
BANYUMAS, SudutNalar – Denyut ekonomi di sekitar area kampus tidak pernah lepas dari peran para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Potensi pasar yang besar di kawasan ini menjadi alasan utama seorang pedagang leker memilih berjualan di sekitar kampus sejak awal tahun 2024. Namun, mengandalkan mahasiswa sebagai pelanggan utama menuntut fleksibilitas tinggi, terutama saat menghadapi kenaikan harga bahan baku dan tingginya angka libur semester.
Untuk meraih keuntungan maksimal, pedagang leker ini memanfaatkan dua waktu ramai ketika aktivitas mahasiswa sedang tinggi-tingginya. Jam ramai pembeli biasanya melonjak pada siang hari pukul 11.00–12.00 WIB serta sore hari pukul 15.00–18.00 WIB. Dari sekian banyak pilihan rasa, paduan pisang dan cokelat menjadi menu yang paling dicari oleh pelanggan.
Pada hari-hari biasa, adonan yang disiapkan bisa mencapai 5 sampai 6 kilogram per hari. Dengan perkiraan satu kilogram adonan dapat menghasilkan sekitar 70 pcs leker, puluhan hingga ratusan porsi pun selalu ludes terjual setiap harinya.
Meski begitu, perjalanan usaha kuliner ini tidak selalu mulus. Tekanan mulai terasa saat harga bahan baku pokok, terutama tepung, perlahan naik. Menghadapi situasi ini, pemilik memilih strategi dengan tetap mempertahankan harga jual agar tetap pas di kantong mahasiswa, tetapi mengatasinya dengan sedikit mengurangi topping.
“Sempat ada kenaikan harga bahan baku dan sampai sekarang masih tinggi. Namun, harga jual leker tetap kami samakan seperti biasa. Paling porsinya saja yang sedikit kami kurangi,” ujar pemilik usaha leker tersebut.
Tantangan tidak berhenti di situ. Masa libur semester menjadi ujian berat bagi pendapatannya karena sebagian besar mahasiswa pulang ke kampung halaman. Agar usahanya tetap berjalan, ia memilih untuk tidak tutup, melainkan mengalihkan sasaran pembelinya ke masyarakat umum di luar lingkungan kampus. Jumlah adonan pun dikurangi drastis menjadi 1,5 hingga 2 kilogram saja per hari untuk menekan risiko rugi.
“Kalau libur semester, pembeli dari kalangan mahasiswa memang sedikit sekali. Pembeli kami dominan berasal dari masyarakat luar kampus. Oleh karena itu, jumlah adonan pasti kami kurangi,” tambahnya.
Di tengah ketatnya persaingan kuliner dan kendala cuaca hujan di area outdoor, kunci bertahan bisnis ini terletak pada pelayanan yang ramah, kenyamanan, serta kualitas produk. Berbeda dengan leker pada umumnya, ia berani memberikan isian pisang yang lebih banyak dengan standar pisang manis, matang sempurna, dan tanpa biji.
Keberadaan kampus terbukti menjadi penopang utama pendapatan usahanya. Sang pemilik sangat berharap bisnis leker yang dijalaninya dapat terus berkembang hingga mampu membuka lapangan kerja dan menjadi sumber rezeki bagi orang lain.
Penulis: Septia Berliana
Editor: Yuliyastin Gebi Saputri
