Oleh: Nazzila Juny Month

KULONPROGO, SUDUTNALAR — Cahaya temaram baru saja merayap di celah pekarangan rumah saat lantunan selawat dan derit pintu kandang saling bersahutan. Di tempat sederhana itu, aroma khas dedak basah bercampur riak air kolam menjadi saksi bisu dari geliat mimpi yang terus dipintal saban hari.
Arifin Kurnia Setiatama, seorang pemuda berusia 23 tahun tampak telaten merawat puluhan ekor bebek di pekarangan belakang rumahnya. Ia merupakan mahasiswa semester lima Jurusan Studi Islam Interdisipliner Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Di balik kesederhanaan kesehariannya, sosok gigih ini merupakan penggagas sekaligus ketua tim usaha budidaya dan olahan telur bertajuk “Golden Egg”. Sebuah inovasi wirausaha mahasiswa yang berhasil menembus ajang kompetisi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo dua tahun berturut-turut pada 2025 dan 2026.
Perjalanan Golden Egg tidak lahir dari karpet merah. Sebelum mengenal Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), Arifin telah merintis usahanya dari skala kecil mandiri. Kala itu, hasil panen telur bebek mentahnya hanya disetorkan ke satu pengepul tunggal karena keterbatasan akses pasar. “Awalnya memang cuma jual telur mentah ke pengepul. Belum ada bayangan buat telur asin, apalagi akun media sosial atau lokasi Maps,” kenang Arifin.

(Dokumentasi Pribadi Arifin Kurnia Setiatama)
Momentum berubah ketika ia memberanikan diri mendaftarkan usahanya ke ajang P2MW 2025. Awalnya mendaftar untuk menambah relasi dan modal, namun siapa sangka dalam kegiatan tersebut Arifin dan tim berhasil membawa predikat Juara 2 Kirab Budaya. Tidak berhenti di situ, mereka memperluas pemasaran, membentuk branding, hingga berlanjut lolos ke KMI Expo 2026 yang diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Namun, motivasi terbesar Arifin melangkah jauh dalam wirausaha bukanlah sekadar memenangkan kompetisi. Pemuda berlatar belakang santri ini menyimpan impian mulia yang terus membakar semangatnya di kala lelah.
“Dulu saat masih di pondok, terkadang bingung nanti kalau sudah lulus mau jadi apa. Dari situ saya kepikiran, jangan sampai adik-adik tingkat santri merasakan hal serupa. Saya ingin punya usaha atau pabrik yang pekerjanya nanti dari para santri,” tutur Arifin dengan nada mantap. “Cita-cita saya tidak hanya menerima gaji, tapi bisa memberikan gaji. Saya juga ingin memperbaiki ekonomi keluarga, bayar kuliah mandiri tanpa merepotkan orang tua, dan punya mimpi besar memberangkatkan keluarga umroh bareng dari hasil usaha ini.”
Untuk mewujudkan mimpi itu, hari-hari Arifin diisi oleh ritme yang nyaris tanpa jeda. Sebagai mahasiswa laju yang harus pulang-pergi, ia membagi waktu antara kuliah, mengajar privat di SMP, mengajar TPA, hingga mengurus operasional kandang.
“MasyaAllah, beneran capek banget,” ungkap pemuda yang akrab disapa Arifin ini. “Jadwal kuliah, ngajar, dan antar telur sering bertabrakan. Kuncinya saya harus disiplin buat jadwal setiap malam untuk kegiatan esok hari. Apapun yang sudah saya sanggupi, saya harus berani bertanggung jawab.”
Tak berhenti pada pemasaran telur mentah dan telur asin biasa, di bawah kepemimpinannya, Arifin dan tim terus berinovasi. Mereka mengembangkan konsep budidaya berkelanjutan melalui pakan alternatif seperti azolla dan maggot guna memotong biaya pakan ternak. Bahkan, seminggu sebelum keberangkatan menuju KMI Expo, gagasan baru mendadak muncul di kepala pemuda kreatif ini.
“Ide kerupuk telur asin itu datang dadakan pas malam hari, seminggu sebelum berangkat KMI Expo,” kenangnya. “Paginya langsung saya coba buat. Dalam wirausaha, otak memang harus dipaksa berpikir dan inovasi harus terus jalan.”
Perjuangan itu tentu pernah menghantam titik terendah ketika persoalan keluarga hampir membuat usahanya gulung tikar dan harus merintis kembali dari nol. Namun, landasan niat mulia (noble purpose) dan dorongan doa orang tua serta guru mengaji menjadi jangkar yang membuatnya tetap berdiri tegak.
Ketekunannya sebagai pemimpin juga terlihat ketika Golden Egg menghadapi persoalan. Salah satu produk, telur asin rempah, belum menemukan rasa yang dianggap pas. Dalam pemasaran, Arifin sempat bingung mencari konsumen. Alih-alih berhenti, ia mencoba cara sederhana yaitu mencari nomor melalui Google Maps dan menawarkan produk melalui WhatsApp. Dari percobaan itu, ia mendapatkan beberapa konsumen baru yang kemudian menjadi pelanggan rutin.
Bagi pemuda berusia 23 tahun ini, perjalanan membangun Golden Egg telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Dari sosok yang dulunya pemalu, Arifin tumbuh menjadi pribadi yang berani mengambil keputusan, tangguh menghadapi tekanan, dan tak lelah mengetuk pintu rezeki. Ia berpesan kepada mahasiswa yang masih ragu memulai usaha untuk tidak berputus asa, selalu berbaik sangka, berjuang, dan tidak meninggalkan doa.
Saat matahari kian tinggi membiaskan sinar di atas pekarangan rumahnya, butiran telur bebek di jemari Arifin bukan lagi sekadar komoditas usaha. Di tangan seorang pemuda yang pantang menyerah, tiap butir telur itu adalah wujud nyata ikhtiar, doa yang terwujud, serta komitmen mulia untuk membukakan jalan kemandirian bagi orang-orang di sekitarnya.

MasyaAlloh Tabarakallah, selamat…sukses dan berkah selalu
MasyaAlloh Tabarakallah, selamat…sukses , berkah dan sehat2 selalu,