Penulis: Jihan Ardelia Az Zahra

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Di salah satu lapak bunga Pasar Manis, Purwokerto, Tarsiwen (70) masih menggantungkan hidup pada pekerjaan yang telah ditekuninya selama puluhan tahun. Berjualan bunga menjadi sumber utama penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski usia terus bertambah dan pendapatannya tidak menentu, ia tetap bekerja selama kondisi tubuhnya memungkinkan.
“Dari tadi baru dapat Rp10.000, sampai sekarang belum ada yang beli lagi,” ungkap Tarsiwen. Saat diwawancarai di Pasar Manis, Purwokerto, pada (7/10/2026).
Jumlah tersebut bahkan belum cukup untuk menutupi ongkos angkutan kota sebesar Rp30.000 yang harus dikeluarkannya untuk perjalanan pulang pergi dari rumah menuju pasar. Namun, keadaan itu tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.
Jejak Sang Ibu dalam Perjalanan Berdagang
Tarsiwen mulai mengenal pekerjaan sebagai pedagang ketika mengikuti ibunya berjualan bunga secara berkeliling. Saat itu, mereka belum memiliki tempat berjualan tetap. Seiring waktu, barang dagangan mereka bertambah, mulai dari kinang hingga empon-empon atau rempah-rempah tradisional.
“Dulu hanya berjualan bunga keliling bersama ibu saya,” kenang Tarsiwen.
Usaha yang dirintis ibunya itu kemudian diteruskan oleh Tarsiwen. Ia telah berjualan sejak pasar tempatnya mencari nafkah masih dikenal sebagai Pasar Pekih, sebelum kemudian menjadi Pasar Manis. Pergantian nama pasar menjadi salah satu perubahan yang dilaluinya selama menjalani pekerjaan tersebut.
Meski waktu terus berjalan, Tarsiwen tetap mengandalkan usaha yang diwariskan ibunya. Bunga-bunga yang dijajakannya bukan hanya barang dagangan, melainkan sumber penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sepinya Pembeli, Tak Menentunya Penghasilan
Ketika berjualan setiap hari, Tarsiwen berangkat dari rumahnya di Karanggude sekitar pukul 06.30 WIB menggunakan angkutan kota. Ia biasanya mengakhiri aktivitas berdagang ketika azan zuhur berkumandang atau sekitar pukul 12.00 WIB.
Selama berada di pasar, Tarsiwen menunggu pembeli yang datang untuk membeli bunga. Namun, dagangannya tidak selalu laku dalam jumlah banyak. Bunga bukan kebutuhan yang dibeli setiap orang setiap hari sehingga jumlah pembeli sulit diperkirakan.
Menurut Tarsiwen, kondisi perdagangan bunga dari dahulu hingga sekarang tidak banyak berubah. Penjualan bergantung pada kebutuhan pembeli sehingga pendapatannya tidak dapat dipastikan setiap hari.
Di sisi lain, kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Penghasilan dari berjualan bunga digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari, termasuk kegiatan sosial seperti memberikan sumbangan. Ia juga harus menyediakan modal untuk kembali berdagang serta membayar ongkos perjalanan menuju pasar.
Keadaan tersebut menjadi tantangan bagi Tarsiwen. Waktu dan tenaga yang dikeluarkan sejak pagi tidak selalu sebanding dengan hasil penjualan. Meski demikian, ia tetap menjalani pekerjaannya karena berdagang bunga merupakan sumber utama penghidupannya.
Tetap Bertahan di Usia Senja
Pada usia 70 tahun, Tarsiwen harus menyesuaikan aktivitas berdagang dengan kondisi kesehatannya. Ketika merasa kurang sehat, ia memilih beristirahat dan tidak pergi ke pasar. Ia juga pernah berhenti berjualan selama satu minggu ketika cucunya melangsungkan pernikahan.
Namun, selama tubuhnya masih mampu, Tarsiwen lebih memilih bekerja daripada hanya berdiam diri. Berdagang telah menjadi kebiasaan yang dijalaninya sejak mengikuti sang ibu. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, pekerjaan itu membuatnya tetap memiliki kegiatan sehari-hari.
Ketika waktu berjualan berakhir, bunga yang belum laku tidak langsung dibuang. Ia menutup dan menyimpan dagangannya agar dapat dibawa kembali ke pasar pada hari berikutnya. Dengan demikian, bunga yang tersisa masih memiliki kesempatan untuk terjual.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upayanya mempertahankan usaha di tengah pendapatan yang tidak menentu. Tarsiwen tidak mengetahui berapa banyak pembeli yang akan datang keesokan harinya. Namun, selama kondisi tubuhnya memungkinkan, ia tetap berusaha menjalani pekerjaan yang telah diwariskan oleh ibunya.
Harapan di Balik Lapak Bunga
Puluhan tahun telah berlalu sejak Tarsiwen pertama kali mengikuti ibunya berjualan bunga. Pasar yang dahulu dikenalnya sebagai Pasar Pekih kini bernama Pasar Manis. Namun, pekerjaan yang menjadi sumber penghidupannya tetap sama.
Memasuki usia senjanya, ia masih harus menghadapi pendapatan yang tidak menentu serta ongkos perjalanan yang dikeluarkan setiap kali berjualan. Hasil penjualan sebesar Rp10.000 saat wawancara menjadi salah satu gambaran tentang ketidakpastian yang dihadapinya sebagai pedagang kecil.
Meski demikian, Tarsiwen tetap menjalani pekerjaannya selama kondisi tubuhnya memungkinkan. Ketika waktu Zuhur tiba, ia mengakhiri aktivitas berdagang dan menyimpan bunga yang belum terjual untuk dibawa kembali pada hari berikutnya.
Bagi Tarsiwen, bunga yang tersisa hari ini masih memiliki kesempatan untuk dijual esok hari. Selama tubuhnya mampu, ia akan terus kembali ke pasar, menjalani pekerjaan yang telah menjadi tumpuan hidupnya selama puluhan tahun.
