Sudutnalar, 07 Oktober 2026

BANJARNEGARA, SUDUTNALAR — Dulu, setiap kali peringatan Hari Jadi Banjarnegara tiba, alun-alun kota berubah menjadi lautan warna dan gerak. Ribuan anak sekolah dasar dengan sampur terikat di pinggang berbaris rapi, menunggu satu aba-aba yang sama. Saat musik gamelan berlaras pelog memecah udara pagi, para penari geol mulai beraksi. Ribuan tubuh cilik memutar, pinggul bergoyang serempak, dan senyum polos merekah memenuhi setiap sudut Alun-alun Kota Banjarnegara.
Namun kini, suara gemerincing gelang kaki dan riuh tepuk tangan warga yang dulu memadati pinggir jalanan kota telah menghilang. Tari Geol yang pernah menjadi simbol kebanggaan dan pemersatu generasi muda Banjarnegara kini tak lagi dipanggil untuk menari, meninggalkan pertanyaan pilu di antara langkah-langkah cilik yang kini telah tumbuh dewasa.
Menjaga Ingatan di Tengah Riuh Pesta yang Berubah
Tari Geol diciptakan pada tahun 2002 oleh tim seniman lokal Banjarnegara yang terdiri dari Untung, Mudiono, Sumiyati, Diah Murtiningsih, Puji Kristiyaning dan Maryati, tarian kreasi ini dirancang untuk menggambarkan ragam tradisi serta kekayaan budaya Banjarnegara.
Karisma Tari Geol mencapai puncaknya ketika dipentaskan massal pertama kali pada 22 Agustus 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-185 Kabupaten Banjarnegara. Pementasan perdana tersebut melibatkan 1.000 siswi sekolah dasar dari 20 kecamatan yang memenuhi alun-alun kota.
Keberhasilan pementasan massal perdana itu melahirkan tradisi baru. Pada perayaan Hari Jadi ke-186 (22 Agustus 2017) dan Hari Jadi ke-187 (22 Agustus 2018), Tari Geol kembali menjadi sajian utama dalam rangkaian kirab budaya. Namun, pementasan massal pada 22 Agustus 2018 tersebut ternyata menjadi momen terakhir Tari Geol hadir memeriahkan Hari Jadi Banjarnegara.
Seiring berjalannya waktu, arah kebijakan perayaan daerah mengalami penyesuaian. Terlebih lagi, sejak tahun 2020, tanggal peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara yang sebelumnya dirayakan setiap 22 Agustus resmi diubah menjadi 26 Februari berdasarkan Peraturan Daerah. Sejak perubahan format dan tanggal perayaan tersebut, pementasan massal Tari Geol perlahan hilang dari kalender acara tahunan daerah.
Menanti Kembali Lenggok yang Hilang
Bagi mereka yang pernah menjadi bagian dari ribuan penari cilik itu, Tari Geol bukan sekadar gerak tari biasa. Ada kebanggaan sederhana yang terpancar ketika seragam sekolah berganti pakaian adat, dan latihan berminggu-minggu di halaman sekolah akhirnya terbayar tuntas di hadapan khalayak luas. Senyum indah, peluh yang menetes, serta rasa kebersamaan yang hadir antarsiswi menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Sebagai salah satu penari geol cilik yang tampil kala itu, Argina merasakan antusiasme yang luar biasa. Pengalaman pertama terlibat dalam agenda besar se-Kabupaten Banjarnegara tersebut mendorongnya untuk berlatih bersungguh-sungguh.
“Senang dan excited sih, soalnya baru pernah ikut acara besar yang pesertanya siswa se-Banjarnegara. Jadi pas latihan mencoba yang terbaik biar pas acara bisa maksimal,” ungkap Argina.
Tak sekadar menari, keterlibatannya juga melahirkan harapan besar bagi masa depan seni lokal.
“Semoga Tari Geol bisa diadakan lagi dalam acara besar agar nilai budaya lokal tidak hilang ditelan zaman dan tetap dikenal para generasi muda,” harapnya.
Fenomena hilangnya pertunjukan Tari Geol ini bukan sekadar kehilangan pertunjukan seni, melainkan juga memutus rantai regenerasi kecintaan anak muda terhadap warisan budaya daerah. Ketika anak-anak tidak lagi diajak menari bersama di panggung utama kota mereka, ada rasa bangga akan identitas lokal yang perlahan luntur dari diri mereka.
Pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan diharapkan mampu memfasilitasi revitalisasi Tari Geol melalui pembinaan di sekolah-sekolah, baik sebagai muatan lokal wajib maupun kegiatan ekstrakurikuler seni tari. Selain itu, hadirnya wadah alternatif seperti Festival Tari Geol Tahunan atau pertunjukan berkala di ruang-ruang publik dipercaya dapat mengembalikan semangat anak-anak untuk mengenal dan mencintai identitas budaya lokal mereka.
Tari Geol Banjarnegara mungkin sedang beristirahat dari riuhnya panggung massal. Namun di benak ribuan orang yang pernah melangkah dan melenggok bersama di alun-alun kala itu, getaran musiknya masih bergema menanti saatnya dipanggil kembali untuk merayakan identitas tanah kelahiran mereka. Besar harapan agar tarian khas ini tidak sekadar menjadi catatan nostalgia di buku-buku kenangan, melainkan dihidupkan kembali lewat langkah-langkah nyata.
Penulis: Rahmah Dya Hamidah
