Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

AI Factory Terbesar se-Asia Tenggara: Maju Teknologinya, Siapkah Warganya?

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Hanunah Mumtaz

Dokumentasi pertemuan PT Infra Fiber Teknologi (IFT) dengan Arsari Group. Sumber: Instagram @vikram_sinha & ilustrasi pusat data kecerdasan buatan (AI data center). Ilustrasi dibuat menggunakan OpenAI.

BANYUMAS, SUDUTNALAR — Indonesia tengah merintis pembangunan AI Factory atau pusat data kecerdasan buatan berskala besar sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi di Asia Tenggara. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komputasi nasional, menarik investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital.

Salah satu proyek yang sedang dipersiapkan adalah Zankore AI Factory di Batang, Jawa Tengah. Proyek tersebut melibatkan Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA. Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital, fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas hingga 1 gigawatt atau 1.000 megawatt dalam tiga tahun. Pembangunan tahap awal direncanakan dimulai pada paruh pertama 2027 dengan kapasitas sekitar 200 megawatt.

Di balik besarnya peluang tersebut, pembangunan AI Factory juga memunculkan sejumlah kekhawatiran sosial. Masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana kebutuhan sumber daya untuk fasilitas berskala besar tersebut akan dipenuhi tanpa mengganggu kebutuhan warga di sekitarnya.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penggunaan air. Pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga suhu perangkat komputasi agar tetap stabil. Pada beberapa jenis sistem pendinginan, air digunakan sebagai bagian dari proses operasional.

Bagi masyarakat, persoalan air bukan sekadar urusan teknis. Air merupakan kebutuhan dasar yang digunakan setiap hari untuk memasak, mandi, mencuci, serta menjalankan berbagai kegiatan rumah tangga dan ekonomi. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pembangunan fasilitas teknologi tidak akan mengurangi akses terhadap air bersih.

Kekhawatiran serupa muncul pada kebutuhan listrik. AI Factory dengan kapasitas komputasi besar membutuhkan pasokan energi untuk menjalankan server, sistem pendinginan, jaringan, dan berbagai perangkat pendukung lainnya sepanjang hari. Besarnya kebutuhan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pemerintah dan pihak pengelola dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan kebutuhan masyarakat.

Listrik memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, listrik juga digunakan dalam pendidikan, pekerjaan, usaha kecil, komunikasi, serta berbagai kegiatan ekonomi. Karena itu, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan energi untuk AI Factory tidak mengganggu kestabilan pasokan listrik bagi warga.

Kekhawatiran tersebut juga disampaikan oleh salah seorang warga yang berasal dari Sokaraja, Joko Purwanto. Ia mengakui bahwa pembangunan AI Factory dapat membawa keuntungan bagi Indonesia, terutama dalam perkembangan teknologi dan ekonomi.

“Kalau dari sisi kemajuan teknologi memang bisa menguntungkan negara. Indonesia bisa dipandang lebih maju dan mungkin juga berdampak pada ekonomi. Tapi yang saya khawatirkan justru kebutuhan masyarakat nantinya tidak lagi menjadi prioritas,” ujar Joko Purwanto.

Ia juga menyoroti penggunaan air dan listrik yang dibutuhkan oleh fasilitas AI Factory. “Air dan listrik itu kebutuhan dasar masyarakat. Kalau AI Factory membutuhkan dalam jumlah besar, pemerintah harus bisa menjamin kebutuhan warga tetap aman. Jangan sampai karena ada proyek besar, masyarakat justru kesulitan mendapatkan air bersih atau listrik,” katanya.

Menurut Joko, keadilan dalam pembagian sumber daya menjadi hal penting. Ia juga mempertanyakan bagaimana pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab terhadap proyek dapat memastikan bahwa masyarakat tidak menjadi pihak yang dirugikan.

“Kalau pemerintah dan pihak yang berwenang tidak bisa adil dalam membagi kebutuhan sumber daya, saya pribadi tidak setuju dengan pembangunan AI Factory ini. Bukan karena saya menolak teknologi, tetapi karena masyarakat harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.

Selain air dan listrik, potensi kebisingan juga perlu diperhatikan. Pusat data menggunakan berbagai perangkat seperti kipas pendingin, transformator, generator cadangan, dan mesin pendukung lainnya. Jika fasilitas dibangun berdekatan dengan permukiman, suara dari perangkat tersebut berpotensi memengaruhi kenyamanan warga, terutama karena pusat data dapat beroperasi sepanjang hari.

Keresahan terhadap pembangunan AI Factory juga terlihat di media sosial. Salah satu konten TikTok milik akun Sekolah_ID yang membahas AI data center di Indonesia mengadakan voting mengenai persetujuan pengguna terhadap pembangunan tersebut. Berdasarkan hasil voting yang terlihat dalam unggahan tersebut, dari sekitar 11,3 ribu suara, sebanyak 92 persen memilih “Tidak Setuju”, sedangkan 4 persen memilih “Setuju” dan 4 persen lainnya memilih “Netral”.

Hasil tersebut menunjukkan adanya penolakan yang cukup tinggi di antara pengguna yang mengikuti voting. Namun, hasil voting media sosial tidak dapat dianggap mewakili pendapat seluruh masyarakat Indonesia karena peserta berasal dari pengguna yang melihat konten dan memilih untuk ikut berpartisipasi.

Meski demikian, respons tersebut dapat menjadi salah satu gambaran bahwa rencana pembangunan AI Factory telah menimbulkan perhatian dan keresahan di ruang publik. Persoalan yang dibicarakan bukan hanya mengenai kecanggihan teknologi, tetapi juga mengenai kemungkinan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Keterbukaan informasi menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi kekhawatiran tersebut. Masyarakat perlu memperoleh informasi mengenai sumber air yang digunakan, kebutuhan energi, sistem pendinginan, potensi kebisingan, serta dampak lingkungan dari proyek tersebut.

Pembangunan AI Factory pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan investasi dan kecanggihan teknologi. Proyek ini juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang akan berada di sekitarnya. Karena itu, pembangunan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan teknologi, kebutuhan industri, dan hak masyarakat.

Kemajuan kecerdasan buatan dapat memberikan peluang besar bagi Indonesia. Namun, kemajuan tersebut akan lebih berarti apabila berjalan bersama dengan perlindungan terhadap masyarakat. Di tengah upaya menjadi pusat pengembangan AI di kawasan, warga tetap membutuhkan kepastian bahwa air tetap tersedia, listrik tetap stabil, dan lingkungan tetap nyaman untuk ditinggali.

Oleh: Hanunah Rizqi Mumtaz

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme