
BANYUMAS, SudutNalar-Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi usaha makanan rumahan meningkat. Kondisi ini juga dirasakan Anna, pemilik usaha Anna Snack. Usaha tersebut melayani pesanan snack box dan hantaran. Untuk menjaga usahanya tetap berjalan, ia menyesuaikan harga jual dan pilihan jajanan dengan anggaran pelanggan.
Salah satu bahan yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah tepung beras ketan. Anna menyebut harga yang semula sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000, kini mencapai Rp18.000/500 gram.
Bahan lain juga ikut naik. Harga kacang tanah yang semula Rp32.000 menjadi Rp45.000/kilogram. Selain itu, harga minyak goreng juga naik dari Rp15.000 menjadi Rp20.000/liter.
Bahan baku tersebut digunakan untuk mengolah menu jajanan yang paling sering dipesan pelanggan seperti menu bugis mandi dan mochi isi kacang. Kenaikan harga turut menambah biaya produksi jajanan.
“Kalau harga bahan naik, otomatis biaya produksi juga ikut naik. Keuntungan jadi lebih tipis,” ujar Anna.
Kenaikan biaya membuat Anna perlu cermat dalam menghitung kembali harga jual. Seperti harga bugis mandi yang sebelumnya Rp1.500 kini menjadi Rp2.000/buah. Penentuan harga dilakukan dengan menghitung biaya bahan baku dan kebutuhan produksi lainnya. Biaya tersebut meliputi gas, kemasan, dan tenaga kerja.
Meski harga bahan meningkat, Anna tetap berusaha menyesuaikan pesanan dengan kemampuan pelanggan. Pembeli dapat memilih jenis dan jumlah jajanan sesuai anggaran. Jika pelanggan menginginkan menu tertentu dalam satu box snack dengan dana terbatas, Anna akan memadukannya dengan jajanan lain yang lebih ekonomis.
“Pembeli boleh memilih jenis snack yang diinginkan sesuai anggaran yang dimiliki,” jelasnya.
Selain menyesuaikan menu, Anna juga mencari cara untuk mengendalikan biaya produksi. Ia membandingkan harga bahan baku di beberapa toko agar mendapat harga yang lebih murah dengan kualitas yang sama.
“Kadang beda toko itu beda harga. Ada yang menjual bahan baku lebih murah, tetapi merek dan kualitasnya sama,” ujarnya.
Anna juga memperkirakan kebutuhan bahan berdasarkan hasil produksi sebelumnya. Ia mencatat jumlah bahan yang digunakan dan banyaknya produk yang dihasilkan. Cara ini menjadi patokan saat membuat pesanan serupa agar penggunaan bahan lebih terukur.
“Misalnya mau membuat kue. Jumlah bahan baku yang dipakai disesuaikan dengan berapa potong kue yang dihasilkan. Itu dijadikan patokan kalau mau membuat kue yang sama lagi,” jelasnya.
Di tengah kenaikan biaya dan persaingan usaha, Anna menilai kualitas produk tetap menjadi hal yang perlu dipertahankan. Selain menjaga kualitas, ia juga berupaya menambah variasi dan mempelajari menu baru berdasarkan permintaan pelanggan. Menurutnya, keterbukaan terhadap permintaan pelanggan menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Penulis: Restina Diniati Cantika
Editor: Yulia Avriani
