Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Kayuhan Ikhlas di Jantung Purwokerto: 47 Tahun Pak Nasir Merajut Setia Bersama Becak dan Istri

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by aflah amanullah

Penulis: Muhammad Husydardam Rajasanagara | Narasumber: Nasir | Keterangan: Feature News | Kamis, 8 Oktober 2026 | 23.25 WIB

Potret Nasir (61) bersama becak kayuhnya di sela-sela waktu mencari nafkah di Alun-Alun Purwokerto. (Foto: Dok. Pribadi)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Deru mesin sepeda motor dan klakson kendaraan saling bersahutan membelah aspal hangat di kawasan Alun-Alun Purwokerto. Di antara deretan kendaraan modern yang bergerak cepat, sebuah becak kayuh tua tampak terparkir tenang di tepi jalan. Atas joknya yang mulai memudar, seorang pria duduk sembari menyeka bulir keringat di dahi dengan selembar kain lusuh.

Pria itu adalah Nasir, seorang lelaki tua berusia 61 tahun asal Kabupaten Banyumas. Di balik guratan wajah dan jemarinya yang legam termakan usia, tersimpan sebuah cerita ketangguhan yang luar biasa. Nasir telah mengayuh becak di sudut kota selama 47 tahun, sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar pada tahun 1979.

Bagi Nasir, becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan saksi bisu dari separuh perjalanan hidupnya. Waktu luangnya selepas sekolah pukul 10.00 pagi hingga menjelang malam pukul 20.00 WIB di masa kecil, ia habiskan untuk mencari nafkah di atas tiga roda.

“Dari kecil saya sudah mbecak di Purwokerto dan keinginan sendiri untuk menjadi tukang becak,” kenang Nasir dengan senyum tipis mengingat masa lalunya. Saat itu, lembaran uang Rp500 hingga Rp1.000 sudah terasa sangat mewah dan cukup untuk menyambung hari.

Namun waktu terus berjalan dan jalanan kota pun berubah drastis. Jika dahulu becak menjadi primadona transportasi warga lokal, kini modernisasi perlahan menggeser eksistensinya. Tansportasi yang beralih ke sistem digital disadari betul oleh Nasir sebagai tantangan terberatnya saat ini.

“Membecak sekarang itu sangat berbeda dengan dulu. Dulu belum ada ojek online, sedangkan sekarang sudah zamannya online-onlinenan. Belanja pun sekarang online dan becak pun kurang diminati oleh warga setempat,” tuturnya tanpa nada menghakimi.

Perubahan ini berimbas langsung pada ritme kerja dan penghasilannya. Nasir yang kini bermukim di Dusun Kutaliman, Kedungbanteng, harus memperpanjang waktu ikhtiarnya di jalanan. Jika dulu ia bisa pulang lebih awal, kini ia mulai mengayuh sejak pukul 06.00 pagi dan baru menyudahi harinya menjelang tengah malam, tepatnya pukul 23.30 WIB. Pendapatannya pun tidak lagi menentu; kadang ia hanya membawa pulang Rp50.000, namun jika beruntung di hari-hari tertentu, kantongnya bisa terisi hingga Rp500.000.

Di balik peluh yang mengucur setiap hari, Nasir tidak pernah benar-benar sendirian. Setengah dari napas perjuangannya adalah sang istri tercinta, Iin (62). Perempuan asal Arcawinangun itu turut mengadu nasib di tempat yang sama, menggelar lapak minuman ringan dan mainan anak di area depan alun-alun sejak sore pukul 16.00 WIB.

Bagi pasangan yang tidak dikaruniai buah hati ini, keterbatasan justru mengunci mati rasa ego mereka. Saat jarum jam mendekati pukul 23.30 WIB dan hujan deras mengguyur hingga membuat dagangan serta penumpang sepi, Nasir selalu hadir sebagai pelindung utama istrinya. Sebelum mereka pulang, dengan sigap Nasir merapikan seluruh perlengkapan dagangan Iin dan mengangkutnya pulang menggunakan becak tua miliknya.embuat dagangan serta penumpang sepi, Nasir selalu hadir sebagai pelindung utama istrinya. Sebelum mereka pulang, dengan sigap Nasir merapikan seluruh perlengkapan dagangan Iin dan mengangkutnya pulang menggunakan becak tua miliknya.

Potret Nasir saat membereskan perlengkapan dagangan milik istrinya sebelum mereka berdua pulang ke Dusun Kutaliman, Kedungbanteng. (Foto: Dok. Pribadi)

Ketika rasa lelah atau jenuh melanda tubuh tuanya, Nasir memilih tidak menyerah pada keadaan. Ia hanya butuh jeda untuk menarik napas dalam-dalam sebelum kembali bangkit bersemangat. “Cuma sekarang kita harus tetap tabah dan ikhlas dengan apa yang sudah kita miliki dan Tuhan berikan kepada kita. Bersyukur juga perlu, karena kita hanya manusia yang pasti tak pernah luput dari kesalahan,” ungkapnya bijak.

Di saat kayuhan becak dirasa tak lagi cukup menopang dapur, Nasir kerap beralih profesi sementara menjadi kuli bangunan jika ada proyek di sekitar tempat tinggalnya dengan upah sekitar Rp75.000 hingga Rp200.000. 

Harapan lelaki tua ini tidak muluk-muluk di masa senjanya. Ia hanya berdoa agar langkah kakinya dalam mencari nafkah selalu dipermudah oleh Yang Maha Kuasa. Nasir telah membuktikan bahwa kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga tidak melulu diukur dari kemewahan materi, melainkan dari ketabahan, rasa syukur, dan kesetiaan untuk saling menafkahi di bawah payung takdir yang sama.

Di antara laju cepat peradaban kota Purwokerto, kayuhan becak Nasir mengajarkan satu hal fundamental bagi siapa saja yang melihatnya. Hidup bukanlah tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan dan bersyukur atas apa yang ada di dalam genggaman tersebut.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme