
PURWOKERTO, SUDUTNALAR — Akreditasi kerap menjadi salah satu pertimbangan utama masyarakat dalam memilih sekolah bagi anak-anak mereka. Status tersebut memberikan gambaran awal mengenai mutu dan pemenuhan standar pendidikan suatu lembaga. Namun, apakah akreditasi cukup untuk menggambarkan keseluruhan pengalaman belajar yang akan diperoleh murid? Pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika melihat upaya pembenahan yang tengah dilakukan SMA Muhammadiyah Sokaraja, Kabupaten Banyumas.
Sekolah yang berdiri sejak era 1980-an tersebut pernah mengalami masa sulit akibat persoalan tata kelola administrasi dan kedisiplinan. Kondisi itu berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat, bahkan membuat sekolah sempat mengalami krisis jumlah murid. Kini, SMA Muhammadiyah Sokaraja berupaya memperbaiki pengelolaan sekaligus membangun kembali kepercayaan publik yang sempat pudar.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Muhammadiyah Sokaraja, Diyah, menjelaskan bahwa persoalan pada masa lalu tidak terlepas dari administrasi yang kurang tertata dan kedisiplinan yang perlu dibenahi. Sekitar 70 persen data sekolah bahkan sempat hilang, yang kemudian memengaruhi pandangan masyarakat.
“Dulu pandangan masyarakat sempat rontok. Bahkan ada relasi guru SMP yang enggan merekomendasikan muridnya ke sini karena kondisi sekolah yang tidak teratur saat itu. Hal itulah yang kini kami benahi dari akarnya,” ujar Diyah saat wawancara.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kepercayaan terhadap lembaga pendidikan tidak terbentuk hanya melalui status formal. Tata kelola sekolah, kualitas pelayanan kepada murid, serta komunikasi terbuka dengan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun reputasi.
Pembenahan Tata Kelola dan Pelayanan Pendidikan
Dalam upaya memperbaiki kondisi tersebut, SMA Muhammadiyah Sokaraja melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari penataan administrasi, penegakan kedisiplinan guru dan murid, perbaikan manajemen waktu, hingga penguatan promosi digital. Langkah-langkah ini dilakukan untuk merapikan pengelolaan internal sekaligus memperkenalkan kembali wajah baru sekolah kepada masyarakat.
Di sisi lain, sekolah masih menghadapi keterbatasan fasilitas fisik. Diyah menyebut belum tersedianya laboratorium, perpustakaan yang memadai, dan ruang guru yang mandiri sebagai tantangan utama yang tengah dihadapi.
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan bahwa keterbatasan sarana tidak menghalangi komitmen untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna.
“Di mata masyarakat, akreditasi B sering dipandang sebelah mata karena kendala fasilitas fisik pendukung. Tapi kami tidak menyerah. Kami fokus memberikan pelayanan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan murid dan mengutamakan pendampingan personal,” tegas Diyah.
Bagi sekolah, murid tidak hanya membutuhkan ruang kelas dan fasilitas fisik, tetapi juga perhatian terhadap perkembangan karakter serta rasa aman selama menuntut ilmu. Pendekatan ini menjadi poin penting dalam menilai sebuah lembaga pendidikan: fasilitas merupakan sarana pendukung, tetapi pengalaman murid dalam proses pembelajaran adalah esensi utamanya.
Kepercayaan yang Berusaha Dibangun Kembali
Upaya pembenahan SMA Muhammadiyah Sokaraja mulai menunjukkan dampak positif pada peningkatan kuantitas murid baru. Berdasarkan keterangan Diyah, sekolah yang sebelumnya hanya mampu menjaring satu rombongan belajar (rombel) kini berhasil menerima murid untuk dua rombel pada tahun ajaran berjalan.
Peningkatan jumlah murid tersebut menjadi salah satu bukti awal dari proses pemulihan kepercayaan masyarakat. Perkembangan positif ini tentu perlu dijaga bersama indikator lain, seperti keberlanjutan pembenahan administrasi, kualitas pembelajaran di kelas, serta kepuasan orang tua terhadap pelayanan sekolah.
Saat ini, SMA Muhammadiyah Sokaraja juga terus berupaya melengkapi fasilitas fisik secara bertahap melalui bantuan revitalisasi gedung dari pemerintah demi mendukung proses pembelajaran.
Perjalanan SMA Muhammadiyah Sokaraja menegaskan bahwa reputasi sekolah dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan persepsi publik. Namun, perubahan nyata yang konsisten selalu memiliki ruang untuk mengubah persepsi tersebut. Akreditasi tetap menjadi informasi penting, tetapi bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai seluruh kualitas pengalaman belajar seorang murid. Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat akan terbangun secara berkelanjutan lewat pelayanan pendidikan yang tulus dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penulis: Ardia Herdika Chandra
Editor: Bakhrie Muhammad Noor
