Penulis: Firdaus Novri Alamsyah

Sumber: Dok Firdaus Novri Alamsyah
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Malam mulai turun di Alun-alun Purwokerto. Lampu-lampu di sekitar kawasan itu menyala satu per satu. Orang-orang mulai berdatangan. Ada yang mencari makan, ada pula yang sekadar menikmati suasana malam setelah seharian beraktivitas.
Di tengah keramaian itu, Ari, 47 tahun, berdiri di balik gerobak siomaynya. Selepas Magrib hingga sekitar pukul 22.00 WIB, ia melayani pembeli yang datang. Gerobak sederhana itu menjadi tempat Ari mencari penghasilan sekaligus melanjutkan perjuangan yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.
Ari berasal dari Cikarang, Jawa Barat. Ia memilih merantau ke tempat istrinya di Purwokerto setelah bertemu di tempat kerja. Sejak saat itu, Purwokerto menjadi tempat Ari membangun keluarga dan mencari kehidupan yang lebih baik.
Menjadi perantau tidak selalu mudah. Ari telah mencoba berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada 2014–2015, ia pernah berjualan bapao di salah satu ruko di Purwokerto. Usaha itu tidak berjalan sesuai harapan dan akhirnya mengalami kerugian.
Ia kemudian mencoba berjualan bubur ayam pada 2016–2017 di sekitar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Lokasi tersebut cukup ramai oleh mahasiswa. Namun, ketika libur semester tiba, jumlah pembeli ikut berkurang dan pendapatan Ari menurun.
Pada 2018–2020, Ari mengikuti orang berjualan siomay Hookie Bandung. Ia tidak hanya bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Sejak awal, ia sudah memiliki tujuan untuk mempelajari resep dan cara berjualan siomay. Suatu hari, ia ingin membuka usaha sendiri dengan modal dan gerobaknya sendiri. Keinginan itu kemudian ia coba wujudkan. Pada 2020–2021, Ari menyewa sebuah ruko untuk berjualan siomay. Namun, usaha tersebut kembali menemui jalan buntu. Selama setahun, biaya sewa ruko cukup besar, sedangkan pembeli belum banyak.
Menurut Ari, pembeli menginginkan makanan yang murah, enak, dan porsinya banyak. Sedangkan penjual harus menyesuaikan dengan modal agar memperoleh keuntungan. Usaha di ruko itu akhirnya tidak dilanjutkan. Ari kembali berjualan menggunakan gerobak. Tapi bedanya kini, ia memiliki gerobak sendiri dan memilih Alun-alun Purwokerto sebagai tempat mencari rezeki. Setiap malam, ia kembali menata dagangannya dan menunggu pembeli datang.
Bagi Ari, perjuangan mencari penghasilan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada dua anak perempuan yang menjadi alasan kuat untuk terus bekerja. Anak pertamanya telah bekerja, sedangkan anak keduanya sedang menempuh pendidikan tinggi.
Pendidikan anak menjadi hal yang sangat penting bagi Ari. Bahkan ketika ada tetangga yang menyindir karena anaknya tetap melanjutkan kuliah di tengah keterbatasan ekonomi, Ari memilih untuk tidak membalasnya dengan perkataan.
“Walaupun tetangga saya sering nyinyir karena anak saya lanjut kuliah di saat ketidakmampuan saya, menurut saya pendidikan anak adalah nomor satu,” ujar Ari.
Bagi Ari, keadaan ekonomi bukan alasan untuk menghentikan pendidikan anak. Selama masih mampu bekerja, ia ingin memberikan pendidikan yang layak kepada kedua anaknya. Ia memilih membuktikan kemampuannya melalui kerja keras, bukan melalui perdebatan.
Tanggung jawab itu juga ia tunjukkan kepada kedua anaknya. Meski salah satu anaknya telah bekerja, Ari tidak ingin membebani mereka dengan kebutuhan keluarga.
“Walaupun anak saya dua-duanya perempuan, satu sudah bekerja dan yang satu sedang menempuh pendidikan tinggi, saya bilang ke istri saya untuk tidak minta sepeser pun kepada anak. Bahkan, kuota internet anak dan Wi-Fi rumah masih saya tanggung,” katanya.
Bagi Ari, selama dirinya masih sanggup bekerja, kebutuhan anak-anak tetap menjadi tanggung jawabnya. Ia ingin anak-anaknya memiliki kesempatan untuk belajar dan bekerja tanpa harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan orang tuanya.
Istri Ari juga menjadi orang yang terus mendukung langkahnya. Setiap usaha yang dilakukan Ari selama dianggap baik selalu mendapat dukungan. Dari berjualan bapao, bubur ayam, belajar membuat siomay, menyewa ruko, hingga kembali berjualan menggunakan gerobak, ia tidak berjalan sendirian.
Pengalaman hidup membuat Ari tidak percaya bahwa seseorang dapat dinilai hanya dari asal daerahnya. Ia pernah mendengar anggapan bahwa laki-laki Sunda dikenal malas dan mudah menerima keadaan, sedangkan laki-laki Jawa dikenal pekerja keras. Bagi Ari, semua itu kembali kepada pribadi masing-masing.
“Semua tergantung pribadi masing-masing,” katanya.
Malam semakin larut. Keramaian di Alun-alun Purwokerto mulai berkurang. Namun, Ari masih berada di balik gerobaknya. Ia masih menunggu pembeli, seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada kepastian setiap malam dagangannya akan habis. Tidak ada pula jaminan bahwa usaha yang dijalankannya akan selalu berjalan lancar. Ia pernah rugi, pernah berpindah usaha, dan pernah kembali memulai dari awal. Namun, setiap kegagalan selalu membawanya pada satu hal yang sama, yaitu mencoba lagi.
Di rumah, ada istri yang menunggu hasil kerja kerasnya. Bagi Ari, setiap rupiah yang diperoleh bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Ada biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, dan masa depan anak-anak yang ingin ia jaga.
Ari mungkin memilih diam ketika perkataannya diremehkan. Namun, diam bukan berarti menyerah. Ia menjawabnya dengan tetap bekerja, tetap bertahan, dan tetap memastikan pendidikan anak-anaknya berjalan.
Malam itu, di antara riuh kendaraan dan lampu-lampu Alun-alun Purwokerto, Ari kembali berdiri di belakang gerobaknya. Barangkali bagi orang lain, itu hanya sebuah gerobak siomay. Bagi Ari, di sanalah sebagian dari masa depan kedua anaknya sedang ia perjuangkan.
