sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Penulis: Salsabilla Dewi Aulia

(Dok: Salsabilla Dewi Aulia)
CILACAP, SUDUTNALAR – Siang hari di Kroya, dekat perlintasan kereta api. Deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang berpadu dengan bunyi klakson yang bersahutan memenuhi jalanan. Di tengah riuhnya lalu lintas, seorang perempuan berdiri dengan tenang. Meski terik matahari dan padatnya kendaraan menjadi bagian dari pekerjaannya, senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya.
Ia bernama Nartem. Wanita berusia 48 tahun yang bekerja sebagai juru parkir di sebuah ruko. Ia mengenakan gamis dan hijab berwarna navy, serta menggunakan rompi oranye khas juru parkir pada umumnya. Ia menjadi juru parkir di barisan ruko dekat palang pintu perlintasan kereta api. Dengan sigap, ia membantu orang yang kendaraannya terparkir di ruko yang dijaga.
Suaminya juga bekerja sebagai juru parkir. Namun, berbeda lokasi dengan Nartem. Suaminnya bekerja di Cilacap, sedangkan ia sendiri di Kroya. Keduanya sama-sama mencari penghasilan dari pekerjaan yang setiap harinya bersinggungan dengan jalanan dan lalu lalang kendaraan.
Bekerja sebagai juru parkir sudah menjadi kegiatan Nartem selama 13 tahun. Ia mulai bekerja pada pukul 12 siang hingga 5 sore. Ia berdiri di tengah aktivitas kendaraan yang tidak pernah benar-benar sepi. Terik matahari, debu, asap, dan sirine palang pintu perlintasan menjadi saksi bisu perjuangannya dalam mencari pundi-pundi rupiah sebagai penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan hidup.
“Tidak ada kata lelah untuk mencari penghasilan, nggak ada kata capek,” ujarnya bersamaan dengan bunyi sirine tanda palang pintu perlintasan tertutup. Kereta api akan melintas.
Menjadi juru parkir adalah keinginan dari Nartem sendiri. Daripada berdiam diri di rumah, ia lebih memilih untuk mencari kegiatan, sudah pasti ada rezeki yang bisa mencukupi segala kebutuhan hidup. Walaupun hasil yang ia dapat tidak menentu karena bergantung pada banyaknya orang yang datang dan menggunakan area parkir.
“Namanya rezeki ada lah, walau sedikit pasti ada,” lirihnya.
Dari banyaknya juru parkir yang didominasi oleh kaum pria, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia justru merasa bangga.
“Saya bangga, karena bisa mengerjakan sesuatu hal yang biasanya dilakukan oleh laki-laki, belum tentu perempuan bisa,” ungkapnya dengan tawa kecil.
Selama 13 tahun Nartem bekerja, ia mengaku bahwa tidak ada tantangan baginya selama menjadi juru parkir.
“Namanya bekerja pasti ada senangnya ada susahnya, tapi nggak perlu dijelaskan,” ucapnya.
Bagi Nartem, hasil dari pekerjaannya bukan hanya sekadar penghasilan tambahan. Ada kebanggaan yang lebih besar ketika melihat anak-anaknya dapat melanjutkan pendidikan hingga menyelesaikan sekolah. Bahkan, salah satu anaknya dapat menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan kini telah bekerja.
“Alhamdulillah, semenjak saya jadi tukang parkir anak bisa selesai sekolah, ada yang bisa kuliah, dan sekarang sudah bekerja,” ujarnya.
Hal itulah yang membuat Nartem masih bertahan hingga sekarang. Ia ingin tetap memiliki penghasilan sendiri sekaligus membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Selama tubuhnya masih mampu berdiri dan bekerja, ia memilih untuk terus menjalani pekerjaannya.
Di antara deru mesin kendaraan dan sirine perlintasan kereta api, Nartem terus menjalani hari-harinya. Rompi oranye yang dikenakannya mungkin hanya terlihat sebagai tanda seorang juru parkir. Namun, di balik rompi itu ada keteguhan seorang perempuan yang memilih untuk bekerja, bertahan, dan mencari tambahan rezeki dengan caranya sendiri.
Bagi Nartem, menjadi juru parkir bukan sekadar mengatur kendaraan. Pekerjaan itu menjadi bagian dari perjuangannya untuk keluarga. Sebagai bukti bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, dapat membawa arti ketika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
