Penulis: Aniqotul Lutfiyah | Editor: Amalinda

BANYUMAS, SudutNalar — Investasi emas sering dianggap memerlukan modal besar. Padahal, masyarakat berpenghasilan terbatas pun dapat mulai berinvestasi emas asalkan memiliki rencana dan menyesuaikannya dengan kemampuan keuangan.
Emas merupakan salah satu instrumen investasi populer. Selain dalam bentuk fisik, kini tersedia berbagai produk investasi berbasis emas.
Salah satu perkembangan terbaru adalah peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) Emas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Agustus 2026. Hingga 31 Agustus 2026, tercatat tujuh produk ETF Emas dengan total dana kelolaan Rp90,39 miliar.
Keragaman pilihan tersebut menuntut pemahaman lebih baik, terutama bagi pemula, agar keputusan investasi tidak hanya mengikuti tren.
Tak Perlu Menunggu Kaya
Investasi tidak harus dimulai setelah berpenghasilan besar. Sebagian pendapatan dapat disisihkan secara rutin selama kebutuhan pokok tetap terpenuhi.
Andy Pratama (24), staf layanan di sebuah kantor Pegadaian di Purwokerto, mengatakan banyak masyarakat mulai tertarik pada emas setelah mengetahui pergerakan harganya. Namun, ia mengingatkan pemula agar tidak terburu-buru membeli hanya karena harga sedang naik.
“Kalau baru mulai, jangan langsung ikut-ikutan karena melihat harga naik. Lebih baik tentukan dulu tujuan investasinya dan sesuaikan dengan kemampuan,” ujar Andy.
Ia mengaku mulai menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli emas secara bertahap.
“Saya tidak langsung membeli dalam jumlah besar. Saya sisihkan sedikit dari penghasilan setiap bulan supaya tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Menurutnya, cara tersebut lebih realistis bagi pekerja muda yang baru mulai mengenal investasi.
Pahami Harga Beli dan Buyback
Selain menentukan jumlah dana yang akan diinvestasikan, pemula perlu memahami perbedaan antara harga beli dan harga jual kembali (buyback).
Harga beli adalah jumlah uang yang dikeluarkan saat membeli emas, sedangkan buyback adalah harga saat emas dijual kembali. Selisih keduanya perlu diperhitungkan karena kenaikan harga emas tidak otomatis berarti keuntungan yang sama besar bagi investor.
Andy mengatakan, hal tersebut masih sering luput dari perhatian orang yang baru mulai berinvestasi.
“Kadang orang melihat harga emas naik, lalu menganggap kalau dijual pasti langsung untung. Padahal, ada perbedaan antara harga beli dan harga buyback yang perlu diperhatikan,” kata Andy.
Menurutnya, calon investor sebaiknya memahami kedua harga tersebut sebelum membeli. Dengan begitu, investor dapat memiliki gambaran mengenai kapan aset akan digunakan atau dijual kembali.
“Kalau tujuannya untuk jangka panjang, jangan terlalu fokus melihat harga setiap hari. Yang penting tahu berapa modal yang dikeluarkan dan untuk apa emas itu disimpan,” ujarnya.
Jangan Asal Memilih
Perkembangan teknologi membuat investasi emas semakin mudah diakses. Masyarakat kini dapat menemukan berbagai pilihan, mulai dari emas fisik, produk digital, dan instrumen pasar modal.
Namun, kemudahan itu harus disertai kehati-hatian. Calon investor perlu memahami produk, biaya transaksi, mekanisme jual beli, serta legalitas penyelenggara sebelum membeli.
Bagi pemula, pemahaman produk penting agar investasi tidak dilakukan hanya karena tren atau ajakan orang lain.
Tips Memulai Investasi Emas
- Tentukan tujuan investasi, misalnya untuk pendidikan, rumah, atau kebutuhan masa depan.
- Mulai sesuai kemampuan, tidak perlu memaksakan diri membeli dalam jumlah besar.
- Sisihkan dana secara rutin, konsistensi membantu membangun kebiasaan investasi.
- Pahami harga buyback, jangan hanya melihat harga saat membeli.
- Periksa legalitas. Pastikan produk dan penyelenggara investasi dapat dipercaya.
Pada akhirnya, investasi emas bukan sekadar tentang memiliki aset sebanyak-banyaknya. Bagi pemula, yang lebih penting adalah memiliki rencana, memahami produk, dan menyisihkan dana sesuai kemampuan.
Untuk mulai berinvestasi, seseorang tidak harus menunggu kaya. Yang dibutuhkan adalah rencana yang realistis dan konsistensi dalam menjalankannya.
