sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Bakhrie Muhammad Noor

Potret pekerja pengelola sampah ketika berada di tempat pengolahan (Dok.Bahri)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Setiap pekerjaan memiliki tantangannya sendiri. Ada pekerjaan yang memberikan kenyamanan, ada pula yang menuntut tenaga dan kesabaran lebih besar. Namun, di balik beratnya sebuah pekerjaan, selalu ada alasan yang membuat seseorang memilih untuk tetap bertahan. Bagi Pak Gito dan Pak Rianto, pekerja pengelolaan sampah di wilayah Grendeng, alasan itu berakar pada niat, tanggung jawab, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.
Setiap hari, keduanya berhadapan dengan sampah yang dikumpulkan dari rumah-rumah warga. Sejak pukul 08.00 hingga 16.00, mereka menjalankan pekerjaan yang mungkin tidak banyak mendapat perhatian, tetapi keberadaannya dibutuhkan masyarakat. Sampah yang diangkut kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk dipilah dan diproses agar tidak terus menumpuk di lingkungan.
Bagi sebagian orang, sampah mungkin hanya sesuatu yang perlu dibuang sejauh mungkin dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi Pak Gito dan Pak Rianto, sampah merupakan bagian dari pekerjaan yang harus diselesaikan. Di balik tumpukan tersebut, ada tanggung jawab yang mereka pikul setiap hari, bukan hanya untuk membantu menjaga lingkungan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Pak Gito telah bekerja sejak tempat pengolahan tersebut berdiri pada 2019. Selama bertahun-tahun, ia menjalani rutinitas yang tidak selalu mudah. Pekerjaan ini menuntut tenaga, terlebih ketika sampah terus berdatangan atau peralatan yang digunakan mengalami kerusakan.
“Pekerjaannya memang susah,” ujar Pak Gito.
Kesulitan itu bukan sekadar persoalan rasa lelah. Ketika mesin mengalami kerusakan, proses pengolahan dapat terhambat dan sampah yang telah dikumpulkan berpotensi menumpuk. Situasi tersebut membuat pekerjaan semakin berat karena sampah tetap harus ditangani, sementara proses pengolahan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
“Kadang-kadang yang lama itu mesinnya rusak. Mesinnya rusak nggak bisa giling, airnya tersendat,” kata Pak Rianto.
Dalam keadaan seperti itu, kesabaran menjadi bagian dari keseharian mereka. Pekerjaan yang harus diselesaikan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya tenaga terkuras, waktu terasa panjang, dan hasil yang diperoleh belum sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Namun, kehidupan tetap menuntut mereka untuk melangkah.
“Iya, memang pekerjaan itu ya memang capek, tapi gimana lagi,” tutur Pak Rianto.
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan kenyataan yang dihadapi banyak orang dalam menjalani kehidupan. Tidak semua orang memiliki keleluasaan untuk meninggalkan pekerjaan ketika merasa lelah. Ada tanggung jawab yang harus dipenuhi dan orang-orang yang menggantungkan harapan kepada mereka.
Bagi Pak Rianto, keluarga menjadi salah satu alasan untuk tetap bertahan. Ia menyadari bahwa penghasilan dari pekerjaannya tidak seberapa. Meski demikian, ia tetap menjalani pekerjaan tersebut karena mencari pekerjaan lain bukanlah perkara mudah.
“Saya kan sudah berkeluarga, walaupun gajinya nggak seberapa, tapi kan sudah niatnya,” ujarnya.
Dari perkataannya, terlihat bahwa kekuatan untuk bertahan tidak selalu datang dari besarnya penghasilan atau mudahnya keadaan. Terkadang, kekuatan itu tumbuh dari kesadaran tentang apa yang sedang diperjuangkan. Ketika pekerjaan dilakukan dengan niat dan tanggung jawab, hal yang berat tidak serta-merta menjadi ringan, tetapi terasa lebih mungkin untuk dijalani.
“Seberat apa pun kalau niat, ya ringan,” kata Pak Rianto.
Perkataan itu menjadi gambaran sederhana tentang arti keikhlasan. Ikhlas bukan berarti tidak pernah merasa lelah, tidak memiliki keluhan, atau harus selalu menerima keadaan tanpa berharap perubahan. Keikhlasan justru terlihat ketika seseorang tetap bersedia berusaha, meskipun memahami bahwa jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. Ada keteguhan untuk menjalankan tanggung jawab sekaligus harapan agar kehidupan dapat menjadi lebih baik.
Hal itu juga tidak membuat Pak Rianto berhenti berharap. Ia menginginkan tempat pengolahan sampah tersebut semakin maju dan kesejahteraan para pekerjanya meningkat. Menurutnya, peningkatan pembayaran dapat membantu menambah penghasilan yang mereka peroleh. Harapan tersebut menunjukkan bahwa menerima pekerjaan dengan ikhlas tidak berarti menyerah pada keadaan, melainkan tetap berusaha sambil memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Pekerjaan Pak Gito dan Pak Rianto mungkin berlangsung jauh dari perhatian banyak orang. Ketika masyarakat menikmati lingkungan yang lebih bersih, tidak semua orang mengetahui tenaga yang dikeluarkan untuk mengangkut dan mengolah sampah. Padahal, pekerjaan tersebut merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga lingkungan.
Dari keseharian mereka, ada pelajaran bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar penghasilan atau seberapa banyak orang yang memberikan penghargaan. Ada nilai lain yang tumbuh dari kesungguhan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus berusaha.
Pak Gito dan Pak Rianto mungkin tidak sedang melakukan sesuatu yang dianggap luar biasa. Mereka hanya menjalankan pekerjaan sehari-hari sebagaimana mestinya. Namun, justru dari rutinitas sederhana itu, kita dapat belajar bahwa kehidupan tidak selalu membutuhkan langkah besar untuk menunjukkan keteguhan. Terkadang, keberanian yang sesungguhnya adalah bangun setiap hari, kembali bekerja, dan menyelesaikan tanggung jawab meskipun keadaan belum sepenuhnya mudah.
Sebab, keikhlasan bukan tentang seberapa banyak seseorang mampu menerima, melainkan bagaimana ia tetap berusaha tanpa kehilangan harapan. Di balik pekerjaan yang kerap luput dari perhatian, Pak Gito dan Pak Rianto mengingatkan bahwa setiap usaha memiliki arti, setiap tanggung jawab layak dijalani dengan sungguh-sungguh, dan setiap kehidupan memiliki perjuangannya sendiri.
