
BANYUMAS, SudutNalar — Keputusan untuk menjadi mahasiswa pulang-pergi atau laju menjadi salah satu strategi efisiensi anggaran harian bagi sebagian mahasiswa. Meski harus menghadapi dinamika jarak tempuh dan kemacetan jalan raya, alokasi pengeluaran untuk BBM dinilai jauh lebih terjangkau dibandingkan beban sewa tempat tinggal.
Pengeluaran mahasiswa penglaju sangat dipengaruhi oleh jarak rumah serta kondisi rute perjalanan menuju kampus.
Bilqis, seorang mahasiswa semester 3 yang menempuh jarak sekitar 8,1 kilometer membutuhkan waktu 20-30 menit perjalanan. Dengan ritme pengisian BBM seminggu sekali sebesar Rp25 ribu, pengeluaran bensin hariannya relatif stabil di angka Rp100 ribu per bulan.
“Nggak pernah kepikiran buat sewa kos, karena jarak rumah ke kampus masih terbilang tidak terlalu jauh. Kalau ngekos biayanya justru jadi berlipat-lipat,” ujarnya.
Dengan estimasi waktu tempuh yang relatif sama kisaran 30-40 menit. Nofa, mahasiswa penglaju lain mengatakan bahwa hambatan lalu lintas berdampak langsung pada konsumsi BBM yang lebih tinggi.
Dalam seminggu Nofa mengisi bensin dua kali dengan nominal Rp20-25 ribu per pengisiann Jadi, total pengeluaran untuk bensin sekitar Rp180 ribu per bulan.
Dari sisi pengelolaan keuangan personal, kedua mahasiswa tersebut memiliki skema alokasi dana yang terpisah antara uang saku harian dan operasional kendaraan. Uang saku harian berkisar antara Rp75-150 ribu per minggu untuk lima hari kuliah.
Sementara itu, komponen biaya transportasi seperti BBM serta perawatan rutin kendaraan berada di luar anggaran uang saku harian karena mendapatkan alokasi khusus atau ditanggung langsung oleh orang tua.
Manajemen waktu dan porsi pengeluaran makan saat jeda jam perkuliahan juga menjadi variabel penting dalam menekan pengeluaran tak terduga.
Untuk jeda kuliah berdurasi panjang, kedua narasumber sepakat memanfaatkan kos teman seangkatan sebagai tempat singgah agar tidak perlu mengeluarkan biaya sewa atau nongkrong di tempat mahal.
Mengenai konsumsi harian, Nofa terkadang membawa bekal makan dari rumah untuk menghemat pengeluaran. Kalau tidak sempat barulah ia membeli makanan di sekitar kampus.
“Kalau jeda matkul lama, biasanya ke kos teman. Kalau bawa makan dari rumah ya dimakan di sana, tapi kalau tidak bawa bekal biasanya beli makan dengan harga sekitar Rp8 ribu sampai Rp20 ribu,” jelas narasumber kedua.
Kombinasi antara membawa bekal dan menumpang di kos teman terbukti ampuh menjadi siasat efisiensi bagi mahasiswa penglaju mengelola uang saku harian mereka.
Jika dibandingkan langsung, bagi mahasiswa dengan estimasi waktu tempuh perjalanan sekitar 20-45 menit, menjadi mahasiswa penglaju terbukti lebih hemat pengeluaran.
Di Purwokerto, sewa kos termurah berkisar Rp400-500 ribu per bulan dan seringkali belum termasuk biaya listrik, makan, dan lainnya. Jika ditotal secara keseluruhan, biaya bulanan ketika sewa kos bisa mencapai Rp500 ribu sampai Rp1 juta.
Sebaliknya, total pengeluaran mahasiswa penglaju untuk uang saku dan pembelian bensin masih di bawah anak kos. Biaya yang di keluarkan kisaran Rp175-330 ribu per bulan sedangkan untuk makan harian dapat masuk ke anggaran rumah tangga.
Meski harus menempuh perjalanan yang jauh, mahasiswa penglaju terbukti lebih hemat biaya.
Penulis : Zula Kamila Oktafiani
Editor : Restina Diniati Cantika
