Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Gema Gending di Ruang Kelas yang Terbengkalai

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Foto anak muda Desa Kuta saat masih aktif terlibat sebagai penabuh gamelan di acara Ulang Tahun Paguyuban Kuta Budaya. / Dok. Pribadi

PEMALANG, SudutNalar — Debu tipis perlahan menyelimuti lantai keramik yang dulunya menjadi saksi bisu dari langkah-langkah bersepatu hitam. Bangunan SD Negeri 03 Kuta itu tak lagi memantulkan riuh rendah tawa anak-anak maupun suara lantang wali kelasnya. Di Dusun Suwuk, Desa Kuta, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, berhentinya denyut nadi sekolah tersebut terjadi akibat kekurangan murid yang membuat murid-muridnya harus dimutasi ke SD Negeri 01 Kuta. Kini hanya menyisakan keheningan yang panjang. Ruang guru yang sempat disulap menjadi BUMDes pun tak mampu bertahan lama, hingga akhirnya ikut gulung tikar dan mengunci rapat pintunya.

Namun, jika malam tiba, dari dalam salah satu ruang kelas yang terbengkalai itu, mengalun sayup-sayup kehidupan yang menolak mati. Suara gending gamelan beradu dengan dinginnya angin malam, mengudara melewati batas-batas desa.

Alunan itu berasal dari perkumpulan warga yang tergabung dalam Paguyuban Kuta Budaya. Ruang kelas yang sudah kehilangan meja dan bangkunya kini dialihfungsikan sebagai “rumah” bagi jajaran saron, demung, bonang, hingga kendang. Namun, pemandangan yang terlihat di dalam ruangan tersebut terasa kontras jika ditarik mundur ke beberapa tahun silam.

Masa kejayaan yang belum terlalu lama berlalu. Pada peringatan ulang tahun kedua paguyuban yang digelar di Balai Desa, hanya berjarak satu petak lahan warga dari gedung SD ini, gamelan tidak ditabuh oleh tangan-tangan yang menua. Kala itu, wajah-wajah muda nan segar duduk bersila, bergotong royong membunyikan nada, menjaga tradisi dengan penuh kebanggaan.

Kini, anak-anak muda tersebut telah beranjak dewasa. Mereka telah menikah, memiliki anak, dan terseret ke dalam pusaran tanggung jawab dunia nyata. Regenerasi gending secara perlahan terhenti. Sabar, salah seorang warga yang sangat aktif dalam kelompok seni ini, menuturkan pandangannya.

“Ya begitu memang, makin ke sini makin kurang yang minat. Kalau dari yang saya perhatikan, anak-anak mudanya mulai pada sibuk. Ada yang mulai fokus kuliah, banyak juga yang mulai kerja,” ungkap Sabar saat diajak berbincang. Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. “Selain itu, ada juga yang ketertarikannya sudah beda. Anak angkatan desa yang sekarang lebih berminat ke hiburan atau budaya luar.”

Kutipan santai namun getir ini menohok. Tuntutan kehidupan, himpitan ekonomi, dan derasnya arus modernisasi perlahan merebut waktu serta minat generasi penerus di Dusun Suwuk.

Ketidakhadiran kaum muda ini memunculkan ironi sekaligus keteguhan tersendiri. Ketika tongkat estafet itu perlahan terlepas dari genggaman pemuda, para orang tualah yang kembali memungutnya. Saat ini, anggota paguyuban yang aktif berlatih menyisakan bapak-bapak dan ibu-ibu. Tanpa mengenal lelah, setelah seharian mengurus rumah tangga atau bekerja, mereka tetap berkumpul.

Tidak ada lagi ambisi membara untuk tampil di panggung besar. Latihan rutin yang mereka gelar di dalam ruang kelas pengap itu kini berubah wujud menjadi sebuah bentuk cinta murni dan penolakan terhadap kepunahan. Nada demi nada dipukul dengan teliti, saling bersahutan membentuk harmoni yang menenangkan, seolah sedang merawat ingatan mereka sendiri.

Nasib gedung SD Negeri 03 Kuta yang terpaksa ditutup akibat kekurangan murid rasanya seperti menjadi metafora paling nyata bagi Paguyuban Kuta Budaya. Keduanya sama-sama bertahan hidup di tengah ancaman hilangnya generasi penerus. Malam itu, sayup gending kembali mengalun, sebelum akhirnya perlahan ditelan pekatnya awan di langit. Ketika pukulan gong terakhir dibunyikan, ada rasa ngilu yang tertinggal di udara. Jika kelak tangan-tangan renta ini sudah tak sanggup mengangkat tabuh, siapakah yang akan memecah keheningan di ruang kelas itu? Ataukah tradisi ini memang ditakdirkan untuk bernasib sama dengan bangunan sekolahnya yang ditutup rapat, ditinggalkan, dan hanya menjadi sebatas kenangan?

Reporter: Fauzan Haris Wiarso

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme