
Sumber Internet
BANJARNEGARA, SUDUTNALAR- Sejumlah bongkahan batu tersimpan rapi di dalam pendopo Desa Banjarkulon, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Permukaannya kasar dan ditumbuhi lumut. Ini adalah situs Watu Lembu, peninggalan sejarah yang kini mulai mulai tak terawat.
Mengutip dari Kanal Youtube Yayasan Sahabat Muda Indonesia, menurut Karyono, Kepala Desa Banjarkulon tahun 2022, menjelaskan asal usul nama Watu Lembu. Menurutnya, nama itu berkaitan dengan legenda lokal tentang dua ekor lembu.
“Watu Lembu itu asal mulanya adalah sebuah Lembu yang hidup, yang dipersediakan untuk syukuran kemenangan atas peperangan Adipati Mangunyudho di Kartosuro”kata Karyono.
Menurut cerita yang beredar di masyarakat, setelah kedua lembu disembelih, sang Adipati gugur dalam pertempuran. Karena peristiwa itu, sesepuh kadipaten konon mengutuk lembu tersebut menjadi batu.
“Karena sang Adipati gugur, lembu tersebut konon diciptakan menjadi batu oleh sesepuh kadipaten,” tutur Karyono.

Watu Lembu 1 ( Arca Nandi)

Watu Lembu 2 (Arca Nandi)
Di situs tersebut, terdapat enam watu atau batu dengan ukuran dan bentuk berbeda. Batu-batu itu tersebar di area situs dan menjadi bagian dari kompleks peninggalan sejarah Watu Lembu.

Watu Ganja
Watu Ganja berbentuk persegi empat. Menurut cerita penduduk, batu ini dahulunya merupakan penyangga rangka tumpangsari atau yang diletakan di atas empat tiang utama pendopo kabupaten Banjar Petambakan (Kabupaten Banjanegara lama)

Watu Umpak
Watu Umpak mempunyai ukuran tiap sisinya 75 cm dengan tinggi 100 Lembu. Watu Umpak diduga merupakan peninggalan dari Kabupaten Banjar Petambakan atau Kabupaten Lama Banjarnegara.

Watu Lingga dan Watu Kasur
Watu Lingga diletakan di diatas watu kasur. Watu ini mempunyai ukuran panjang 75 cm dengan diameter 30 cm. Dalam agama hindu, Lingga merupakan lambang unsur laki-laki dan juga merupakan simbol Dewa Siwa yang biasanya berpasangan dengan Yoni sebagai simbol unsur wanita atau istri/cacti Siwa. Sementara Yoni sendiri biasanya berfungsi sebagai tanda batas tanah. Sedangkan watu kasur tempat diletakkannya Watu Lingga berbentuk persegi empat dengan panjang tiap sisi 60 cm dengan tebal 15 cm. Watu kasur awalnya ditemukan di pekarangan rumah warga. Fungsi Watu Kasur ini belum diketahui secara pasti, kemungkinan dulunya merupakan penguat disekeliling pondasi lantai bangunan.
Pusat Pemerintahan pada Masa Lalu
Di balik legenda yang melingkupinya, Watu Lembu memiliki nilai sejarah yang lebih konkret. Berdasarkan penelitian dinas arkeologi Yogjakarta, situs ini diidentifikasi sebagai pintu masuk atau tanda keberadaan pusat pemerintahan pada masa lalu, sebelum wilayah tersebut dikenal sebagai Banjarnegara.
Karyono menjelaskan bahwa lokasi situs ini dulunya merupakan bagian dari pusat pemerintahan kadipaten. “Watu Lembu diidentifikasi sebagai pintu masuk atau tanda keberadaan pusat pemerintahan pada masa lalu,” katanya.
Tiga Komponen Sejarah Banjarnegara
Menurut Guru Besar Sejarah Universitas Muhamadiyah Purwokerto, Sugeng Priyadi, sejarah Kabupaten Banjarnegara terdiri dari tiga komponen utama. Pertama adalah Banjar Petambakan, kedua Banjar Watulembu, dan ketiga Banjarnegara seperti yang dikenal sekarang.
“Terdapat tiga komponen sejarah wilayah Banjarnegara, yaitu Banjar Petambakan, Banjar Watulembu, dan akhirnya Banjarnegara,” jelasnya.
Pada zaman pemerintahan Mangunyudho ke 2, pindah ke Banjar Watu Lembu
Pada tahun 1831, Watu Lembu ditinggalkan seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan ke lokasi yang sekarang. Keputusan itu menandai akhir dari era Watulembu sebagai pusat kekuasaan, namun tidak menghilangkan nilai sejarahnya.
“Pada tahun 1831, Watu Lembu ditinggalkan seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan ke lokasi yang sekarang,” kata Sugeng
Asal Usul Nama Banjarnegara
Selanjutnya Karyono menjelaskan etimologi nama Banjarnegara. Menurutnya, nama itu diambil dari asal tempat itu sendiri.
“Banjarnegara dulu adalah persawahan dan bukit, saat itu dibutuhkan identitas kota baru, bukan lagi Banjar Watu Lembu namun sebuah pemerintahan baru yang mengambil dari asal tempat itu sendiri, dengan arti nama Banjar adalah persawahan dan Negara adalah pemerintahan yang dikenal dengan nama Banjarnegara hingga saat ini ” tuturnya.
Penjelasan itu memberikan gambaran tentang bagaimana nenek moyang warga Banjarnegara menamai wilayah mereka berdasarkan karakteristik alam dan fungsi politiknya. Wilayah yang dulunya didominasi persawahan menjadi pusat pemerintahan, sehingga lahirlah nama Banjarnegara.
Penghargaan Pemerintah dan Rasa Bangga Warga
Sebagai bentuk penghargaan, dibangun sebuah pendopo oleh pemerintah kabupaten. Bangunan itu menjadi bukti bahwa pihak pemerintah tidak mengabaikan nilai sejarah Watu Lembu.
“Kami sebagai warga Banjarkulon berterima kasih, karena pemerintah kabupaten telah memberikan fasilitas berupa pendopo sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah desa yang dulu menjadi pusat pemerintahan,” kata Karyono.
Karyono dan warga Banjarkulon merasa bangga karena desanya pernah dipimpin oleh seseorang yang berpikiran maju dan memikirkan masyarakat.
“Masyarakat Desa Banjarkulon merasa bangga karena dulu pernah didiami dan dipimpin oleh seseorang yang berpikiran maju dan memikirkan masyarakat” ujarnya.
Karyono berharap, ke depannya Situs Watu Lembu dan Desa Banjarkulon bisa lebih maju, baik dari pola fikir maupun taraf hidupnya sebagai cerminan penghargaan untuk desa yang bersejarah.
Penulis: Nadhif Syarafina
