Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Situs Watu Lembu: Jejak Pemerintahan Kuno Banjarnegara

Posted on Oktober 8, 2026 by jejakpersepsi@gmail.com

Sumber Internet

BANJARNEGARA, SUDUTNALAR- Sejumlah bongkahan batu tersimpan rapi di dalam pendopo Desa Banjarkulon, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara. Permukaannya kasar dan ditumbuhi lumut. Ini adalah situs Watu Lembu, peninggalan sejarah yang kini mulai mulai tak terawat. 

Mengutip dari Kanal Youtube Yayasan Sahabat Muda Indonesia, menurut Karyono, Kepala Desa Banjarkulon tahun 2022, menjelaskan asal usul nama Watu Lembu. Menurutnya, nama itu berkaitan dengan legenda lokal tentang dua ekor lembu.

“Watu Lembu itu asal mulanya adalah sebuah Lembu yang hidup, yang dipersediakan untuk syukuran kemenangan atas peperangan Adipati Mangunyudho di Kartosuro”kata Karyono.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, setelah kedua lembu disembelih, sang Adipati gugur dalam pertempuran. Karena peristiwa itu, sesepuh kadipaten konon mengutuk lembu tersebut menjadi batu.

“Karena sang Adipati gugur, lembu tersebut konon diciptakan menjadi batu oleh sesepuh kadipaten,” tutur Karyono.

 Sumber Internet

Watu Lembu 1 ( Arca Nandi) 

 Sumber Internet

            Watu Lembu 2 (Arca Nandi) 

Di situs tersebut, terdapat enam watu atau batu dengan ukuran dan bentuk berbeda. Batu-batu itu tersebar di area situs dan menjadi bagian dari kompleks peninggalan sejarah Watu Lembu.

 Sumber Internet

          Watu Ganja

Watu Ganja berbentuk persegi empat. Menurut cerita penduduk, batu ini dahulunya merupakan penyangga rangka tumpangsari atau yang diletakan di atas empat tiang utama pendopo kabupaten Banjar Petambakan (Kabupaten Banjanegara lama)

 Sumber Internet

    Watu Umpak

Watu Umpak mempunyai ukuran tiap sisinya 75 cm dengan tinggi 100 Lembu. Watu Umpak diduga merupakan peninggalan dari Kabupaten Banjar Petambakan atau Kabupaten Lama Banjarnegara.

 Sumber Internet

         Watu Lingga dan Watu Kasur

Watu Lingga diletakan di diatas watu kasur. Watu ini mempunyai ukuran panjang 75 cm dengan diameter 30 cm. Dalam agama hindu, Lingga merupakan lambang unsur laki-laki dan juga merupakan simbol Dewa Siwa yang biasanya berpasangan dengan Yoni sebagai simbol unsur wanita atau istri/cacti Siwa. Sementara Yoni sendiri biasanya berfungsi sebagai tanda batas tanah. Sedangkan watu kasur tempat diletakkannya Watu Lingga berbentuk persegi empat dengan panjang tiap sisi 60 cm dengan tebal 15 cm. Watu kasur awalnya ditemukan di pekarangan rumah warga. Fungsi Watu Kasur ini belum diketahui secara pasti, kemungkinan dulunya merupakan penguat disekeliling pondasi lantai bangunan.

Pusat Pemerintahan pada Masa Lalu

Di balik legenda yang melingkupinya, Watu Lembu memiliki nilai sejarah yang lebih konkret. Berdasarkan penelitian dinas arkeologi Yogjakarta, situs ini diidentifikasi sebagai pintu masuk atau tanda keberadaan pusat pemerintahan pada masa lalu, sebelum wilayah tersebut dikenal sebagai Banjarnegara.

Karyono menjelaskan bahwa lokasi situs ini dulunya merupakan bagian dari pusat pemerintahan kadipaten. “Watu Lembu diidentifikasi sebagai pintu masuk atau tanda keberadaan pusat pemerintahan pada masa lalu,” katanya.

Tiga Komponen Sejarah Banjarnegara

Menurut Guru Besar Sejarah Universitas Muhamadiyah Purwokerto, Sugeng Priyadi, sejarah Kabupaten Banjarnegara terdiri dari tiga komponen utama. Pertama adalah Banjar Petambakan, kedua Banjar Watulembu, dan ketiga Banjarnegara seperti yang dikenal sekarang.

“Terdapat tiga komponen sejarah wilayah Banjarnegara, yaitu Banjar Petambakan, Banjar Watulembu, dan akhirnya Banjarnegara,” jelasnya.

Pada zaman pemerintahan Mangunyudho ke 2, pindah ke Banjar Watu Lembu

Pada tahun 1831, Watu Lembu ditinggalkan seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan ke lokasi yang sekarang. Keputusan itu menandai akhir dari era Watulembu sebagai pusat kekuasaan, namun tidak menghilangkan nilai sejarahnya.

“Pada tahun 1831, Watu Lembu ditinggalkan seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan ke lokasi yang sekarang,” kata Sugeng 

Asal Usul Nama Banjarnegara

Selanjutnya Karyono menjelaskan etimologi nama Banjarnegara. Menurutnya, nama itu diambil dari asal tempat itu sendiri. 

“Banjarnegara dulu adalah persawahan dan bukit, saat itu dibutuhkan identitas kota baru, bukan lagi Banjar Watu Lembu namun sebuah pemerintahan baru yang mengambil dari asal tempat itu sendiri, dengan arti nama Banjar adalah persawahan dan Negara adalah pemerintahan yang dikenal dengan nama Banjarnegara hingga saat ini ” tuturnya.

Penjelasan itu memberikan gambaran tentang bagaimana nenek moyang warga Banjarnegara menamai wilayah mereka berdasarkan karakteristik alam dan fungsi politiknya. Wilayah yang dulunya didominasi persawahan menjadi pusat pemerintahan, sehingga lahirlah nama Banjarnegara.

Penghargaan Pemerintah dan Rasa Bangga Warga

Sebagai bentuk penghargaan, dibangun sebuah pendopo oleh pemerintah kabupaten. Bangunan itu menjadi bukti bahwa pihak pemerintah tidak mengabaikan nilai sejarah Watu Lembu.

“Kami sebagai warga Banjarkulon berterima kasih, karena pemerintah kabupaten telah memberikan fasilitas berupa pendopo sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah desa yang dulu menjadi pusat pemerintahan,” kata Karyono.

Karyono dan warga Banjarkulon merasa bangga karena desanya pernah dipimpin oleh seseorang yang berpikiran maju dan memikirkan masyarakat. 

“Masyarakat Desa Banjarkulon merasa bangga karena dulu pernah didiami dan dipimpin oleh seseorang yang berpikiran maju dan memikirkan masyarakat” ujarnya.

Karyono berharap, ke depannya Situs Watu Lembu dan Desa Banjarkulon bisa lebih maju, baik dari pola fikir maupun taraf hidupnya sebagai cerminan penghargaan untuk desa yang bersejarah. 

Penulis: Nadhif Syarafina

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme