Sudutnalar.com, 29 September 2026

PURWOKERTO, SudutNalar — Kenaikan harga sejumlah bahan pokok turut dirasakan oleh pelaku usaha kecil, salah satunya warung Muladi yang sudah berdiri sejak tahun 1995. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, kondisi usaha cenderung tidak stabil akibat penurunan jumlah pembeli sejak pandemi Covid-19.
Muladi mengatakan kondisi tersebut membuatnya harus lebih menyesuaikan pengelolaan warung. Meski begitu, ia tetap berusaha mempertahankan usahanya tanpa mengambil pinjaman. “Yang penting kualitas makanan tetap dijaga,” ujar Muladi.
Sementara itu, Kusmianti, istri Muladi yang sehari-hari berbelanja bahan untuk kebutuhan warung, mengatakan bahwa harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan. Cabai, bawang merah, dan bawang putih menjadi bahan yang paling terasa kenaikannya, sedangkan harga sayuran masih relatif stabil. Harga telur juga cenderung berubah-ubah dan saat ini kisaran Rp24.000 per kilogram.
Menurut Kusmianti, kenaikan harga beras dan minyak goreng cukup memengaruhi pengeluaran warung. Harga beras yang sebelumnya sekitar Rp12.000–Rp13.000 per kilogram kini mencapai Rp15.000–Rp16.000. Sementara minyak goreng yang sebelumnya sekitar Rp17.000 per kilogram naik menjadi Rp21.000 per kilogram. “Kenaikannya lumayan tinggi, terutama beras dan minyak, jadi cukup berpengaruh ke usaha,” ujarnya.
Untuk menyiasati kenaikan biaya bahan pokok, Muladi memilih tidak menaikkan harga makanan. Penyesuaian dilakukan dengan sedikit mengurangi porsi agar harga tetap terjangkau oleh pelanggan. Saat ini, nasi rames dengan sayur dijual Rp6.000–Rp7.000 per porsi, mendoan Rp1.000, pisang goreng Rp1.500, nasi telur Rp10.000, nasi ayam Rp12.000, dan berbagai minuman Rp3.000.

“Kalau harga dinaikkan, kasihan pelanggan. Jadi harganya tetap, tetapi porsinya mungkin sedikit dikurangi,” tutur Muladi. Kebijakan tersebut menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mempertahankan pelanggan di tengah meningkatnya biaya operasional.
Kenaikan harga bahan pokok turut menyebabkan pendapatan usaha mengalami penurunan sekitar 20 persen. Meski demikian, Muladi tetap memilih menjaga kualitas makanan tanpa menambah beban usaha melalui pinjaman. Ia juga menilai variasi menu penting agar warung tetap memiliki pilihan bagi pelanggan.
Menurut Muladi, keberagaman menu juga menjadi salah satu cara agar UMKM seperti warung makan dapat terus bertahan dan menarik pelanggan. Ia berharap pemerintah turut memperhatikan kestabilan harga bahan pokok sehingga pelaku usaha kecil tidak terlalu terbebani ketika terjadi perubahan harga di pasaran. “Menu juga harus variatif. Selain itu, pemerintah diharapkan bisa menjaga kualitas dan kestabilan harga bahan pokok,” ujarnya.
Setelah lebih dari tiga dekade berdiri, Warung Muladi masih terus berjalan meski harus menghadapi perubahan harga bahan pokok dan jumlah pelanggan yang tidak selalu stabil. Bagi Muladi dan Kusmianti, mempertahankan usaha bukan hanya soal menjaga harga tetap terjangkau, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas makanan dan kepercayaan pelanggan di tengah keadaan yang terus berubah.
