Penulis: Aflah Hafiz Amanullah | Narasumber: Bagas Tri Aryanto | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 19.23 WIB

BANYUMAS, SUDUTNALAR — Suara pembawa acara terdengar memenuhi ruangan. Perhatian penonton perlahan tertuju ke satu titik di atas panggung. Di sana, seorang pemuda berdiri dengan mikrofon di tangan, menyusun kata demi kata agar sebuah acara tetap mengalir. Tidak sekadar berbicara, ia harus menjaga suasana, membaca respons penonton, sekaligus memastikan setiap rangkaian acara berjalan sesuai alur. Sosok itu adalah Bagas Tri Aryanto, pemuda 19 tahun asal Cilacap yang kini dikenal sebagai salah satu MC dan moderator dalam berbagai kegiatan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Bagi sebagian orang, berdiri di depan banyak orang mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang MC dan moderator, panggung merupakan ruang yang menuntut kesiapan. Salah memilih kata, kehilangan fokus, atau tidak mampu membaca situasi dapat memengaruhi jalannya sebuah acara. Bagas memahami hal tersebut melalui proses panjang yang ia jalani hingga saat ini.
Jika harus menggambarkan perjalanan dirinya dalam satu kalimat, Bagas menyebutnya sebagai perjalanan “dari bakat yang terpendam lalu terlatih, sehingga mendunia di saat ini.” Kalimat tersebut menjadi gambaran bagaimana kemampuan yang awalnya belum sepenuhnya terlihat perlahan berkembang setelah mendapatkan ruang untuk diasah.
Berbicara mengenai bakat, bagi Bagas, bukanlah titik akhir. Justru bakat menjadi awal dari perjalanan yang membutuhkan latihan dan pengalaman. Ia menyadari bahwa kemampuan berbicara di depan umum tidak cukup hanya mengandalkan keberanian. Ada proses yang membuat seseorang semakin terbiasa menghadapi panggung, penonton, serta berbagai situasi yang tidak selalu dapat diprediksi.
Pengalaman hidup juga menjadi bagian penting dalam proses perkembangan Bagas. Ia tidak memandang pengalaman hanya sebagai rangkaian peristiwa yang telah berlalu. Setiap pengalaman memberikan pembelajaran yang dapat digunakan untuk menghadapi kehidupan dan kesempatan berikutnya.
“Seluruh pengalaman-pengalaman dalam hidup yang sudah terlewati, sehingga dari pengalaman tersebut menjadi pembelajaran lebih baik lagi di kemudian hari,” ungkap Bagas ketika menceritakan hal yang paling berkesan dan membuat dirinya berkembang hingga saat ini.
Ketertarikannya terhadap dunia MC dan moderator kemudian semakin kuat karena keinginannya untuk mengembangkan bakat tersebut. Di tengah zaman ketika profesi public speaker dan orang-orang yang tampil di atas panggung maupun layar semakin mendapat perhatian, Bagas melihat adanya ruang untuk terus bertumbuh.
Namun, sorotan yang diterima seorang public speaker tidak selalu menggambarkan keseluruhan prosesnya. Di balik penampilan yang terlihat percaya diri, terdapat tanggung jawab yang harus dipikul. Seorang MC perlu memahami susunan acara, membangun komunikasi dengan audiens, dan mampu beradaptasi dengan kondisi di lapangan. Sementara moderator dituntut mampu menjaga arah pembicaraan agar tetap sesuai dengan tema yang dibahas.
“Ingin mengembangkan bakat dan di zaman sekarang untuk public speaker atau orang-orang yang biasa di depan panggung atau layar kaca lebih menjadi primadona, tetapi juga banyak yang harus ditanggung di belakang layar tersebut,” ujar Bagas.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke berbagai panggung dan mempertemukannya dengan banyak orang. Salah satu pengalaman yang ia jalani adalah menjadi MC dalam Closing Ceremony dan Awarding KMI Expo XVII serta KBMK 2026. Ia juga dipercaya menjadi MC dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) pada tangkai lomba vokal keroncong kategori putra dan putri.
Tidak berhenti sebagai MC, Bagas juga mengambil peran sebagai moderator. Salah satunya dalam Seminar Kesehatan Mental Alerta Peka. Berada dalam berbagai jenis acara membuat pengalaman yang diperolehnya semakin beragam. Setiap panggung memiliki karakter audiens dan kebutuhan yang berbeda, sehingga menuntut kemampuan komunikasi yang terus berkembang.
Bagi Bagas, salah satu hal paling berharga dari perjalanan tersebut bukan semata-mata kesempatan untuk tampil di depan banyak orang. Ia justru menemukan nilai lebih dari pertemuan dengan berbagai pihak yang hadir dalam sebuah acara.
“Bertemu dengan tamu-tamu penting, penonton, dan orang-orang hebat dalam sebuah event,” menjadi salah satu pengalaman yang paling berharga baginya selama menjalani dunia MC dan moderator.
Panggung akhirnya bukan hanya tempat Bagas berbicara. Panggung menjadi ruang tempat ia menguji keberanian, mengasah kemampuan, dan belajar memahami manusia dengan segala karakter yang ditemuinya. Dari satu acara ke acara berikutnya, pengalaman tersebut membentuk dirinya menjadi sosok yang semakin siap menghadapi berbagai kesempatan.
Perjalanan Bagas Tri Aryanto memperlihatkan bahwa kemampuan yang terlihat sederhana di atas panggung sesungguhnya lahir dari proses panjang. Sebuah mikrofon mungkin hanya benda kecil di tangan seorang MC, tetapi di baliknya ada keberanian untuk memulai, latihan untuk berkembang, dan pengalaman untuk terus belajar.
Sebab, pada akhirnya, panggung tidak hanya mencari seseorang yang mampu berbicara. Panggung membutuhkan seseorang yang mampu membuat setiap kata memiliki arti.
