, ia menyediakan sambetan, yaitu campuran berbagai rempah yang dihaluskan dan dikenal dalam kebiasaan masyarakat setempat.
Dalam tradisi ketika anak mulai bisa berjalan, sambetan juga dapat digunakan sebelum anak dibawa ke sungai. Campuran rempah tersebut dioleskan pada kening anak sebagai bagian dari kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian keluarga. Penggunaannya tidak selalu sama karena bergantung pada kebiasaan dan keinginan masing-masing orang tua.
Namun, kebiasaan tersebut kini semakin jarang dilakukan. Pembeli lebih banyak memanfaatkan rempah-rempah yang dijual Akhiroh untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak. Perubahan penggunaan sambetan ini menjadi bagian lain dari perubahan kebiasaan masyarakat yang terjadi dari waktu ke waktu.
“Kalau sekarang lebih banyak yang beli rempah untuk masak. Kalau untuk tradisi sudah jarang,” ujar Akhiroh.
Pengalaman menjalankan tradisi tersebut juga masih diingat oleh Salbiyah, salah seorang warga setempat. Pada sekitar akhir 1990-an, ketika anaknya mulai bisa berjalan, ia pernah membawa anaknya untuk menjalani tradisi tersebut.
Salbiyah terlebih dahulu membeli bunga di pasar. Setelah itu, anak dibawa menuju sungai untuk dibasuh wajahnya menggunakan air sungai. Bunga yang telah dibeli kemudian dihanyutkan mengikuti aliran air.
“Dulu masih banyak yang melakukan. Saya juga pernah membawa anak ketika mulai bisa berjalan. Beli bunga di pasar, kemudian dibawa ke sungai,” ujar Salbiyah.
Menurut Salbiyah, tradisi tersebut dahulu masih sering terlihat di lingkungan masyarakat. Namun, kebiasaan itu kini hampir tidak pernah ditemuinya lagi.
“Sekarang sudah jarang sekali. Dulu masih sering kelihatan, sekarang hampir tidak pernah,” katanya.
Berkurangnya tradisi tersebut tidak membuat Akhiroh berhenti berjualan. Bunga dan berbagai rempah tetap menjadi bagian dari dagangannya. Ia hanya melihat bahwa kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang tersebut telah berubah.
Meski begitu, Akhiroh berharap masih ada generasi yang mau meneruskan pekerjaannya sekaligus mengenal tradisi yang pernah hidup di tengah masyarakat.
“Harapannya nanti masih ada yang meneruskan. Kalau saya sudah tidak ada, semoga masih ada yang jual bunga dan tradisi seperti itu tetap ada,” ujarnya.
Bunga-bunga di Pasar Desa Kertanegara masih dapat ditemukan hingga sekarang. Akhiroh masih menjualnya, dan masyarakat masih membelinya. Namun, sebagian tradisi yang dahulu membuat bunga memiliki fungsi lebih dari sekadar benda yang dibeli di pasar kini semakin jarang dilakukan.
Bunga itu masih ada, tetapi kebiasaan yang menyertainya perlahan mulai hilang.
