Oleh: Azzah Egynara

Sumber: Azzah Egynara
BANYUMAS, SUDUTNALAR- Sejumlah sepatu dan sandal terletak di sekitar tempat kerja Pak Juliadi. Di tengah aktivitas Pasar Ajibarang Wetan, ia menjalankan pekerjaannya dengan teliti. Tangannya terampil memperbaiki bagian sepatu dan sandal yang rusak agar kembali dapat digunakan oleh pemiliknya.
Pak Juliadi merupakan tukang sol sepatu yang bekerja di Pasar Ajibarang Wetan, Ajibarang. Ia telah menekuni pekerjaan tersebut sejak 1997. Selama hampir tiga dekade, ia memperbaiki sepatu dan sandal milik masyarakat yang datang menggunakan jasanya.
Bagi Pak Juliadi, memilih menjadi tukang sol sepatu bukan tanpa alasan. Ia menyukai pekerjaan yang memberinya kebebasan dalam mengatur waktu. Tidak ada orang yang secara langsung mengatur kapan ia harus bekerja atau berhenti.
βYang penting waktunya stabil dan tidak ada yang mengatur,β ujar Pak Juliadi saat menjelaskan alasannya bertahan sebagai tukang sol sepatu.
Kemampuan memperbaiki sepatu diperoleh Pak Juliadi dari seorang teman. Setelah mempelajari pekerjaan tersebut, ia kemudian membuka jasa sol sepatu sendiri. Sejak saat itu, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya.
Setiap hari, Pak Juliadi mulai bekerja sekitar pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Waktu pengerjaan setiap sepatu atau sandal berbeda-beda, bergantung pada tingkat kerusakannya. Kerusakan ringan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar lima menit. Jika perbaikannya sederhana, pelanggan bahkan dapat menunggu di tempat hingga sepatu atau sandal selesai diperbaiki.
Dalam sehari, sekitar 10 hingga 20 pelanggan datang menggunakan jasanya. Jumlah tersebut tidak selalu sama. Terkadang pelanggan datang silih berganti, tetapi pada waktu tertentu lapaknya juga sepi.
Ketika pelanggan tidak banyak, Pak Juliadi mengisi waktunya dengan beristighfar dan bersholawat. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari kesehariannya saat pekerjaan sedang tidak ramai.
Menjadi tukang sol sepatu membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setiap kerusakan memiliki kondisi yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Ketelitian diperlukan agar sepatu atau sandal dapat kembali digunakan dengan baik.
Salah satu tantangan yang dirasakan Pak Juliadi adalah ketika hujan turun. Kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitasnya dalam bekerja. Meski demikian, ia tetap menjalani pekerjaan yang telah ditekuni selama bertahun-tahun.
Selama bekerja, ada satu hal yang paling berkesan bagi Pak Juliadi. Bukan jumlah pelanggan, melainkan kepercayaan yang diberikan pelanggan kepadanya.
Pernah suatu ketika, seorang pelanggan tetap mencari Pak Juliadi saat ia sedang tidak bekerja. Pelanggan tersebut bahkan datang ke rumahnya. Alih-alih mencari tukang sol sepatu lain, pelanggan itu memilih menunggu hingga Pak Juliadi kembali bekerja.
Bagi Pak Juliadi, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pekerjaannya telah membangun kepercayaan pelanggan. Setelah bertahun-tahun memperbaiki sepatu dan sandal, hubungan antara tukang sol dan pelanggan tidak sekadar berhenti pada transaksi. Kepercayaan membuat pelanggan kembali menggunakan jasanya.
Waktu kerja yang stabil dan kebebasan dalam mengatur pekerjaan menjadi alasan utama Pak Juliadi tetap bertahan hingga sekarang. Baginya, menjadi tukang sol sepatu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dari sebuah pekerjaan sederhana di sudut pasar, Pak Juliadi menemukan cara untuk mempertahankan kehidupannya sekaligus menjaga kepercayaan orang-orang yang datang kepadanya. Sepatu yang rusak mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk diperbaiki, tetapi kepercayaan pelanggan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun.
Kini, harapan Pak Juliadi sederhana. Ia berharap Pasar Ajibarang semakin ramai agar para pedagang dan pekerja di dalamnya dapat terus menjalankan pekerjaannya. Di tengah perubahan zaman, ia tetap bertahan dengan pekerjaan yang telah menemaninya sejak 1997: memperbaiki sepatu, satu per satu, sambil menjaga kepercayaan pelanggan yang terus datang kembali.
