SudutNalar, 29 September 2026

(Foto: dokumentasi Khalisa Anti Meilani)
BANYUMAS, SudutNalar – Jumlah cucian di Damar Laundry melonjak hingga 40 kg per hari saat mahasiswa baru berdatangan, tetapi anjlok menjadi 5–10 kg per hari ketika libur semester.
Usaha rumahan milik Wati di Grendeng itu menerima 20–40 kg cucian per hari ketika awal tahun akademik. Dengan tarif cuci-setrika Rp5.000 per kg, pendapatan kotornya mencapai Rp100.000–Rp200.000 per hari. Dalam kondisi biasa, cucian yang masuk sekitar 20–30 kg per hari dengan omzet sekitar Rp2,5 juta per bulan.
Kondisi berbalik saat libur semester. Pesanan hanya 5–10 kg per hari sehingga pendapatan kotor harian turun menjadi Rp25.000–Rp50.000. Pada saat itu, Wati tetap membuka usahanya dan hanya mengandalkan pelanggan umum di sekitar rumah.
Listrik menjadi pengeluaran terbesar karena Wati masih menggunakan setrika listrik. Dalam kondisi biasa, tagihan listrik rumah dan usaha mencapai Rp300.000–Rp350.000 per bulan, atau sekitar 10–12 persen dari omzet. Saat pesanan sepi, tagihan diperkirakan turun 30 persen menjadi sekitar Rp150.000–Rp200.000 per bulan.
Selain listrik, kenaikan harga air dan deterjen juga memengaruhi biaya operasional. “Kalau mau dinaikkan, kasihan” ujarnya. Meski begitu, ia memilih tidak menaikkan tarif agar tidak memberatkan pelanggannya.
Selain cuci dan setrika, Damar Laundry melayani jasa setrika saja seharga Rp3.000 per kg. Layanan exspress dikenai tambahan Rp2.000 per kg, sedangkan pesanan yang selesai dalam dua atau tiga hari memiliki tarif yang sama. Selimut dan bed cover dihitung berdasarkan berat, bukan per potong. Layanan antar-jemput gratis untuk area dalam radius 2 km.
Wati mengelola usahanya sendiri tanpa karyawan sehingga tidak ada beban gaji. Promosi dilakukan dari mulut ke mulut karena mahasiswa kerap merekomendasikan Damar Laundry. Ia menganggap persaingan dengan usaha laundry lain sebagai hal biasa. Soal keuntungan, ia mengaku merasa cukup. “Ya untunglah, sedikit-sedikit. Daripada nganggur,” ujarnya.
Wati belum berencana membuka toko atau cabang baru karena membutuhkan biaya tambahan. Namun, ia menilai usaha laundry di kawasan kampus masih menjanjikan dan berharap Damar Laundry semakin dikenal.
Penulis : Khalisa Anti Meilani
Editor : Nesa Aprillia
