Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Menjemput Rezeki di Usia Senja: Kisah Nenek Rus yang Tetap Gigih Bekerja

Posted on Oktober 9, 2026 by shafrifa aulia

Penulis: Fatma Cita Khoirunnisaa

Nenek Rus sedang membuatkan pesanan pembeli (Foto: Fatma Cita Khoirunnisaa)

KEBASEN, SUDUTNALAR – Suara kereta yang melintas terdengar dari sekitar tempat Nenek Rus berjualan. Di bawah pohon yang rindang, perempuan berusia 80 tahun itu duduk di dekat dagangannya. Kopi dan berbagai makanan ringan tertata di atas meja. Sesekali, pandangannya mengarah kepada orang-orang yang lewat di sekitar lokasi tersebut.

Sekitar pukul 10.00 WIB, Rus mulai membuka dagangannya. Ia datang dari rumah dengan mendorong gerobak yang berisi barang jualan. Setibanya di lokasi, kopi dan makanan ringan ditata sembari ia menunggu pembeli. Waktu berjualan biasanya berlangsung sampai sekitar pukul 17.00 WIB.

Lokasi tersebut cukup sederhana. Pohon rindang menjadi tempat Rus berteduh selama berada di sana. Di sela-sela menunggu pembeli, ia duduk dan memperhatikan keadaan sekitar. Ketika kereta melintas, suaranya terdengar cukup jelas dari tempat Rus berjualan. Suasana tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya selama menjalankan aktivitas berjualan.

Ketika ada pembeli, Rus segera melayani. Gerakannya tidak lagi secepat orang yang lebih muda karena usia yang sudah lanjut. Ia mengambil barang yang dipesan dan menyiapkannya dengan hati-hati. Setelah melayani pembeli, Rus kembali duduk sambil menunggu pembeli berikutnya.

Rus sudah berjualan sejak dulu, bahkan sebelum memiliki anak. Selama bertahun-tahun, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari kehidupannya. Ia kini memiliki empat orang anak. Biasanya, salah satu anak Rus ikut membantu ketika berjualan. Namun, kondisi itu berubah sejak sekitar seminggu terakhir karena anak yang biasa menemaninya sedang sakit.

Untuk sementara, Rus menjalankan kegiatan berjualannya sendiri. Ia mengurus barang dagangan, melayani orang yang membeli, hingga membereskan dagangan ketika waktunya pulang. Tidak ada anak yang duduk di sampingnya seperti biasa. Meski begitu, aktivitas berjualan tetap ia jalani dengan kemampuan yang dimilikinya.

Sebelum berjualan di dekat jalur kereta api, Rus pernah berjualan di sebuah warung yang berada di sekitar Overpass Kebasen. Lokasi sekarang tidak jauh dari tempat sebelumnya. Di tempat baru tersebut, ia memilih area di bawah pohon yang cukup rindang untuk berjualan.

Nenek Rus sedang duduk menunggu pembeli. (Foto: Fatma Cita Khoirunnisaa)

Belakangan ini, pembeli yang datang tidak selalu ramai. Terkadang ada beberapa orang membeli dagangannya, tetapi ada juga waktu ketika Rus harus menunggu pembeli yang datang cukup lama. Penghasilan yang diperoleh pun berbeda-beda setiap hari. Saat pembeli lebih banyak, hasil jualan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, ketika pembeli sedikit, pendapatan yang diperoleh juga lebih sedikit.

β€œKalau sekarang sepi, Mbak, jarang ada yang beli. Tapi saya tetap syukuri berapa pun hasilnya, buat memenuhi kebutuhan hidup saya,” ujarnya.

Bagi Rus, berjualan menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, keadaan dagangan yang tidak selalu ramai tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang telah dikenalnya sejak lama itu tetap dijalani meskipun kondisi dan kemampuannya kini tidak sama seperti ketika masih muda.

Selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan, Rus juga ingin mengajarkan kepada anak-anaknya agar mau bekerja keras. Ia berpesan supaya mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Pesan tersebut tidak hanya disampaikan melalui perkataan, tetapi juga terlihat dari kesehariannya. Di usia yang sudah lanjut, Rus masih memilih untuk bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

Menjelang pukul 17.00 WIB, Rus mulai membereskan dagangannya. Barang-barang yang masih tersisa dimasukkan kembali ke dalam gerobak. Setelah semuanya selesai, ia membawa gerobak tersebut pulang ke rumah. Tempat yang sejak pagi digunakan untuk berjualan kembali sepi setelah Rus meninggalkannya.

Bagi Rus, selama masih mampu bekerja, berjualan tetap menjadi pilihannya untuk mencari rezeki. Pembeli yang sepi dan kondisi usia yang tidak lagi muda tidak membuatnya patah semangat. Ia tetap menjalani pekerjaannya dengan gigih, sebagaimana yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme