
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Kenaikan harga bahan baku daging di pasaran mulai dirasakan dampaknya oleh para pelaku usaha kuliner, khususnya pedagang gulai. Penyesuaian harga jual hingga penataan strategi produksi terpaksa dilakukan demi mempertahankan kelangsungan usaha di tengah gempuran kenaikan biaya operasional. Salah satu pedagang gulai mengungkapkan bahwa perbedaan harga jenis daging menjadi tantangan tersendiri. Daging dengan campuran lemak dibanderol di kisaran harga Rp110.000, sementara daging murni mencapai Rp145.000. Kondisi ini berimbas langsung pada kebiasaan dan biaya produksi gulai. Guna menyikapi hal tersebut, pihak pengelola terpaksa menaikkan harga jual produk. Namun, penyesuaian harga dilakukan secara terukur dan tidak signifikan agar tetap ramah di kantong konsumen dari berbagai kalangan.
“Respon dari pelanggan bermacam-macam. Ada yang mengerti kenaikan harga bahan baku, namun ada juga yang mempertanyakan kenapa harga gulai sapi atau gultik dinaikkan. Kami selalu memberikan penjelasan kepada pelanggan,” ujar pemilik usaha gulai tersebut.
Meski sempat mencatatkan sedikit penurunan jumlah porsi yang terjual pascakenaikan harga, angka penurunan tersebut dinilai tidak terlalu signifikan dibanding penjualan sebelumnya. Tetapi demikian, keuntungan pedagang tetap tergerus akibat tingginya biaya bahan baku. Untuk menyiasati penurunan kualitas tanpa membebani pembeli, pedagang menerapkan strategi penggabungan (mixing) antara daging campuran lemak dan daging murni. Selain itu, porsi daging disesuaikan secara proporsional. Strategi ini diambil guna menjaga konsistensi cita rasa dan standar kualitas gulai sapi agar tetap diminati pelanggan. Meski secara umum konsumen cenderung menyukai harga yang lebih murah, pihak pengelola optimistis bahwa dengan menjaga kualitas dan memberikan pemahaman terkait kondisi pasar, kepercayaan serta loyalitas pelanggan dapat terus dipertahankan.
Penulis : Rasya Putra Agusty
Editor : Zulfa Izaz Mudasir
