Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Balik Lapak Bunga: Kisah Tarsiwen Menyambung Hidup di Usia Senja

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com

Penulis: Jihan Ardelia Az Zahra

(Tarsiwen di Lapak Bunganya, Pasar Manis, Purwokerto. Sumber: Jihan Ardelia Az Zahra)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Di salah satu lapak bunga Pasar Manis, Purwokerto, Tarsiwen (70) masih menggantungkan hidup pada pekerjaan yang telah ditekuninya selama puluhan tahun.  Berjualan bunga menjadi sumber utama penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski usia terus bertambah dan pendapatannya tidak menentu, ia tetap bekerja selama kondisi tubuhnya memungkinkan. 

“Dari tadi baru dapat Rp10.000, sampai sekarang belum ada yang beli lagi,” ungkap Tarsiwen. Saat diwawancarai di Pasar Manis, Purwokerto, pada (7/10/2026).

Jumlah tersebut bahkan belum cukup untuk menutupi ongkos angkutan kota sebesar Rp30.000 yang harus dikeluarkannya untuk perjalanan pulang pergi dari rumah menuju pasar. Namun, keadaan itu tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.

Jejak Sang Ibu dalam Perjalanan Berdagang

Tarsiwen mulai mengenal pekerjaan sebagai pedagang ketika mengikuti ibunya berjualan bunga secara berkeliling. Saat itu, mereka belum memiliki tempat berjualan tetap. Seiring waktu, barang dagangan mereka bertambah, mulai dari kinang hingga empon-empon atau rempah-rempah tradisional.

“Dulu hanya berjualan bunga keliling bersama ibu saya,” kenang Tarsiwen.

Usaha yang dirintis ibunya itu kemudian diteruskan oleh Tarsiwen. Ia telah berjualan sejak pasar tempatnya mencari nafkah masih dikenal sebagai Pasar Pekih, sebelum kemudian menjadi Pasar Manis. Pergantian nama pasar menjadi salah satu perubahan yang dilaluinya selama menjalani pekerjaan tersebut.

Meski waktu terus berjalan, Tarsiwen tetap mengandalkan usaha yang diwariskan ibunya. Bunga-bunga yang dijajakannya bukan hanya barang dagangan, melainkan sumber penghasilan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sepinya Pembeli, Tak Menentunya Penghasilan

Ketika berjualan setiap hari, Tarsiwen berangkat dari rumahnya di Karanggude sekitar pukul 06.30 WIB menggunakan angkutan kota. Ia biasanya mengakhiri aktivitas berdagang ketika azan zuhur berkumandang atau sekitar pukul 12.00 WIB.

Selama berada di pasar, Tarsiwen menunggu pembeli yang datang untuk membeli bunga. Namun, dagangannya tidak selalu laku dalam jumlah banyak. Bunga bukan kebutuhan yang dibeli setiap orang setiap hari sehingga jumlah pembeli sulit diperkirakan.

Menurut Tarsiwen, kondisi perdagangan bunga dari dahulu hingga sekarang tidak banyak berubah. Penjualan bergantung pada kebutuhan pembeli sehingga pendapatannya tidak dapat dipastikan setiap hari.

Di sisi lain, kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Penghasilan dari berjualan bunga digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari, termasuk kegiatan sosial seperti memberikan sumbangan. Ia juga harus menyediakan modal untuk kembali berdagang serta membayar ongkos perjalanan menuju pasar.

Keadaan tersebut menjadi tantangan bagi Tarsiwen. Waktu dan tenaga yang dikeluarkan sejak pagi tidak selalu sebanding dengan hasil penjualan. Meski demikian, ia tetap menjalani pekerjaannya karena berdagang bunga merupakan sumber utama penghidupannya.

Tetap Bertahan di Usia Senja

Pada usia 70 tahun, Tarsiwen harus menyesuaikan aktivitas berdagang dengan kondisi kesehatannya. Ketika merasa kurang sehat, ia memilih beristirahat dan tidak pergi ke pasar. Ia juga pernah berhenti berjualan selama satu minggu ketika cucunya melangsungkan pernikahan.

Namun, selama tubuhnya masih mampu, Tarsiwen lebih memilih bekerja daripada hanya berdiam diri. Berdagang telah menjadi kebiasaan yang dijalaninya sejak mengikuti sang ibu. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, pekerjaan itu membuatnya tetap memiliki kegiatan sehari-hari.

Ketika waktu berjualan berakhir, bunga yang belum laku tidak langsung dibuang. Ia menutup dan menyimpan dagangannya agar dapat dibawa kembali ke pasar pada hari berikutnya. Dengan demikian, bunga yang tersisa masih memiliki kesempatan untuk terjual.

Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upayanya mempertahankan usaha di tengah pendapatan yang tidak menentu. Tarsiwen tidak mengetahui berapa banyak pembeli yang akan datang keesokan harinya. Namun, selama kondisi tubuhnya memungkinkan, ia tetap berusaha menjalani pekerjaan yang telah diwariskan oleh ibunya.

Harapan di Balik Lapak Bunga

Puluhan tahun telah berlalu sejak Tarsiwen pertama kali mengikuti ibunya berjualan bunga. Pasar yang dahulu dikenalnya sebagai Pasar Pekih kini bernama Pasar Manis. Namun, pekerjaan yang menjadi sumber penghidupannya tetap sama.

Memasuki usia senjanya, ia masih harus menghadapi pendapatan yang tidak menentu serta ongkos perjalanan yang dikeluarkan setiap kali berjualan. Hasil penjualan sebesar Rp10.000 saat wawancara menjadi salah satu gambaran tentang ketidakpastian yang dihadapinya sebagai pedagang kecil.

Meski demikian, Tarsiwen tetap menjalani pekerjaannya selama kondisi tubuhnya memungkinkan. Ketika waktu Zuhur tiba, ia mengakhiri aktivitas berdagang dan menyimpan bunga yang belum terjual untuk dibawa kembali pada hari berikutnya.

Bagi Tarsiwen, bunga yang tersisa hari ini masih memiliki kesempatan untuk dijual esok hari. Selama tubuhnya mampu, ia akan terus kembali ke pasar, menjalani pekerjaan yang telah menjadi tumpuan hidupnya selama puluhan tahun.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme