Aditya Khairi Fahriza
sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

BANYUMAS, SudutNalar – Deru mesin tua terdengar pelan menembus dinginnya udara pagi di tepi jalan Ajibarang. Di balik kemudi sebuah minibus berukuran sedang yang oleh warga setempat disebut mikro, seorang pria beruban melihat penumpangnya turun. Tangannya yang legam dimakan usia dengan tangkas memindahkan tuas transmisi, mengawali perjalanan panjang yang ia jalani saban hari.
Pria itu adalah Manto (65), warga Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Sejak 2005, Manto menggantungkan seluruh harapan keluarganya pada kemudi mikro miliknya sendiri. Jalur sepanjang sekitar 23 kilometer yang menghubungkan Kecamatan Ajibarang dan Kecamatan Gumelar menjadi saksi bisu perjuangannya mencari nafkah selama lebih dari dua dekade.
Setiap hari, tanpa kenal lelah, Manto memulai rutinitasnya sejak pukul 05.00 hingga 17.00. Dengan sabar ia menyusuri jalur berliku berkontur perbukitan khas Banyumas bagian barat untuk menjemput penumpang yang menunggu di pinggir jalan satu per satu.
Namun, zaman berubah kian cepat dan kerap tidak ramah bagi moda transportasi tradisional. Manto masih mengingat masa keemasan angkutan umum beberapa tahun silam,ketika kursi mikronya selalu penuh oleh anak sekolah dan warga yang hendak ke pasar. Kini, pemandangan itu perlahan memudar akibat maraknya kepemilikan kendaraan pribadi.
“Dulu jalanan penuh warga yang mau ke pasar atau anak-anak sekolah. Sekarang anak sekolah saja sudah pada bawa motor sendiri. Penumpang makin sepi, Mas,” ujar Manto sembari menatap jalanan yang lengang di hadapannya.

(Foto: Dok. Pribadi Aditya Khairi Fahriza)
Kenyataan pahit itu terlihat saat proses peliputan berlangsung. Dalam perjalanan pulang dari Gumelar menuju Desa Darmakradenan, hanya ada satu penumpang yang duduk di bangku belakang mikro milik Manto. Karena muatan sepi, Manto memutuskan tidak melanjutkan perjalanan hingga Terminal Ajibarang dan langsung pulang ke rumah.
Manto menuturkan, ketika sepi seperti sekarang, ia kerap hanya mampu menempuh rute pergi-pulang (PP) sebanyak 1,5 kali dalam sehari. Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa kejayaan angkutan desa belasan tahun lalu. “Dulu waktu masih ramai, sehari bisa sampai tiga kali PP. Sekarang kalau sepi begini, bisa dapat satu setengah kali PP saja sudah lumayan, Mas,” tutur Manto dengan nada datar.

(Foto: Dok. Pribadi Aditya Khairi Fahriza)
Sepinya penumpang yang drastis ini kerap kali memukul perekonomian para sopir angkutan. Manto merinci, hasil narik dalam sehari sering kali tidak cukup untuk menutup biaya operasional paling mendasar, terutama pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
“Terkadang kalau lagi sepi banget, pendapatan seharian cuma habis buat beli solar. Buat dibawa pulang ke rumah ya tinggal sisanya, atau bahkan pas-pasan banget,” ucap Manto.
Meski begitu, ia tidak pernah melepaskan kemudi mikro tuanya. Di balik kemudi yang sederhana itu, Manto menyimpan kebanggaan mendalam. Dari hasil keringatnya mengemudi mikro inilah ia berhasil membesarkan anak-anaknya hingga menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kini, anak-anaknya telah mandiri dan berkeluarga.
Pada usia yang telah memasuki kepala enam, Manto kini tinggal berdua dengan istrinya di Desa Darmakradenan. Ia menolak menyerah pada keadaan atau menjadi beban bagi anak-anaknya.
“Selagi tubuh saya masih sehat dan diberi kekuatan, saya akan terus bekerja keras menafkahi istri dengan kerja keras saya sendiri. Rezeki sudah ada yang mengatur, yang penting kita mau berusaha,” tegas Manto.
Karena kesehariannya bergantung pada jalanan, stabilitas harga BBM menjadi harapan terpenting bagi Manto. Ia berharap harga solar terus stabil agar biaya operasionalnya tidak semakin membebani para pengemudi angkutan kecil.
Tak hanya itu, Manto menyimpan impian besar bagi moda transportasi di tanah kelahirannya. Ia membayangkan trayek Ajibarang-Gumelar mendapat perhatian lebih dari pemerintah, baik berupa peremajaan armada yang bersih dan modern maupun perbaikan jalan desa.
Ia mencontohkan angkutan pedesaan di Jepang, yang tetap tertata rapi, nyaman, dan dinikmati warga meski berada di daerah pelosok.
“Saya bayangkan kalau angkutan di desa saya bisa rapi dan maju seperti di Jepang. Walaupun di desa, fasilitasnya bagus. Supir tetap punya lahan pekerjaan yang layak, tapi transportasinya juga ikut berkembang mengikuti zaman,” ungkap Manto.
Sore itu, derak rem minibus tua Manto menyudahi perjalanan di garasi rumahnya di Desa Darmakradenan. Mesin dimatikan dan kesunyian seketika menyergap bilik kemudi. Dengan jemari yang kaku, Manto perlahan mengeluarkan dan merapikan beberapa lembar uang kertas hasil tarikan hari itu—pendapatan yang pas-pasan, tetap cukup untuk disyukuri. Di sudut garasi yang temaram, napas panjang Manto berembus pelan. Esok hari, roda mikro tua itu akan kembali berputar menantang zaman.
Penulis: Aditya Khairi Fahriza
Editor: Saskia Nova
