sudutnalar.com, 08 Oktober 2026
Oleh: Chiquita Abidah Azni

PURWOKERTO, SUDUTNALAR— Pukul 06.15, suasana SMP 2 Selomerto, Wonosobo, masih terlihat sepi. Di satu-satunya pintu masuk sekolah, ada sebuah benda anyaman berbentuk kubah yang sengaja diletakkan di tempat yang mudah terlihat. Sebagian murid yang datang melewatinya begitu saja. Sebagian lain berhenti dan memperhatikan. Orang yang memajangnya adalah Mulyani Moelya, guru yang selalu berusaha datang lebih pagi daripada yang lain.
Benda itu adalah Bundengan, alat musik tradisional khas Wonosobo. Bagi Mulyani, yang juga seniman tradisi dan pegiat budaya, memajang Bundengan di pintu sekolah adalah cara untuk menjawab satu pertanyaan. “Kenapa anak-anak asing terhadap Bundengan? Ya, karena kita kurang edukasi,” ujarnya.
Mulyani mengenal Bundengan pada tahun 2015, ketika menonton pementasan di sebuah pendopo yang dimainkan Pak Munir dan Pak Pohori. Ia langsung tertarik pada bunyinya. “Irama yang dihasilkan itu cenderung bisa untuk terapi. Menurut saya itu mistis,” tuturnya. Menurutnya, Bundengan harus dimainkan dengan penuh perasaan, sepenuh jiwa, dan konsentrasi.
Berbeda dengan Bundengan, Tari Topeng Lengger adalah kesenian yang sudah lama ia kenal. Ia mulai serius menekuninya sejak tahun 1994, ketika sebuah lomba mengharuskannya membuat sebuah tarian yang bertujuan mengenalkan budaya daerah. Sejak itu ia belajar dari sesepuh Topeng Lengger di Ncanti, kemudian menggarap tari bersama Dwi Pranyoto.
Dari rasa cinta itulah Mulyani mulai mengenalkan Bundengan kepada murid-muridnya. Ia memainkannya langsung di depan mereka. Ketika ekstrakurikuler Bundengan dibuka, sekitar 30 anak bergabung. Kegiatan ekstrakurikuler itu berjalan pada tahun 2015 hingga 2016, dan sejak tahun 2018 Bundengan menjadi bagian dari pelajaran seni budaya.
Dalam proses pengenalan, tentu saja tidak semua murid langsung mengenalinya. Suatu kali, Bundengan disimpan di ruang penyimpanan sekolah. Beberapa murid yang melihatnya mengira itu tempat sampah. Ada juga yang mengira itu penutup untuk menggiring bebek. “Ini yang lucu,” kenang Mulyani. Ia pun menjelaskan cara memakainya, yaitu dibopong lalu dimainkan. “Mereka happy ternyata,” katanya.

Cara yang sama ia gunakan untuk Topeng Lengger. Saat menggarap Tari Kenyol Lengger untuk lomba SMA tingkat provinsi, ia menyisipkan pesan moral dan ajaran budi pekerti dalam gerakannya. Ketika memberi motivasi kepada siswa SMA 1 Wonosobo, ia sengaja tidak menyebut bahwa tarian itu adalah Topeng Lengger. Begitu acara selesai, ia bertanya apakah tarian itu bagus. “Bagus, Bu. Keren,” jawab mereka. Saat ia menjelaskan bahwa tarian tersebut adalah Tari Topeng Lengger, para siswa ternyata tidak merasa itu sesuatu yang ketinggalan zaman. “Mereka tidak menganggap kuno. Tinggal bagaimana kita mengomunikasikannya lewat gerak,” katanya.
Perhatian terhadap Bundengan ternyata datang juga dari luar negeri. Mulyani terlibat dalam penelitian akustik bersama Rosie Cook, mahasiswa konservatori Monash University, Australia. Rosie datang ke Wonosobo karena Bundengan yang dibawa Prof. Margaret Kartomi dari Dieng pada 1972 sudah rusak. Di Wonosobo, ia merasa bangga karena ada sekitar 40 Bundengan. Dari pertemuan itu, mereka mengadakan lokakarya di ISI Solo, Sydney University, Monash University, dan Melbourne University. Penelitian akustik Bundengan itu kemudian meraih Best Poster di ISMA 2019, Jerman.
“Saya bangga Bundengan sudah mendunia. Minimal sudah banyak yang lebih kenal,” kata Mulyani. Baginya, pengakuan itu adalah apresiasi sekaligus anugerah. Namun, bagi Mulyani, Bundengan bukan hanya soal pengakuan. Alat musik ini juga memberi ruang bagi orang lain.
Setiap kali tampil, ia memakai Topeng Lengger dengan iringan rekaman Bundengan yang dibuat Dana, mahasiswa musik, untuk tugas akhirnya. Vokalisnya adalah Nikola, anak penyandang disabilitas tunadaksa. Jika memungkinkan tampil tanpa rekaman, Mulyani mengajak dua pemain disabilitas. “Awalnya dia berbicara saja kesulitan. Sekarang, sudah 11 tahun bersama saya, rasa percaya dirinya muncul dan dia bisa lancar berbicara. Itu anugerah,” tutur Mulyani.
Dalam perjalanannya, Mulyani mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Olahraga, yang pada 2015 ikut merintis pengenalan Bundengan. Ia juga menerima dana abadi kebudayaan dari pemerintah pusat selama tiga tahun, dan berharap dukungan itu terus berlanjut. Soal masa depan Topeng Lengger, ia optimis. “Topeng Lengger tidak akan punah karena generasi muda sekarang mencintainya dengan kreasi-kreasi kerennya,” katanya.
Mimpinya adalah berkeliling dunia membawa Bundengan dan Topeng Lengger. Pada tahun 2024, ia pergi ke Berlin untuk bermain dalam film seni tentang Bundengan dan topeng yang disutradarai Alvi, sutradara asal Wonosobo. Di sana ia tampil tanpa rasa malu, dan penonton bertanya-tanya tentang alat dan topeng yang baru mereka lihat. Bundengan dan topeng itu kini dititipkan di Balai Budaya Berlin supaya pengunjung bisa mengenalnya.

Kepada semua generasi muda terutama generasi muda Wonosobo, Mulyani berpesan agar mencintai seni tradisi sepenuh hati. “Di era globalisasi, kita tidak hanya menyerap dari luar, tapi bagaimana kita mengglobalkan seni tradisi yang kita miliki,” katanya.
Kini Mulyani memiliki sekitar 100 Bundengan dan berencana membuat museum untuk menyimpannya. “Saya sebenarnya bukan pemain. Saya pecinta Bundengan dan Topeng Lengger,” ujarnya. Ia ingin generasi berikutnya tahu bahwa pernah ada orang yang berjuang untuk Bundengan. “Bagi saya, Bundengan dan Topeng Lengger adalah napas kehidupanku,” katanya. Di pintu masuk sekolah itu, Bundengan masih menunggu untuk dikenalkan kepada murid berikutnya.
