Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

‘Hidup Segan Mati Tak Mau’: Cerita Pak Manto dan 23 Kilometer Harapan Sopir Mikro Ajibarang–Gumelar

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Aditya Khairi Fahriza

sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Manto (65), sopir mikro rute Ajibarang-Gumelar, mengemudikan angkutannya demi menafkahi keluarga meski penumpang kian sepi. (Foto: Dok. Pribadi Aditya Khairi Fahriza)

BANYUMAS, SudutNalar – Deru mesin tua terdengar pelan menembus dinginnya udara pagi di tepi jalan Ajibarang. Di balik kemudi sebuah minibus berukuran sedang yang oleh warga setempat disebut mikro, seorang pria beruban melihat penumpangnya turun. Tangannya yang legam dimakan usia dengan tangkas memindahkan tuas transmisi, mengawali perjalanan panjang yang ia jalani saban hari.

Pria itu adalah Manto (65), warga Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Sejak 2005, Manto menggantungkan seluruh harapan keluarganya pada kemudi mikro miliknya sendiri. Jalur sepanjang sekitar 23 kilometer yang menghubungkan Kecamatan Ajibarang dan Kecamatan Gumelar menjadi saksi bisu perjuangannya mencari nafkah selama lebih dari dua dekade.

Setiap hari, tanpa kenal lelah, Manto memulai rutinitasnya sejak pukul 05.00 hingga 17.00. Dengan sabar ia menyusuri jalur berliku berkontur perbukitan khas Banyumas bagian barat untuk menjemput penumpang yang menunggu di pinggir jalan satu per satu.

Namun, zaman berubah kian cepat dan kerap tidak ramah bagi moda transportasi tradisional. Manto masih mengingat masa keemasan angkutan umum beberapa tahun silam,ketika kursi mikronya selalu penuh oleh anak sekolah dan warga yang hendak ke pasar. Kini, pemandangan itu perlahan memudar akibat maraknya kepemilikan kendaraan pribadi.

“Dulu jalanan penuh warga yang mau ke pasar atau anak-anak sekolah. Sekarang anak sekolah saja sudah pada bawa motor sendiri. Penumpang makin sepi, Mas,” ujar Manto sembari menatap jalanan yang lengang di hadapannya.

Manto (65) mengemudikan mikro rute Ajibarang-Gumelar yang hanya terisi satu penumpang. 
(Foto: Dok. Pribadi Aditya Khairi Fahriza)

Kenyataan pahit itu terlihat saat proses peliputan berlangsung. Dalam perjalanan pulang dari Gumelar menuju Desa Darmakradenan, hanya ada satu penumpang yang duduk di bangku belakang mikro milik Manto. Karena muatan sepi, Manto memutuskan tidak melanjutkan perjalanan hingga Terminal Ajibarang dan langsung pulang ke rumah.

Manto menuturkan, ketika sepi seperti sekarang, ia kerap hanya mampu menempuh rute pergi-pulang (PP) sebanyak 1,5 kali dalam sehari. Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa kejayaan angkutan desa belasan tahun lalu. “Dulu waktu masih ramai, sehari bisa sampai tiga kali PP. Sekarang kalau sepi begini, bisa dapat satu setengah kali PP saja sudah lumayan, Mas,” tutur Manto dengan nada datar.

Manto (65) merapikan uang pendapatan narik mikro rute Ajibarang-Gumelar di garasi rumahnya.
(Foto: Dok. Pribadi Aditya Khairi Fahriza)

Sepinya penumpang yang drastis ini kerap kali memukul perekonomian para sopir angkutan. Manto merinci, hasil narik dalam sehari sering kali tidak cukup untuk menutup biaya operasional paling mendasar, terutama pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

“Terkadang kalau lagi sepi banget, pendapatan seharian cuma habis buat beli solar. Buat dibawa pulang ke rumah ya tinggal sisanya, atau bahkan pas-pasan banget,” ucap Manto.

Meski begitu, ia tidak pernah melepaskan kemudi mikro tuanya. Di balik kemudi yang sederhana itu, Manto menyimpan kebanggaan mendalam. Dari hasil keringatnya mengemudi mikro inilah ia berhasil membesarkan anak-anaknya hingga menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kini, anak-anaknya telah mandiri dan berkeluarga.

Pada usia yang telah memasuki kepala enam, Manto kini tinggal berdua dengan istrinya di Desa Darmakradenan. Ia menolak menyerah pada keadaan atau menjadi beban bagi anak-anaknya.

“Selagi tubuh saya masih sehat dan diberi kekuatan, saya akan terus bekerja keras menafkahi istri dengan kerja keras saya sendiri. Rezeki sudah ada yang mengatur, yang penting kita mau berusaha,” tegas Manto.

Karena kesehariannya bergantung pada jalanan, stabilitas harga BBM menjadi harapan terpenting bagi Manto. Ia berharap harga solar terus stabil agar biaya operasionalnya tidak semakin membebani para pengemudi angkutan kecil.

Tak hanya itu, Manto menyimpan impian besar bagi moda transportasi di tanah kelahirannya. Ia membayangkan trayek Ajibarang-Gumelar mendapat perhatian lebih dari pemerintah, baik berupa peremajaan armada yang bersih dan modern maupun perbaikan jalan desa.

Ia mencontohkan angkutan pedesaan di Jepang, yang tetap tertata rapi, nyaman, dan dinikmati warga meski berada di daerah pelosok.

“Saya bayangkan kalau angkutan di desa saya bisa rapi dan maju seperti di Jepang. Walaupun di desa, fasilitasnya bagus. Supir tetap punya lahan pekerjaan yang layak, tapi transportasinya juga ikut berkembang mengikuti zaman,” ungkap Manto.

Sore itu, derak rem minibus tua Manto menyudahi perjalanan di garasi rumahnya di Desa Darmakradenan. Mesin dimatikan dan kesunyian seketika menyergap bilik kemudi. Dengan jemari yang kaku, Manto perlahan mengeluarkan dan merapikan beberapa lembar uang kertas hasil tarikan hari itu—pendapatan yang pas-pasan, tetap cukup untuk disyukuri. Di sudut garasi yang temaram, napas panjang Manto berembus pelan. Esok hari, roda mikro tua itu akan kembali berputar menantang zaman.

Penulis: Aditya Khairi Fahriza

Editor: Saskia Nova

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme