
Dokumentasi pertemuan PT Infra Fiber Teknologi (IFT) dengan Arsari Group. Sumber: Instagram @vikram_sinha & ilustrasi pusat data kecerdasan buatan (AI data center). Ilustrasi dibuat menggunakan OpenAI.
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Indonesia tengah merintis pembangunan AI Factory atau pusat data kecerdasan buatan berskala besar sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi di Asia Tenggara. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komputasi nasional, menarik investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital.
Salah satu proyek yang sedang dipersiapkan adalah Zankore AI Factory di Batang, Jawa Tengah. Proyek tersebut melibatkan Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA. Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital, fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas hingga 1 gigawatt atau 1.000 megawatt dalam tiga tahun. Pembangunan tahap awal direncanakan dimulai pada paruh pertama 2027 dengan kapasitas sekitar 200 megawatt.
Di balik besarnya peluang tersebut, pembangunan AI Factory juga memunculkan sejumlah kekhawatiran sosial. Masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana kebutuhan sumber daya untuk fasilitas berskala besar tersebut akan dipenuhi tanpa mengganggu kebutuhan warga di sekitarnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penggunaan air. Pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga suhu perangkat komputasi agar tetap stabil. Pada beberapa jenis sistem pendinginan, air digunakan sebagai bagian dari proses operasional.
Bagi masyarakat, persoalan air bukan sekadar urusan teknis. Air merupakan kebutuhan dasar yang digunakan setiap hari untuk memasak, mandi, mencuci, serta menjalankan berbagai kegiatan rumah tangga dan ekonomi. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pembangunan fasilitas teknologi tidak akan mengurangi akses terhadap air bersih.
Kekhawatiran serupa muncul pada kebutuhan listrik. AI Factory dengan kapasitas komputasi besar membutuhkan pasokan energi untuk menjalankan server, sistem pendinginan, jaringan, dan berbagai perangkat pendukung lainnya sepanjang hari. Besarnya kebutuhan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pemerintah dan pihak pengelola dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan kebutuhan masyarakat.
Listrik memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, listrik juga digunakan dalam pendidikan, pekerjaan, usaha kecil, komunikasi, serta berbagai kegiatan ekonomi. Karena itu, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan energi untuk AI Factory tidak mengganggu kestabilan pasokan listrik bagi warga.
Kekhawatiran tersebut juga disampaikan oleh salah seorang warga yang berasal dari Sokaraja, Joko Purwanto. Ia mengakui bahwa pembangunan AI Factory dapat membawa keuntungan bagi Indonesia, terutama dalam perkembangan teknologi dan ekonomi.
“Kalau dari sisi kemajuan teknologi memang bisa menguntungkan negara. Indonesia bisa dipandang lebih maju dan mungkin juga berdampak pada ekonomi. Tapi yang saya khawatirkan justru kebutuhan masyarakat nantinya tidak lagi menjadi prioritas,” ujar Joko Purwanto.
Ia juga menyoroti penggunaan air dan listrik yang dibutuhkan oleh fasilitas AI Factory. “Air dan listrik itu kebutuhan dasar masyarakat. Kalau AI Factory membutuhkan dalam jumlah besar, pemerintah harus bisa menjamin kebutuhan warga tetap aman. Jangan sampai karena ada proyek besar, masyarakat justru kesulitan mendapatkan air bersih atau listrik,” katanya.
Menurut Joko, keadilan dalam pembagian sumber daya menjadi hal penting. Ia juga mempertanyakan bagaimana pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab terhadap proyek dapat memastikan bahwa masyarakat tidak menjadi pihak yang dirugikan.
“Kalau pemerintah dan pihak yang berwenang tidak bisa adil dalam membagi kebutuhan sumber daya, saya pribadi tidak setuju dengan pembangunan AI Factory ini. Bukan karena saya menolak teknologi, tetapi karena masyarakat harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.
Selain air dan listrik, potensi kebisingan juga perlu diperhatikan. Pusat data menggunakan berbagai perangkat seperti kipas pendingin, transformator, generator cadangan, dan mesin pendukung lainnya. Jika fasilitas dibangun berdekatan dengan permukiman, suara dari perangkat tersebut berpotensi memengaruhi kenyamanan warga, terutama karena pusat data dapat beroperasi sepanjang hari.
Keresahan terhadap pembangunan AI Factory juga terlihat di media sosial. Salah satu konten TikTok milik akun Sekolah_ID yang membahas AI data center di Indonesia mengadakan voting mengenai persetujuan pengguna terhadap pembangunan tersebut. Berdasarkan hasil voting yang terlihat dalam unggahan tersebut, dari sekitar 11,3 ribu suara, sebanyak 92 persen memilih “Tidak Setuju”, sedangkan 4 persen memilih “Setuju” dan 4 persen lainnya memilih “Netral”.
Hasil tersebut menunjukkan adanya penolakan yang cukup tinggi di antara pengguna yang mengikuti voting. Namun, hasil voting media sosial tidak dapat dianggap mewakili pendapat seluruh masyarakat Indonesia karena peserta berasal dari pengguna yang melihat konten dan memilih untuk ikut berpartisipasi.
Meski demikian, respons tersebut dapat menjadi salah satu gambaran bahwa rencana pembangunan AI Factory telah menimbulkan perhatian dan keresahan di ruang publik. Persoalan yang dibicarakan bukan hanya mengenai kecanggihan teknologi, tetapi juga mengenai kemungkinan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Keterbukaan informasi menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi kekhawatiran tersebut. Masyarakat perlu memperoleh informasi mengenai sumber air yang digunakan, kebutuhan energi, sistem pendinginan, potensi kebisingan, serta dampak lingkungan dari proyek tersebut.
Pembangunan AI Factory pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan investasi dan kecanggihan teknologi. Proyek ini juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang akan berada di sekitarnya. Karena itu, pembangunan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan teknologi, kebutuhan industri, dan hak masyarakat.
Kemajuan kecerdasan buatan dapat memberikan peluang besar bagi Indonesia. Namun, kemajuan tersebut akan lebih berarti apabila berjalan bersama dengan perlindungan terhadap masyarakat. Di tengah upaya menjadi pusat pengembangan AI di kawasan, warga tetap membutuhkan kepastian bahwa air tetap tersedia, listrik tetap stabil, dan lingkungan tetap nyaman untuk ditinggali.
Oleh: Hanunah Rizqi Mumtaz
