Sudutnalar.com, 28 September 2026

BANYUMAS, SudutNalar — Bisnis pakaian bekas impor atau thrifting skala mikro di Purwokerto terus menunjukkan potensi perputaran uang yang tinggi. Meskipun menghadapi tantangan berupa kenaikan harga modal dari distributor, pelaku usaha mampu membukukan pendapatan kotor hingga Rp10 juta per bulan.
Salah satu pelaku usaha thrifting berbasis daring di Purwokerto, Neynala, mengungkapkan bahwa bisnis yang ia rintis bersama adiknya sejak Maret 2026 mampu menjual minimal 1.000 potong pakaian per bulan. Jumlah tersebut dapat meningkat saat membuka layanan jasa titip (jastip) atau penjualan paket bergelombang (batch).
“Dalam sebulan rata-rata terjual 1.000 potong pakaian. Kalau sedang ada batch atau jastip, penjualannya bisa lebih dari itu. Untuk omzet kotor, kami biasanya mendapat kisaran Rp7 juta hingga Rp10 juta per bulan,” ujar Neynala.
Pakaian yang dijual dibanderol dengan kisaran harga yang sangat terjangkau, yaitu mulai dari Rp5.000 hingga Rp50.000 per potong, dengan rerata penjualan di angka Rp15.000 hingga Rp25.000. Harga yang ramah kantong ini menarik minat berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga sesama penjual thrift.
Puncak penjualan biasanya terjadi pada momen setelah tanggal gajian. Terkait pasokan barang, Ney mengombinasikan pembelian bal (supplier) dengan teknik perburuan barang langsung secara luring (thrift offline). Meski demikian, pengetatan kebijakan impor pakaian bekas berdampak pada kelangkaan barang dan kenaikan harga modal dari tingkat distributor.
“Memang ada kenaikan harga modal dari supplier sekitar Rp2.000 sampai Rp3.000 per potong, dan dapat barangnya juga jadi lebih sulit. Namun, untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah persaingan yang makin ketat, kuncinya adalah konsisten menyediakan barang yang sesuai tren konsumen dengan harga yang tetap murah,” tutur Neynala.
Penulis : Firliana Saraswati Prasetyoningrum
Editor : Prajnya Aulia Patria Legawa
