Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

GAP YEAR BUKAN BERARTI GAGAL: YESHA MEMBUKTIKAN dengan LANGKAH KECILNYA

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Fara Aulia Fadilah

Sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Sumber: Dokumentasi Pribadi Narasumber

 BOGOR, SUDUTNALAR— Seorang perempuan kelahiran Bogor kini tengah menjalani babak baru dalam hidupnya di Jakarta. Hari-harinya dipenuhi jadwal perkuliahan, buku-buku kedokteran, dan tuntutan akademik yang tidak ringan. Namun, perjalanan Yesha menuju bangku kuliah tidak ditempuh dalam satu langkah. Ada kegagalan yang pernah membuatnya berhenti sejenak, ada satu tahun yang ia habiskan untuk kembali mempersiapkan diri, dan sederet penolakan yang menguji keyakinannya terhadap sebuah mimpi. Semua hal itu membuat Yesha banyak belajar bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak selalu berjalan lurus.

Menjadi dokter bukanlah cita-cita yang mudah ia perjuangkan. Sebagai anak petani, ia menyadari bahwa untuk meraih Program Studi Kedokteran di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta membutuhkan biaya dan perjuangan yang besar. Tidak sedikit orang di sekitarnya yang menganggap mimpinya terlalu tinggi, bahkan Yesha sempat merasa untuk mengganti pilihannya.

“Apa saya ganti program studi saja ya?” ujar Yesha.

Namun, alih-alih mundur, Yesha justru mencari jalan supaya mimpi tersebut tetap bisa ia raih.

Perjalanan menuju perguruan tinggi sempat terhenti. Pada tahun 2025, Yesha dinyatakan tidak lulus SNBT. Kekecewaan tentu muncul, tetapi ia telah menyiapkan diri jika rencana pertamanya tidak berhasil. Setelah mengambil waktu untuk beristirahat, ia kembali belajar dan mempersiapkan UTBK untuk kesempatan berikutnya.

Masa gap year menjadi ruang bagi Yesha untuk menguji kegigihannya. Ia harus belajar secara mandiri, menyusun rencana sendiri, mengatur waktu, dan mendisiplinkan diri. Ia membutuhkan beberapa bulan untuk menemukan metode belajar yang tepat dan membangun kebiasaan belajar yang konsisten.

Di tengah proses itu, biaya pendidikan ikut menjadi pertimbangan. Yesha sadar bahwa untuk mengejar program studi kedokteran, ia membutuhkan dukungan beasiswa. Ia berkali-kali mendaftarkan diri dan berkali-kali pula menerima penolakan. Setiap penolakan membawa rasa kecewa dan membuat keraguan datang silih berganti.

“Mimpi saya ketinggian engga sih?” ucapnya.

pertanyaan itu selalu muncul dalam benak Yesha.

Setiap kali mengingat alasan awal mengapa ia memilih kedokteran, semangat itu kembali muncul. Ia mencoba belajar dan mendaftarkan diri lagi. Hingga akhirnya, salah satu beasiswa menerima Yesha sebagai awardee. Setelah satu tahun gap year, ia juga berhasil masuk ke program studi yang selama ini menjadi impiannya. 

Keberhasilan itu ternyata bukan akhir dari perjuangan. Memasuki dua bulan pertama perkuliahan, Yesha kembali berhadapan dengan tantangan baru. Padatnya jadwal, tuntutan akademik di program studinya, dan lingkungan yang berbeda sempat membuatnya kewalahan. Nilainya belum sesuai harapan, sementara target untuk aktif di luar kelas juga belum tercapai.

Pengalaman selama gap year membuatnya belajar untuk tidak terburu-buru menilai dirinya sendiri. Perlahan, kondisi akademiknya mulai terasa lebih stabil. Ia masih terus belajar menyeimbangkan perkuliahan dengan usaha mencari beasiswa tambahan atau pekerjaan untuk menunjang pendidikannya.

Bagi Yesha, menjadi dokter bukan sekadar tentang profesi. Ada alasan yang lebih besar di balik cita-cita itu, yaitu keinginan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Kedokteran dipilih karena luasnya bidang ilmu yang dimiliki membuatnya terus penasaran dan menikmati proses belajar.

Kini, perjalanan Yesha masih panjang. Ia masih harus melewati berbagai ujian, tugas, tuntutan akademik, dan tantangan kehidupan perkuliahan. Namun, perjalanan menuju bangku kedokteran telah memberinya satu pelajaran penting tentang keberhasilan tidak selalu datang dari jalan yang mudah dan lurus.

“Percayalah usaha kalian saat ini pasti ada hasilnya, entah itu seporsi kemenangan atau kebijaksanaan,” pesannya.

Bagi Yesha, gap year bukan tanda bahwa ia gagal. Satu tahun memang membuat langkahnya tertunda, tetapi di masa itulah ia belajar untuk kembali berdiri setiap kali jatuh, mencoba kembali setiap kali ditolak, dan menjaga mimpi tetap hidup ketika keadaan membuatnya ragu. Sebab, terkadang sebuah mimpi memang membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai, bukan untuk berakhir, melainkan untuk menjadi lebih berarti.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme