
Foto anak muda Desa Kuta saat masih aktif terlibat sebagai penabuh gamelan di acara Ulang Tahun Paguyuban Kuta Budaya. / Dok. Pribadi
PEMALANG, SudutNalar — Debu tipis perlahan menyelimuti lantai keramik yang dulunya menjadi saksi bisu dari langkah-langkah bersepatu hitam. Bangunan SD Negeri 03 Kuta itu tak lagi memantulkan riuh rendah tawa anak-anak maupun suara lantang wali kelasnya. Di Dusun Suwuk, Desa Kuta, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, berhentinya denyut nadi sekolah tersebut terjadi akibat kekurangan murid yang membuat murid-muridnya harus dimutasi ke SD Negeri 01 Kuta. Kini hanya menyisakan keheningan yang panjang. Ruang guru yang sempat disulap menjadi BUMDes pun tak mampu bertahan lama, hingga akhirnya ikut gulung tikar dan mengunci rapat pintunya.
Namun, jika malam tiba, dari dalam salah satu ruang kelas yang terbengkalai itu, mengalun sayup-sayup kehidupan yang menolak mati. Suara gending gamelan beradu dengan dinginnya angin malam, mengudara melewati batas-batas desa.
Alunan itu berasal dari perkumpulan warga yang tergabung dalam Paguyuban Kuta Budaya. Ruang kelas yang sudah kehilangan meja dan bangkunya kini dialihfungsikan sebagai “rumah” bagi jajaran saron, demung, bonang, hingga kendang. Namun, pemandangan yang terlihat di dalam ruangan tersebut terasa kontras jika ditarik mundur ke beberapa tahun silam.
Masa kejayaan yang belum terlalu lama berlalu. Pada peringatan ulang tahun kedua paguyuban yang digelar di Balai Desa, hanya berjarak satu petak lahan warga dari gedung SD ini, gamelan tidak ditabuh oleh tangan-tangan yang menua. Kala itu, wajah-wajah muda nan segar duduk bersila, bergotong royong membunyikan nada, menjaga tradisi dengan penuh kebanggaan.
Kini, anak-anak muda tersebut telah beranjak dewasa. Mereka telah menikah, memiliki anak, dan terseret ke dalam pusaran tanggung jawab dunia nyata. Regenerasi gending secara perlahan terhenti. Sabar, salah seorang warga yang sangat aktif dalam kelompok seni ini, menuturkan pandangannya.
“Ya begitu memang, makin ke sini makin kurang yang minat. Kalau dari yang saya perhatikan, anak-anak mudanya mulai pada sibuk. Ada yang mulai fokus kuliah, banyak juga yang mulai kerja,” ungkap Sabar saat diajak berbincang. Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. “Selain itu, ada juga yang ketertarikannya sudah beda. Anak angkatan desa yang sekarang lebih berminat ke hiburan atau budaya luar.”
Kutipan santai namun getir ini menohok. Tuntutan kehidupan, himpitan ekonomi, dan derasnya arus modernisasi perlahan merebut waktu serta minat generasi penerus di Dusun Suwuk.
Ketidakhadiran kaum muda ini memunculkan ironi sekaligus keteguhan tersendiri. Ketika tongkat estafet itu perlahan terlepas dari genggaman pemuda, para orang tualah yang kembali memungutnya. Saat ini, anggota paguyuban yang aktif berlatih menyisakan bapak-bapak dan ibu-ibu. Tanpa mengenal lelah, setelah seharian mengurus rumah tangga atau bekerja, mereka tetap berkumpul.
Tidak ada lagi ambisi membara untuk tampil di panggung besar. Latihan rutin yang mereka gelar di dalam ruang kelas pengap itu kini berubah wujud menjadi sebuah bentuk cinta murni dan penolakan terhadap kepunahan. Nada demi nada dipukul dengan teliti, saling bersahutan membentuk harmoni yang menenangkan, seolah sedang merawat ingatan mereka sendiri.
Nasib gedung SD Negeri 03 Kuta yang terpaksa ditutup akibat kekurangan murid rasanya seperti menjadi metafora paling nyata bagi Paguyuban Kuta Budaya. Keduanya sama-sama bertahan hidup di tengah ancaman hilangnya generasi penerus. Malam itu, sayup gending kembali mengalun, sebelum akhirnya perlahan ditelan pekatnya awan di langit. Ketika pukulan gong terakhir dibunyikan, ada rasa ngilu yang tertinggal di udara. Jika kelak tangan-tangan renta ini sudah tak sanggup mengangkat tabuh, siapakah yang akan memecah keheningan di ruang kelas itu? Ataukah tradisi ini memang ditakdirkan untuk bernasib sama dengan bangunan sekolahnya yang ditutup rapat, ditinggalkan, dan hanya menjadi sebatas kenangan?
Reporter: Fauzan Haris Wiarso
