
PURWOKERTO, SudutNalar—Para pedagang bahan pangan di pasar tradisional menghadapi tantangan kondisi penjualan yang fluktuatif serta dinamika harga komoditas dalam beberapa waktu terakhir.
Salah seorang pedagang yang telah berjualan selama kurang lebih 15 tahun mengungkapkan bahwa barang dagangan yang paling banyak diminati masyarakat meliputi bumbu dapur, olahan tahu dan tempe, serta berbagai jenis sayuran segar. Namun, tingkat penjualan belakangan ini dinilai kurang stabil akibat beberapa faktor, seperti penurunan daya beli pada akhir bulan dan fenomena musim hajatan. Selain itu, tren konsumsi sebagian masyarakat kini mulai bergeser ke produk olahan siap saji.
Perubahan cuaca ekstrem dari musim kemarau ke musim hujan turut memengaruhi kualitas dan pasokan komoditas sayuran. Tingginya curah hujan menyebabkan sebagian hasil panen rusak sebelum sampai ke tangan pedagang.
“Kemarin sempat kemarau, lalu hujan lagi. Sayuran yang terkena air hujan jadi membusuk dan berlubang sehingga kualitasnya kurang bagus. Harganya naik, padahal barangnya tidak bagus,” ujar pedagang tersebut.
Di sisi lain, tidak semua harga komoditas mengalami kenaikan. Beberapa komoditas seperti sawi hijau justru mengalami penurunan harga yang cukup signifikan dikarenakan sedang memasuki masa panen raya di tingkat petani.

Untuk menyiasati lonjakan harga serta penurunan daya beli konsumen, sebagian pedagang memilih untuk memotong rantai distribusi dengan membeli pasokan barang dagangan secara langsung dari petani.
“Kalau saya kebanyakan dari petani langsung. Jadi harganya lebih terjangkau. Kalau ambil dari juragan untungnya sedikit, tapi kalau dari petani bisa dapat untung dua kali lipatnya,” jelasnya.
Para pedagang berharap kondisi harga pangan dan distribusi pasokan di pasar tradisional dapat segera kembali stabil. Kepastian harga diharapkan mampu memulihkan gairah belanja masyarakat serta menjaga kelangsungan usaha para pedagang kecil di pasar tradisional.
Penulis : Saskia Nova
Editor : Zulfa Nur Auliya
