
Image: Google Search
BANYUMAS, SUDUT NALAR — Retakan kecil pada bangunan dan jalan sering kali menjadi awal dari kerusakan struktur yang parah. Saat air merembes masuk, korosi pada besi tak terelakkan. Namun, inovasi teknologi bahan bangunan melahirkan Self-Healing Concrete (beton yang dapat memulihkan diri secara mandiri) dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme bakteri.
Teknologi yang dipelopori oleh peneliti TU Delft sejak 2006 ini sangat berpotensi diterapkan pada struktur yang sulit dijangkau atau sering terpapar air, seperti bendungan, terowongan, fondasi basement, hingga bangunan laut. Di Indonesia yang beriklim tropis dan lembap, siklus basah-kering justru menjadi dorongan optimal bagi kinerja bakteri tersebut.
Agar mengenal lebih dalam, dilakukan wawancara bersama Jevon Alana Hirzi, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) angkatan 2023. Bahwa teknologi ini bekerja dengan mencampurkan spora bakteri dari genus Bacillus (seperti B. pseudofirmus) atau Sporosarcina pasteurii bersama nutrisi kalsium laktat langsung ke dalam adonan beton saat proses pengecoran.
“Bakteri ini dipilih karena mampu membentuk spora tahan kondisi ekstrem, bertahan di lingkungan basa beton (pH 12–13), dan dapat kembali ‘bangun’ ketika retakan muncul,” ungkap Jevon.
Saat struktur beton mengalami retak mikro (di bawah 0,8 mm) akibat getaran atau beban, air dan oksigen akan masuk dan merusak kapsul spora. Kelembapan ini membangunkan bakteri untuk memetabolisme kalsium laktat hingga menghasilkan endapan kalsium karbonat (CaCO3) atau kalsit. Endapan menyerupai kristal kapur inilah yang secara alami menyegel celah retakan dalam rentang waktu beberapa hari hingga beberapa minggu.
Meski tidak memulihkan estetika secara sempurna dan menyisakan bekas garis putih, fungsi utamanya adalah menyegel jalur masuk air dan senyawa klorida. Dampaknya, umur layanan
bangunan menjadi jauh lebih panjang serta menekan biaya perawatan jangka panjang secara signifikan.
Secara ekologis, inovasi ini membantu mengurangi jejak karbon industri semen penyumbang 7–8 persen emisi CO2 global secara tidak langsung dengan menekan frekuensi pembongkaran dan pembangunan ulang struktur.
Kendati demikian, Jevon menilai teknologi ini masih menjadi opsi khusus untuk struktur kritis dibandingkan standar universal dalam 10–15 tahun ke depan. Faktor biaya produksi dan belum tersedianya Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi tantangan tersendiri dalam adopsi massal teknologi smart material ini.
Oleh: Nazzila Juny Month
Editor: Azalia Nur Azizah Azmi
