Penulis: Fatma Cita Khoirunnisaa

KEBASEN, SUDUTNALAR – Suara kereta yang melintas terdengar dari sekitar tempat Nenek Rus berjualan. Di bawah pohon yang rindang, perempuan berusia 80 tahun itu duduk di dekat dagangannya. Kopi dan berbagai makanan ringan tertata di atas meja. Sesekali, pandangannya mengarah kepada orang-orang yang lewat di sekitar lokasi tersebut.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Rus mulai membuka dagangannya. Ia datang dari rumah dengan mendorong gerobak yang berisi barang jualan. Setibanya di lokasi, kopi dan makanan ringan ditata sembari ia menunggu pembeli. Waktu berjualan biasanya berlangsung sampai sekitar pukul 17.00 WIB.
Lokasi tersebut cukup sederhana. Pohon rindang menjadi tempat Rus berteduh selama berada di sana. Di sela-sela menunggu pembeli, ia duduk dan memperhatikan keadaan sekitar. Ketika kereta melintas, suaranya terdengar cukup jelas dari tempat Rus berjualan. Suasana tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya selama menjalankan aktivitas berjualan.
Ketika ada pembeli, Rus segera melayani. Gerakannya tidak lagi secepat orang yang lebih muda karena usia yang sudah lanjut. Ia mengambil barang yang dipesan dan menyiapkannya dengan hati-hati. Setelah melayani pembeli, Rus kembali duduk sambil menunggu pembeli berikutnya.
Rus sudah berjualan sejak dulu, bahkan sebelum memiliki anak. Selama bertahun-tahun, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari kehidupannya. Ia kini memiliki empat orang anak. Biasanya, salah satu anak Rus ikut membantu ketika berjualan. Namun, kondisi itu berubah sejak sekitar seminggu terakhir karena anak yang biasa menemaninya sedang sakit.
Untuk sementara, Rus menjalankan kegiatan berjualannya sendiri. Ia mengurus barang dagangan, melayani orang yang membeli, hingga membereskan dagangan ketika waktunya pulang. Tidak ada anak yang duduk di sampingnya seperti biasa. Meski begitu, aktivitas berjualan tetap ia jalani dengan kemampuan yang dimilikinya.
Sebelum berjualan di dekat jalur kereta api, Rus pernah berjualan di sebuah warung yang berada di sekitar Overpass Kebasen. Lokasi sekarang tidak jauh dari tempat sebelumnya. Di tempat baru tersebut, ia memilih area di bawah pohon yang cukup rindang untuk berjualan.

Belakangan ini, pembeli yang datang tidak selalu ramai. Terkadang ada beberapa orang membeli dagangannya, tetapi ada juga waktu ketika Rus harus menunggu pembeli yang datang cukup lama. Penghasilan yang diperoleh pun berbeda-beda setiap hari. Saat pembeli lebih banyak, hasil jualan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, ketika pembeli sedikit, pendapatan yang diperoleh juga lebih sedikit.
βKalau sekarang sepi, Mbak, jarang ada yang beli. Tapi saya tetap syukuri berapa pun hasilnya, buat memenuhi kebutuhan hidup saya,β ujarnya.
Bagi Rus, berjualan menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, keadaan dagangan yang tidak selalu ramai tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang telah dikenalnya sejak lama itu tetap dijalani meskipun kondisi dan kemampuannya kini tidak sama seperti ketika masih muda.
Selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan, Rus juga ingin mengajarkan kepada anak-anaknya agar mau bekerja keras. Ia berpesan supaya mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Pesan tersebut tidak hanya disampaikan melalui perkataan, tetapi juga terlihat dari kesehariannya. Di usia yang sudah lanjut, Rus masih memilih untuk bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.
Menjelang pukul 17.00 WIB, Rus mulai membereskan dagangannya. Barang-barang yang masih tersisa dimasukkan kembali ke dalam gerobak. Setelah semuanya selesai, ia membawa gerobak tersebut pulang ke rumah. Tempat yang sejak pagi digunakan untuk berjualan kembali sepi setelah Rus meninggalkannya.
Bagi Rus, selama masih mampu bekerja, berjualan tetap menjadi pilihannya untuk mencari rezeki. Pembeli yang sepi dan kondisi usia yang tidak lagi muda tidak membuatnya patah semangat. Ia tetap menjalani pekerjaannya dengan gigih, sebagaimana yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun.
