sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Taheera Putri Basyara Tin

Potret Awal Hijrah Muhamad Sinar Isnovianto Syah atau Mas Alvian saat masih muda. Foto dokumentasi pribadi ini diambil pada masa awal mula ia memantapkan niat untuk meninggalkan lembah hitam jalanan. (Dokumentasi Pribadi)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Sebuah tato naga yang telah memudar warnanya membentang dari pergelangan tangan hingga ke balik lengan baju koko putih yang dikenakannya. Di bawah temaram lampu teras masjid, jemari yang dahulu akrab dengan dinginnya gagang belati dan botol minuman keras, kini dengan lembut membolak-balik lembaran mushaf Al-Qur’an.
Pria itu adalah Muhamad Sinar Isnovianto Syah (60 tahun), atau yang lebih dikenal di dunia hitam jalanan sebagai Agus Tato dan kini akrab disapa Mas Alvian. Pria kelahiran Makassar, 2 November 1966 yang mewarisi perpaduan darah bangsawan Ternate dari sang ayah dan suku Jawa dari sang ibu ini, memiliki rekam jejak masa lalu yang teramat kelam. Enam kali menjebloskan diri ke penjara adalah ijazah hitam hidupnya. Dari perkelahian, pembacokan, perampokan, hingga kasus pembunuhan di Jomblang, Kota Semarang, pernah ia lewati sebelum ketukan hidayah benar-benar mengubah arah hidupnya.
Ujian keistiqomahan Alvian dimulai saat sang kakak, Farida dan suaminya, Roy, mengajaknya untuk lebih serius mempelajari syariat dan memperdalam agama Islam yang benar. Awalnya, Alvian menolak keras karena kerasnya hati dan ego jalanan. Buku-buku tuntunan agama yang diberikan kakaknya bahkan sempat ia lempar ke pojokan masjid tempatnya menginap. Hatinya baru benar-benar luluh setelah melalui pergulatan batin yang panjang dan doa tahajud di kesunyian malam. Pada pertengahan Maret 1994, tepat dua hari menjelang Idulfitri, sebuah getaran batin yang dahsyat menuntun ia untuk berserah diri sepenuhnya dan memantapkan niat berbenah total di jalan Allah. Buku-buku keagamaan yang dulu ia buang, kini ia raih kembali dengan penuh hormat untuk dipelajari.
Setelah memeluk erat jalan Islam yang damai ini, Alvian memulai lembaran hidup baru. Namun, keimanan yang baru tumbuh itu langsung diuji oleh kerasnya realitas hidup. Kehidupan pribadinya berada dalam pilihan sulit setelah kegagalan pernikahan pertamanya pada tahun 1994. Setahun berselang, pada tahun 1995, ia membangun rumah tangga baru bersama Ibu Kusmiati.
Di tahun yang sama, anak pertama mereka lahir. Di sinilah perang batin paling hebat dalam hidupnya meletus. Sebagai kepala keluarga yang baru berhijrah, ia tidak memiliki pekerjaan pasti, sementara kebutuhan dapur mendesak. Di tengah kekalutan itu, teman-teman jalanannya datang menjemput, mengajaknya kembali beroperasi. Pikiran yang kalut menyeretnya kembali ke kubangan kriminal. Nafsu memenangkan perang batin tersebut hingga ia tertangkap basah menjambret perhiasan. Konsekuensinya sangat mahal, vonis 16 bulan penjara harus ia jalani. Alih-alih bisa menimang bayinya yang baru berusia dua minggu, sang preman garang justru harus kembali mendekam di balik dinginnya jeruji besi tahanan.
Pelajaran berharga itu membekas hingga ia bebas pada tahun 1997. Langkah kakinya membawa Alvian ke kawasan Alun-Alun Simpang Lima, Semarang. Dengan sisa uang yang ada, ia membeli sebungkus nasi, memakannya di tengah alun-alun, dan menangis sejadi-jadinya meratapi hidupnya yang tak tentu arah. Seharian penuh ia merenung, hingga pukul delapan malam, dorongan nurani menuntunnya mengetuk pintu sebuah masjid agung di kota Semarang.
Malam itu menjadi gerbang penyerahan diri yang total. Alvian membersihkan badannya, meminjam pakaian marbot setempat, dan memutuskan menetap di sana sebagai marbot masjid. Selama lima tahun penuh hingga tahun 2002, ia memendam ego jalanannya, berkhidmat menjaga kebersihan dan keamanan rumah Allah dengan ketelatenan luar biasa.
“Lebih baik saya menahan lapar daripada melihat masjid ini kotor,” ucapnya lirih.
Berkah dari menjaga rumah ibadah perlahan membuka jalan keluar bagi perekonomiannya. Berbekal keahlian menyetir, pada tahun 2002 ia keluar dari pengabdian penuh di masjid untuk bekerja sebagai sopir pribadi. Kepercayaan itu membawanya menjadi sopir pribadi seorang Kapolres di Sukoharjo pada periode 2007–2009. Bahkan, saat sang perwira polisi dimutasi ke Ternate, Alvian turut serta dan mampu menjembatani hubungan sang pejabat dengan Sultan Ternate berkat garis keturunan yang ia miliki. Ia terus mengabdi hingga tahun 2011, sebelum akhirnya memilih kembali ke Semarang demi mendampingi keluarga di tengah duka wafatnya sang ibunda tercinta pada 2010 dan kakak kandungnya, Hernawan, pada 2013.
Sejak tahun 2018, kehidupan Alvian telah jauh lebih tertata di Semarang. Bersama sang istri yang merintis usaha penyedia pagar besi, ia ikut membantu merakit dan mengantar barang pesanan konsumen. Kehidupan ekonomi yang berkecukupan mempermudah langkahnya untuk selalu hadir di barisan terdepan setiap kali ada kegiatan pengajian masjid.
Pergaulan dunia hitam masa lalu telah membentuk tipologi dirinya yang keras layaknya singa. Namun, kini ia belajar memadukannya secara bijaksana dengan kelembutan domba sesuai kebutuhan lapangan. Di sisa usianya, ingatan akan tumpukan dosa masa lalu sering kali membuatnya tersungkur menangis di atas sajadah.
Di tengah rintihan taubatnya, Tuhan pernah mencicipkan sebuah hiburan rohani yang tak akan pernah dilupakannya. Suatu hari selepas subuh, saat ia membaca Surah Al-Kahfi dengan khusyuk, mushaf Al-Qur’an di tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata. Alvian tersungkur bersujud seketika, mencium lembaran suci itu sambil meratap,
“Ya Allah, hamba akui banyak dosa. Terimalah pertobatan hamba dan ridoilah ibadahku, jauhkanlah hamba dari keburukan.”
Pengalaman spiritual lain juga hadir saat ia masih menjadi marbot masjid. Terbangun di tengah malam, ia melihat seutas tali kain kafan putih menabrak tubuhnya hingga ia terbangun sambil berteriak. Kejadian nyata itu ia maknai sebagai alarm keras dari Sang Pencipta. Bahwa segagah dan sekuat apa pun seorang preman di jalanan, pada akhirnya riwayat hidup manusia akan berakhir sama, dibungkus lilitan kain kafan dan berselimutkan tanah.
Masa lalu Pak Alvian dipenuhi gumpalan hitam jalanan dan dinginnya lantai penjara. Namun kini, di usianya yang menginjak berkepala enam, ia membuktikan bahwa lembaran akhir dari bab kehidupan selalu bisa ditulis ulang. Di bawah naungan atap masjid yang damai, sang mantan residivis telah menemukan rumah yang sesungguhnya untuk memperdalam Islam dan mengabdi hingga akhir hayat.
